10 Negara dengan Kenaikan Harga BBM Paling Parah, Indonesia Masuk Daftar

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 April 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi: Labirin pipa dan katup minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve di Freeport, Texas, AS 9 Juni 2016. REUTERS / Richard Carson / File Foto

Foto: Ilustrasi: Labirin pipa dan katup minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve di Freeport, Texas, AS 9 Juni 2016. REUTERS / Richard Carson / File Foto

JAKARTA,Jemarionline.com — Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) melanda banyak negara dan memicu tekanan baru bagi ekonomi global. Dalam daftar negara dengan kenaikan harga BBM paling parah, Indonesia ikut masuk bersama sejumlah negara lain yang terdampak gejolak energi internasional.

Kenaikan harga energi global kembali menjadi sorotan.

Konflik geopolitik, gangguan pasokan, dan volatilitas harga minyak mendorong banyak negara menghadapi lonjakan biaya energi.

Akibatnya, harga BBM di berbagai kawasan ikut terdorong naik.

Tekanan ini tidak hanya memukul konsumen.

Dampaknya juga menjalar ke inflasi, transportasi, logistik, hingga biaya produksi.

Karena itu, lonjakan harga BBM kini menjadi isu ekonomi global.

Harga BBM Dunia Naik Serentak

Kenaikan harga BBM kali ini terjadi di banyak negara secara bersamaan.

Situasi ini berbeda dari kenaikan lokal yang biasanya dipicu faktor domestik.

Kini tekanan datang dari pasar energi internasional.

Harga minyak mentah yang berfluktuasi ikut memengaruhi harga jual bahan bakar.

Selain itu, kekhawatiran gangguan pasokan membuat pasar bergerak sensitif.

Ketika harga minyak naik, biaya impor energi ikut meningkat.

Negara yang bergantung pada impor energi menghadapi tekanan lebih besar.

Karena itu, banyak negara terpaksa menyesuaikan harga BBM.

Negara dengan Kenaikan Paling Tajam

Sejumlah negara mengalami lonjakan paling besar.

Kenaikan terjadi dalam persentase dua digit di beberapa pasar.

Negara-negara dengan ketergantungan impor tinggi paling merasakan tekanan.

Selain faktor global, kebijakan subsidi dan nilai tukar ikut menentukan besarnya lonjakan.

Beberapa negara mampu meredam kenaikan.

Namun negara lain mengalami penyesuaian harga lebih agresif.

Laporan terbaru menunjukkan Indonesia ikut masuk daftar, meski bukan yang mencatat kenaikan tertinggi.

Indonesia Ikut Terdampak

Indonesia tidak luput dari tekanan pasar energi.

Baca Juga :  Bukan El Nino Biasa! Tahun 2026 Diprediksi Jadi yang Terparah, Ini yang Akan Terjadi di Indonesia

Kenaikan harga BBM di dalam negeri ikut menjadi perhatian.

Terutama untuk jenis non-subsidi yang lebih cepat menyesuaikan harga pasar.

Kondisi ini membuat biaya transportasi dan distribusi ikut disorot.

Selain itu, pasar juga mencermati potensi dampaknya terhadap inflasi.

Karena BBM berkaitan erat dengan hampir semua sektor ekonomi.

Mulai dari logistik.

Pangan.

Hingga biaya produksi industri.

Itulah sebabnya pergerakan harga BBM selalu sensitif.

Geopolitik Jadi Pemicu Utama

Salah satu pemicu utama lonjakan harga BBM berasal dari ketegangan geopolitik.

Pasar energi sangat sensitif terhadap konflik.

Ketika risiko pasokan muncul, harga minyak cepat bereaksi.

Dan saat minyak naik, harga BBM biasanya ikut terdorong.

Faktor inilah yang memicu lonjakan di banyak negara.

Selain geopolitik, pasar juga merespons spekulasi gangguan distribusi.

Sentimen seperti ini sering memperbesar volatilitas.

Karena itu, lonjakan harga bukan hanya soal pasokan fisik.

Tetapi juga soal ekspektasi pasar.

Risiko Inflasi Ikut Menguat

Kenaikan BBM hampir selalu berkaitan dengan inflasi.

Karena biaya energi memengaruhi harga banyak barang.

Jika ongkos distribusi naik, harga kebutuhan ikut berpotensi terdorong.

