Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Anisa Indraini/detikfinance

Foto: Anisa Indraini/detikfinance

JEMARIONLINE.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah akan mulai menunjukkan penguatan pada semester II 2026. Pemerintah memperkirakan tekanan terhadap mata uang Garuda akan berkurang secara bertahap mulai Juli hingga akhir tahun.

Pernyataan tersebut muncul setelah rupiah mengalami tekanan cukup berat dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dan mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah.

Meski demikian, Purbaya meyakini kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama. Ia menilai berbagai kebijakan ekonomi yang sedang dijalankan pemerintah dan otoritas keuangan akan membantu memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Rupiah Diperkirakan Mulai Menguat pada Semester II 2026

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Purbaya menyampaikan bahwa rupiah berpotensi menguat secara bertahap mulai Juli 2026. Menurutnya, kondisi pasar akan lebih stabil pada paruh kedua tahun ini.

Ia menilai tekanan yang terjadi saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal. Gejolak geopolitik global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional masih memengaruhi pergerakan mata uang di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan ekonomi dunia. Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas ekonomi nasional dan meminimalkan dampak gejolak global terhadap rupiah.

Baca Juga :  MPR Soroti Rupiah Melemah dan Dampaknya ke Rakyat

Target Rupiah Rp16.800 per Dolar AS pada 2027

Selain memproyeksikan penguatan pada semester II 2026, Purbaya juga menyampaikan perkiraan nilai tukar rupiah untuk tahun 2027.

Menurutnya, rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada 2027. Proyeksi tersebut masuk dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) tahun 2027.

Purbaya menilai stabilitas ekonomi yang terjaga akan menjadi faktor utama yang mendukung penguatan rupiah. Selain itu, peningkatan kepercayaan investor global juga berpotensi mendorong masuknya modal asing ke Indonesia.

Arus modal yang masuk ke pasar domestik dapat memperkuat permintaan terhadap rupiah. Kondisi tersebut biasanya membantu menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah hingga panjang.

Kepercayaan Investor Jadi Faktor Penting

Purbaya menegaskan bahwa kepercayaan investor memiliki peran besar dalam menentukan arah pergerakan rupiah.

Menurutnya, investor global akan lebih tertarik menanamkan modal apabila melihat prospek ekonomi Indonesia tetap kuat. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempercepat pertumbuhan nasional.

Ia juga meyakini pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan menarik lebih banyak investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Ketika investasi meningkat, permintaan terhadap rupiah ikut bertambah sehingga nilai tukar berpeluang menguat.

Baca Juga :  Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

BI Sudah Ambil Langkah Stabilisasi

Optimisme pemerintah muncul setelah Bank Indonesia mengambil sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas rupiah.

Pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kenaikan tersebut menjadi langkah di luar jadwal pertama dalam delapan tahun terakhir.

Bank Indonesia mengambil keputusan tersebut untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Setelah kebijakan itu diumumkan, rupiah mulai menunjukkan perbaikan dibanding posisi terlemahnya beberapa hari sebelumnya.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Tantangan Global Masih Membayangi

Meski optimistis terhadap prospek rupiah, pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko global.

Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi memengaruhi harga energi dan kondisi pasar keuangan dunia. Selain itu, kebijakan moneter negara-negara besar juga dapat memicu pergerakan modal internasional yang berdampak pada nilai tukar berbagai mata uang.

Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Prabowo Dijadwalkan Resmikan Biodiesel B50 pada 9 Juli, Pemerintah Percepat Transisi Energi
Tarif Listrik Juli-September 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Penjelasannya
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:00 WIB

Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan

Berita Terbaru

Sumber : Arianti Widya/Viva.co.id

OTOMOTIF

Jelang GIIAS 2026, Harga Mobil MPV Mulai Rp167 Jutaan

Senin, 27 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teknologi

Apple TV 2026: Jadwal Rilis, Rumor, dan Spesifikasi Terbaru

Senin, 27 Jul 2026 - 07:00 WIB