Jemarionline.com, Nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pekan depan. Mata uang Garuda bahkan berpotensi menembus level Rp17.100 per dolar AS.
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Indeks dolar yang terus naik membuat mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, berada dalam tekanan besar di pasar global.
Krisis Energi Global Jadi Pemicu Utama
Krisis energi global turut memperparah kondisi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyebabkan gangguan pasokan minyak dunia.
Penurunan produksi minyak dalam jumlah besar membuat harga energi melonjak. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global yang berdampak luas ke berbagai sektor ekonomi.
Geopolitik dan Gangguan Pasokan Energi
Selain Timur Tengah, gangguan juga terjadi di kawasan lain seperti Rusia. Serangan terhadap fasilitas energi memperburuk ketidakstabilan pasokan global.
Akibatnya, harga minyak mentah terus meningkat dan memperbesar tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Investor Beralih ke Aset Aman
Dalam kondisi ketidakpastian global, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.
Perpindahan ini membuat mata uang negara berkembang mengalami pelemahan, termasuk rupiah yang sebelumnya sudah sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS.
Kebijakan AS Ikut Mempengaruhi
Arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor penting. Ekspektasi suku bunga dan keputusan bank sentral AS memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Jika kebijakan cenderung ketat, maka tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar.
Rupiah Masih Berpotensi Volatil
Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dalam waktu dekat.
Selama kondisi global belum stabil, risiko pelemahan rupiah tetap terbuka, termasuk kemungkinan menembus level Rp17.100 per dolar AS.









