Harga Emas Dunia Sentuh Level Terendah 11 Minggu, Ini Penyebabnya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: © Reuters.

Foto: © Reuters.

Jakarta, Jemarionline.com – Harga emas dunia mengalami tekanan dan sempat menyentuh level terendah dalam 11 minggu pada perdagangan terbaru.

Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama menyusul kuatnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut membuat investor mengurangi minat terhadap emas dan beralih ke aset lain yang dinilai lebih menguntungkan dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Meski sempat melemah tajam, harga emas kemudian menunjukkan pemulihan terbatas setelah sebagian investor melakukan aksi beli pada level yang lebih rendah.

Data Tenaga Kerja AS Tekan Harga Emas

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan pasar.

Data terbaru menunjukkan ekonomi AS menambah sekitar 172.000 lapangan kerja pada Mei. Angka tersebut melampaui ekspektasi analis dan memperkuat keyakinan bahwa perekonomian AS masih cukup kuat.

Karena itu, pelaku pasar mulai memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan.

Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.

Baca Juga :  Rupiah Terperosok ke Level Rp 17.127, Efek Eskalasi Global dan Lemahnya Fundamental

Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung memilih instrumen investasi yang menawarkan keuntungan lebih tinggi. Akibatnya, permintaan terhadap emas sering mengalami penurunan.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkatkan tekanan terhadap harga logam mulia tersebut.

Karena itu, setiap perubahan ekspektasi kebijakan The Fed biasanya memberikan dampak langsung terhadap pergerakan harga emas global.

Harga Minyak Memicu Kekhawatiran Inflasi

Faktor lain yang ikut memengaruhi pasar adalah kenaikan harga minyak dunia.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga energi meningkat tajam. Kenaikan harga minyak memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi global dapat kembali naik dalam beberapa bulan mendatang.

Jika inflasi meningkat, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Karena itu, pasar menilai kondisi tersebut kurang menguntungkan bagi emas dalam jangka pendek.

Pergerakan dolar AS juga ikut menekan harga emas.

Setelah data ekonomi AS menunjukkan hasil yang positif, indeks dolar menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS.

Akibatnya, permintaan global terhadap emas cenderung melemah.

Baca Juga :  Dolar AS Tembus Rp 18.000, Pemerintah Yakin Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat

Karena itu, hubungan antara dolar AS dan harga emas masih menjadi salah satu indikator penting yang terus dipantau investor.

Investor Tunggu Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat yang akan segera dirilis.

Data tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.

Jika inflasi tetap tinggi, peluang suku bunga bertahan pada level tinggi akan semakin besar. Sebaliknya, inflasi yang melambat dapat membuka ruang bagi kebijakan yang lebih longgar.

Karena itu, pasar emas kemungkinan masih menghadapi volatilitas dalam waktu dekat.

Meski menghadapi tekanan jangka pendek, sejumlah analis masih melihat emas sebagai aset lindung nilai yang penting.

Ketidakpastian geopolitik, risiko perlambatan ekonomi global, serta potensi perubahan kebijakan bank sentral tetap dapat mendukung harga emas dalam jangka panjang.

Selain itu, banyak investor masih memanfaatkan emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio ketika pasar keuangan mengalami gejolak.

Karena itu, arah pergerakan harga emas selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, kebijakan The Fed, dan kondisi geopolitik global. (man)

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Prabowo Dijadwalkan Resmikan Biodiesel B50 pada 9 Juli, Pemerintah Percepat Transisi Energi
Tarif Listrik Juli-September 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Penjelasannya
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:00 WIB

Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan

Berita Terbaru

Sumber : Arianti Widya/Viva.co.id

OTOMOTIF

Jelang GIIAS 2026, Harga Mobil MPV Mulai Rp167 Jutaan

Senin, 27 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teknologi

Apple TV 2026: Jadwal Rilis, Rumor, dan Spesifikasi Terbaru

Senin, 27 Jul 2026 - 07:00 WIB