LPG Nonsubsidi Naik, Penemuan Gas Raksasa di Kaltim Jadi Sorotan Sektor Energi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan saat konferensi pers terkait penemuan cadangan gas raksasa di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan saat konferensi pers terkait penemuan cadangan gas raksasa di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Jemarionline.com – Dua kabar besar langsung menarik perhatian pasar energi Indonesia. Pemerintah menyesuaikan harga LPG nonsubsidi, sementara perusahaan energi Eni menemukan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur.

Keduanya muncul hampir bersamaan dan langsung memicu diskusi, terutama karena sama-sama berkaitan dengan kebutuhan energi nasional dan arah kebijakan jangka panjang.

Pemerintah Sesuaikan Harga LPG Nonsubsidi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa harga LPG nonsubsidi mengikuti pergerakan pasar global.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tidak mengatur langsung harga LPG nonsubsidi. Pelaku usaha seperti Pertamina menyesuaikan harga dengan acuan internasional yang berlaku di pasar energi dunia.

Penyesuaian ini paling terasa pada LPG nonsubsidi yang digunakan sektor industri, hotel, dan restoran. Beberapa pelaku usaha mulai menghitung ulang biaya operasional mereka setelah perubahan harga tersebut.

Meski begitu, pemerintah memastikan pasokan tetap aman dan distribusi berjalan normal di seluruh wilayah.

Eni Temukan Cadangan Gas Besar di Kalimantan Timur

Di sisi lain, perusahaan energi asal Italia, Eni, melaporkan penemuan cadangan gas besar di wilayah lepas pantai Kalimantan Timur.

Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Turun di Bawah 5,5%

Perusahaan itu mengebor sumur eksplorasi Geliga-1 di Blok Ganal, Cekungan Kutai, pada kedalaman laut lebih dari 2.000 meter. Dari hasil awal, Eni menemukan lapisan gas yang cukup tebal dengan potensi sumber daya mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik gas dan ratusan juta barel kondensat.

Temuan ini langsung menjadi salah satu penemuan energi terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Target Produksi Mulai Beberapa Tahun ke Depan

Pemerintah menargetkan lapangan gas ini mulai berproduksi sekitar tahun 2028. Mereka menyiapkan tahapan pengembangan agar proyek ini bisa berjalan sesuai rencana.

Jika proyek ini masuk fase produksi, Indonesia berpotensi menambah pasokan gas dalam jumlah besar. Kondensat dari lapangan ini juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung industri hilir energi nasional.

Pemerintah melihat temuan ini sebagai peluang untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor dalam jangka panjang.

Dampak ke Sektor Energi Indonesia

Dua perkembangan ini menunjukkan arah yang berbeda dalam sektor energi Indonesia.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina Turun Mulai 1 Februari 2026, Pertamax Cs Lebih Murah

Harga LPG nonsubsidi yang menyesuaikan pasar global menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat terhubung dengan dinamika energi dunia. Perubahan harga minyak dan gas langsung berdampak ke sektor dalam negeri.

Sementara itu, penemuan cadangan gas besar di Kalimantan Timur membuka peluang baru bagi pasokan energi masa depan. Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, Indonesia bisa memperkuat posisi sebagai produsen energi di kawasan.

Namun, pelaku pasar menilai dampak penemuan ini belum akan terasa dalam waktu dekat karena proyek masih membutuhkan waktu pengembangan yang cukup panjang.

Kesimpulan

Perubahan harga LPG nonsubsidi dan penemuan gas besar oleh Eni sama-sama menggambarkan kondisi sektor energi Indonesia saat ini.

Pasar energi bergerak mengikuti tekanan global, sementara di sisi lain Indonesia terus mencari cadangan baru untuk memperkuat kebutuhan jangka panjang.

Kombinasi dua hal ini akan terus membentuk arah kebijakan energi nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Berita Terkait

Hasil Pengeboran 4 Bulan Ungkap Potensi Emas Besar di Kolokoa Gorontalo
BNI Kembalikan Dana Nasabah Rp28 Miliar, Kasus Aek Nabara Jadi Sorotan
Gaji ke-13 ASN 2026 Segera Cair, Ini Jadwal dan Perkiraan Besarannya
Harga Pertamax Turbo hingga Dexlite Naik, Bahlil: Ikuti Mekanisme Pasar
Harga Pertamax Turbo Naik Selaras Harga Minyak Dunia, Ini Dampaknya
IRT Situbondo Hidroponik Hasilkan Rp 2 Juta/Bulan
Ratusan Ternak dari Australia Tiba, Perkuat Ketahanan Pangan
Harga BBM 16 April 2026 Tetap Stabil, Ini Daftar Terbaru di SPBU Seluruh Indonesia
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 13:00 WIB

LPG Nonsubsidi Naik, Penemuan Gas Raksasa di Kaltim Jadi Sorotan Sektor Energi

Minggu, 19 April 2026 - 18:00 WIB

Hasil Pengeboran 4 Bulan Ungkap Potensi Emas Besar di Kolokoa Gorontalo

Minggu, 19 April 2026 - 17:12 WIB

BNI Kembalikan Dana Nasabah Rp28 Miliar, Kasus Aek Nabara Jadi Sorotan

Minggu, 19 April 2026 - 16:00 WIB

Gaji ke-13 ASN 2026 Segera Cair, Ini Jadwal dan Perkiraan Besarannya

Sabtu, 18 April 2026 - 22:00 WIB

Harga Pertamax Turbo hingga Dexlite Naik, Bahlil: Ikuti Mekanisme Pasar

Berita Terbaru

Foto: Jambiupdate.co

Daerah

Namanya Masuk Bursa Cagub Jambi, Ini Tanggapan Dedy Putra

Selasa, 21 Apr 2026 - 23:00 WIB

Foto: Wikipedia

Daerah

Namanya Mencuat di Pilgub Jambi, Ini Jawaban Syarif Fasha

Selasa, 21 Apr 2026 - 22:00 WIB