IHSG Terkoreksi 1,27%, Saham BREN dan DSSA Jadi Pemberat Usai Tekanan MSCI

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 23 April 2026 - 17:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Poto : CNBC Indonesia)

(Poto : CNBC Indonesia)

Jakarta, jemarionline.comIHSG melemah pada perdagangan sesi pertama Kamis (23/4/2026). Indeks turun 95,64 poin atau 1,27% dan berakhir di level 7.445,97. Bursa mencatat 471 saham melemah, 236 saham menguat, dan 252 saham bergerak datar. Investor membukukan nilai transaksi sebesar Rp11,67 triliun dengan volume 31,09 miliar saham melalui 1,88 juta transaksi. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp13.269 triliun.

Tekanan terbesar IHSG datang dari saham-saham grup konglomerasi Prajogo Pangestu. Investor melepas saham BREN setelah harganya jatuh 8,52%. Penurunan ini memberikan tekanan terbesar pada indeks dengan kontribusi negatif 16,97 poin.

Baca Juga :  5 Berita Internasional Terpopuler Hari Ini, Dari Iran hingga Klaim Trump

Saham DSSA juga melemah 4,38% dan menambah tekanan terhadap IHSG sebesar 9,7 poin. Selain itu, saham AMMN, BRMS, dan BYAN ikut turun dan memperburuk kinerja indeks.

MSCI mengumumkan kebijakan yang memasukkan sejumlah saham ke dalam daftar High Shareholder Concentration (HSC) yang diterbitkan BEI dan KSEI. MSCI menempatkan BREN dan DSSA dalam daftar tersebut, sehingga investor asing langsung merespons dengan aksi jual besar.

Investor asing melakukan penjualan masif pada saham-saham tersebut. Pelaku pasar memperkirakan rencana penghapusan emiten HSC pada Mei mendatang akan memicu arus keluar dana pasif hingga sekitar Rp25,5 triliun.

Baca Juga :  Voting DK PBB soal Selat Hormuz Ditunda Hingga Besok

Di pasar energi global, harga minyak bergerak naik. Harga minyak Brent naik ke US$103,93 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$95,05 per barel.

Harga minyak naik karena ketegangan geopolitik di Selat Hormuz semakin meningkat. Pelaku pasar kemudian menilai risiko gangguan pasokan energi global semakin besar dan memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak.(m*n)

Berita Terkait

Harga Minyak Dunia Naik 16% Sepekan! Nasib Selat Hormuz Bisa Picu Guncangan Baru
Kenaikan Gaji PNS dan Pensiunan 2026 Segera Naik? Aturan Disebut Sudah Diteken Prabowo, Ini Faktanya
Dividen BBRI 2026 Rp52,1 Triliun, Likuiditas Tetap Kuat
Polandia Borong Emas Saat Dunia Cemas, Rusia Justru Jual Cadangan, Ada Apa?
Eks Karyawan Sritex Desak Percepatan Lelang Aset untuk Bayar Pesangon dan THR
LPG Nonsubsidi Naik, Penemuan Gas Raksasa di Kaltim Jadi Sorotan Sektor Energi
Hasil Pengeboran 4 Bulan Ungkap Potensi Emas Besar di Kolokoa Gorontalo
BNI Kembalikan Dana Nasabah Rp28 Miliar, Kasus Aek Nabara Jadi Sorotan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 11:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik 16% Sepekan! Nasib Selat Hormuz Bisa Picu Guncangan Baru

Jumat, 24 April 2026 - 15:00 WIB

Dividen BBRI 2026 Rp52,1 Triliun, Likuiditas Tetap Kuat

Kamis, 23 April 2026 - 22:00 WIB

Polandia Borong Emas Saat Dunia Cemas, Rusia Justru Jual Cadangan, Ada Apa?

Kamis, 23 April 2026 - 17:24 WIB

IHSG Terkoreksi 1,27%, Saham BREN dan DSSA Jadi Pemberat Usai Tekanan MSCI

Rabu, 22 April 2026 - 07:44 WIB

Eks Karyawan Sritex Desak Percepatan Lelang Aset untuk Bayar Pesangon dan THR

Berita Terbaru

Foto: Gizchina.com

Teknologi

Infinix GT 50 Pro Dijuluki Giant Slayer, HP Value Terbaik 2026?

Sabtu, 25 Apr 2026 - 15:00 WIB