Jakarta, jemarionline.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi mereda dalam beberapa bulan ke depan. Ia menilai kondisi global yang mulai stabil dapat menjadi faktor utama pemulihan mata uang Garuda tersebut.
Purbaya menegaskan bahwa dinamika geopolitik dunia saat ini menunjukkan tanda perbaikan. Ia menyoroti hubungan Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang mulai mengarah pada penurunan ketegangan.
Menurutnya, perkembangan itu memberikan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi global. Situasi tersebut juga berpotensi memperkuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang saat ini masih berada dalam tekanan.
Geopolitik Global Jadi Penentu Arah Pergerakan Rupiah
Purbaya menjelaskan bahwa kondisi geopolitik memiliki pengaruh besar terhadap arus modal global. Ketika risiko internasional menurun, investor cenderung kembali masuk ke pasar negara berkembang.
Ia menilai potensi kesepakatan antara negara-negara besar tersebut dapat menjadi katalis positif. Dalam skenario itu, pasar keuangan global diperkirakan lebih stabil dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Purbaya juga menyebut bahwa perbaikan sentimen global dapat memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini terjadi karena investor akan kembali mencari aset dengan imbal hasil lebih menarik di pasar berkembang.
Pemerintah dan Bank Indonesia Perkuat Koordinasi Stabilitas Pasar
Pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasar obligasi domestik tetap terjaga dan menarik bagi investor asing.
Purbaya menegaskan bahwa stabilitas pasar surat utang menjadi perhatian utama. Pemerintah ingin menghindari kondisi di mana investor asing mengalami kerugian besar akibat fluktuasi harga aset atau capital loss yang berlebihan.
Ia menyampaikan bahwa koordinasi intensif dengan bank sentral terus dilakukan secara berkelanjutan. Tujuannya menjaga kepercayaan investor tetap kuat di tengah tekanan pasar global.
Stabilitas Keuangan Jadi Fokus Utama Pemerintah
Purbaya menekankan bahwa stabilitas sistem keuangan menjadi fondasi utama dalam menjaga nilai tukar rupiah. Pemerintah berupaya menjaga agar arus modal asing tetap masuk dan tidak keluar secara berlebihan.
Ia menjelaskan bahwa kepercayaan investor sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan stabilitas pasar. Karena itu, pemerintah terus memastikan komunikasi yang solid dengan otoritas moneter.
Selain itu, pemerintah juga menjaga agar pasar obligasi tetap likuid. Hal ini penting untuk menghindari gejolak yang dapat menekan nilai tukar lebih dalam.
Rupiah Masih Tertekan dalam Enam Bulan Terakhir
Meski pemerintah optimistis, data pasar menunjukkan rupiah masih berada dalam tekanan. Pada penutupan pasar spot Jumat (29/5/2026), rupiah tercatat berada di level Rp17.881 per dolar AS.
Nilai tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 0,2 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Dalam enam bulan terakhir, rupiah juga tercatat melemah hingga 7,17 persen.
Kondisi ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih cukup kuat terhadap mata uang domestik. Namun pemerintah menilai tren tersebut masih dapat dikendalikan melalui kebijakan yang tepat.
Pertumbuhan Ekonomi Masih Tunjukkan Ketahanan
Di tengah tekanan nilai tukar, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif. Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61 persen.
Capaian tersebut didorong oleh sejumlah program pemerintah yang mendorong konsumsi dan aktivitas ekonomi. Salah satunya adalah program makan bergizi gratis yang ikut menopang daya beli masyarakat.
Dengan pertumbuhan tersebut, Indonesia menempati posisi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Asia. Indonesia bahkan tercatat mengungguli Malaysia yang tumbuh 5,3 persen dan China sebesar 5 persen.
Optimisme Pemerintah terhadap Pemulihan Rupiah
Purbaya menyampaikan keyakinannya bahwa kepercayaan pasar terhadap rupiah akan kembali pulih. Ia menilai stabilitas global yang membaik akan menjadi faktor pendorong utama.
Ia juga menegaskan bahwa penguatan rupiah sangat bergantung pada kombinasi faktor eksternal dan kebijakan domestik. Karena itu, pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan daya tarik investasi.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah berharap nilai tukar rupiah dapat bergerak lebih stabil dalam beberapa bulan ke depan. Stabilitas ini diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional secara keseluruhan.(ar)









