Jepang Sudah Habiskan Rp1.200 Triliun, Yen Tetap Terpuruk terhadap Dolar AS

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Yen (REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo)

Foto: Yen (REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo)

Jakarta, Jemarionline.com – Pemerintah Jepang terus berupaya menopang nilai tukar yen yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Namun, berbagai langkah yang ditempuh belum mampu mengangkat mata uang Negeri Sakura secara signifikan.

Data pasar menunjukkan yen masih berada dalam tren pelemahan meskipun pemerintah Jepang dan Bank of Japan (BOJ) telah menggelontorkan dana dalam jumlah sangat besar untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.

Yen Kembali Tertekan

Berdasarkan data perdagangan terbaru, nilai tukar yen berada di kisaran 161 yen per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Jepang masih sangat kuat.

Pelemahan yen terjadi di tengah tingginya permintaan dolar AS dan masih lebarnya selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat banyak investor lebih tertarik menyimpan dana dalam aset berbasis dolar.

Jepang Keluarkan Dana Fantastis

Pemerintah Jepang telah menghabiskan dana yang nilainya mencapai sekitar Rp1.200 triliun untuk melakukan intervensi dan menjaga stabilitas yen dalam beberapa periode terakhir. Namun pasar belum merespons upaya tersebut sesuai harapan.

Baca Juga :  Rusia dan Ukraina Tukar 205 Tawanan Perang, Dimediasi AS di Tengah Memanasnya Konflik

Meski pemerintah beberapa kali masuk ke pasar valuta asing, pelaku pasar tetap menilai faktor fundamental ekonomi dan perbedaan suku bunga masih menjadi penentu utama arah pergerakan yen.

Selisih Suku Bunga Jadi Masalah Utama

Bank of Japan memang telah menaikkan suku bunga secara bertahap. Namun tingkat suku bunga Jepang masih jauh di bawah suku bunga Amerika Serikat.

Akibatnya, investor global masih memanfaatkan strategi carry trade dengan meminjam yen berbiaya murah lalu mengalihkan dana ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Kondisi ini terus menekan nilai tukar yen.

Para analis menilai kenaikan suku bunga BOJ belum cukup kuat untuk mengubah arus modal global yang saat ini masih mengarah ke dolar AS.

Pasar Mulai Ragukan Efektivitas Intervensi

Banyak pelaku pasar kini mempertanyakan efektivitas intervensi pemerintah Jepang.

Sebelumnya, Tokyo berhasil menahan laju pelemahan yen melalui intervensi besar-besaran. Namun, pasar kembali membawa yen ke level lemah setelah efek intervensi mereda. Situasi tersebut menunjukkan bahwa intervensi hanya memberikan dampak jangka pendek.

Baca Juga :  Harapan Damai Pupus, Pyongyang Tegaskan Tak Mau Kompromi dengan Seoul

Selain itu, investor juga menunggu langkah lanjutan dari BOJ terkait kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.

Dampak bagi Ekonomi Jepang

Pelemahan yen memberikan dampak yang beragam bagi ekonomi Jepang.

Di satu sisi, eksportir memperoleh keuntungan karena produk Jepang menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun di sisi lain, biaya impor energi dan bahan baku meningkat sehingga menambah tekanan terhadap rumah tangga dan pelaku usaha domestik.

Karena Jepang masih bergantung pada impor energi, pelemahan yen berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat apabila berlangsung dalam waktu lama.

Investor Fokus pada Langkah BOJ

Saat ini perhatian investor tertuju pada kebijakan Bank of Japan berikutnya.

Jika BOJ menaikkan suku bunga lebih agresif, yen berpotensi memperoleh dukungan tambahan. Sebaliknya, jika bank sentral mempertahankan kebijakan yang relatif longgar, tekanan terhadap yen kemungkinan masih berlanjut.

Karena itu, arah pergerakan yen dalam beberapa bulan mendatang sangat bergantung pada kebijakan moneter Jepang dan perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Berita Terkait

Peluang Emas Beasiswa Main Video Game Senilai Rp270 Juta di USV
Interpol Tangkap 5.811 Penipu Online, Aset Rp4,7 Triliun Disita
Gempa Venezuela Perparah Krisis, Sanksi Internasional Hambat Pemulihan
Harga Minyak Melambung ke US$81, Iran Tinggalkan Negosiasi dengan AS
Trump Dikecam Partainya Sendiri Usai Teken Kesepakatan Damai dengan Iran
Kapal Tanker Minyak Iran Akhirnya Lolos dari Blokade AS, Ekspor Kembali Berjalan
AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Tegaskan Perjuangan Israel Belum Berakhir
Trump Sebut Kesepakatan Akhiri Perang dengan Iran Ditandatangani Hari Ini
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:00 WIB

Peluang Emas Beasiswa Main Video Game Senilai Rp270 Juta di USV

Senin, 13 Juli 2026 - 13:00 WIB

Interpol Tangkap 5.811 Penipu Online, Aset Rp4,7 Triliun Disita

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:00 WIB

Gempa Venezuela Perparah Krisis, Sanksi Internasional Hambat Pemulihan

Selasa, 23 Juni 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Melambung ke US$81, Iran Tinggalkan Negosiasi dengan AS

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:00 WIB

Jepang Sudah Habiskan Rp1.200 Triliun, Yen Tetap Terpuruk terhadap Dolar AS

Berita Terbaru