Inilah yang membuat bank sentral dan pemerintah mencermati perkembangan energi.

Sebab dampaknya bisa meluas.

Tidak hanya ke sektor transportasi.

Tetapi juga ke daya beli masyarakat.

Karena itu, lonjakan harga BBM kini tidak hanya menjadi isu energi.

Melainkan isu makroekonomi.

Beban Rumah Tangga Bisa Bertambah

Bagi rumah tangga, kenaikan harga BBM sering langsung terasa.

Biaya mobilitas meningkat.

Pengeluaran harian bisa bertambah.

Apalagi jika kenaikan harga memicu efek berantai ke kebutuhan lain.

Karena itu, isu BBM selalu punya dimensi sosial.

Bukan sekadar angka harga di SPBU.

Tetapi juga soal daya tahan konsumsi masyarakat.

Baca Juga :  Korea Selatan Siap Ekspor Jet Tempur KF-21 Perdana ke Indonesia

Jika tekanan berkepanjangan, konsumsi rumah tangga bisa terpengaruh.

Padahal konsumsi merupakan penopang utama ekonomi.

Pemerintah Hadapi Dilema Kebijakan

Lonjakan harga BBM juga memunculkan dilema kebijakan.

Jika harga dibiarkan mengikuti pasar, tekanan ke masyarakat meningkat.

Namun jika subsidi diperbesar, tekanan fiskal bisa naik.

Inilah keseimbangan yang harus dijaga.

Banyak negara kini menghadapi dilema serupa.

Menjaga harga tetap terkendali.

Namun tetap melindungi anggaran negara.

Karena itu, kebijakan energi kini menjadi sangat strategis.

Pasar Cermati Arah Harga Minyak

Ke depan, arah harga BBM banyak bergantung pada minyak dunia.

Jika harga minyak bertahan tinggi, tekanan bisa berlanjut.

Namun jika tensi geopolitik mereda, pasar bisa lebih stabil.

Investor kini terus memantau perkembangan itu.

Karena pergerakan minyak memengaruhi banyak sektor.

Tidak hanya energi.

Tetapi juga pasar saham, obligasi, dan mata uang.

Karena itu, lonjakan BBM kini menjadi bagian dari perhatian pasar global.

Indonesia Waspadai Efek Lanjutan

Bagi Indonesia, fokus kini bukan hanya soal kenaikan harga.

Tetapi juga dampak lanjutan yang mungkin muncul.

Stabilitas inflasi menjadi perhatian.

Daya beli masyarakat juga jadi fokus.

Selain itu, pasar mencermati langkah pemerintah menjaga keseimbangan energi dan fiskal.

Karena tekanan eksternal masih tinggi.

Kehati-hatian menjadi penting.

Alarm Baru Pasar Energi

Masuknya Indonesia dalam daftar negara dengan kenaikan harga BBM paling parah menjadi alarm baru.

Bukan karena Indonesia paling terdampak.

Tetapi karena tekanan energi global belum mereda.

Dan dampaknya kini makin terasa luas.

Mulai dari inflasi.

Biaya hidup.

Hingga pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, pasar terus memantau perkembangan harga energi.

Sebab arah BBM bukan hanya soal bahan bakar.

Tetapi juga cerminan tekanan ekonomi global.

Berita Terkait

Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar
Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027
Media Asing Soroti Kenaikan Mendadak BI Rate, Investor Asing Langsung Dihubungi Bank Indonesia
Family Office Berpotensi Bawa Ratusan Miliar Dolar AS ke Indonesia
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
DJP Blokir 36 Rekening Wajib Pajak di 14 Bank, Tunggakan Capai Rp17 Miliar
BI Rate Naik, Cicilan KPR dan Pinjol Berpotensi Membengkak
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:00 WIB

Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Media Asing Soroti Kenaikan Mendadak BI Rate, Investor Asing Langsung Dihubungi Bank Indonesia

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:00 WIB

Family Office Berpotensi Bawa Ratusan Miliar Dolar AS ke Indonesia

Rabu, 10 Juni 2026 - 05:00 WIB

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026

Berita Terbaru

Foto: Selat Hormuz kembali ditutup Iran (REUTERS/Stringer)

Internasional

Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, Dunia Waspadai Krisis Energi

Jumat, 12 Jun 2026 - 12:00 WIB