AEI: Ulasan MSCI Jadi Momentum Perkuat Pasar Modal Indonesia di Mata Investor Global

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).( poto : ANTARA )

Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).( poto : ANTARA )

Jakarta, jemarionline.com – Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (AEI) David Sutyanto menilai ulasan MSCI menjadi momentum penting untuk memperkuat pasar modal Indonesia agar lebih kompetitif di tingkat global. Ia menegaskan, hasil tersebut tidak menunjukkan sinyal negatif terhadap pasar keuangan nasional.

David menyampaikan bahwa evaluasi MSCI justru membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kualitas pasar. Ia menekankan pentingnya respons cepat dari seluruh pemangku kepentingan agar pasar semakin kuat di mata investor global.

“Hasil ini bukan sinyal negatif terhadap pasar modal Indonesia, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pasar agar semakin kompetitif di mata investor global,” ujarnya di Jakarta, Jumat.

Fondasi Pasar Masih Kuat

David menilai berbagai indikator dalam penilaian MSCI masih menunjukkan fondasi pasar modal Indonesia berada dalam kondisi solid. Ia melihat sejumlah aspek utama tetap mendapat penilaian positif.

Ia menyebut persyaratan investor, batas kepemilikan asing, ruang kepemilikan asing, kebebasan arus modal, pembukaan rekening investor, serta regulasi pasar sebagai poin yang masih kuat. Selain itu, sistem kustodian, mekanisme perdagangan, dan ketersediaan instrumen investasi juga menunjukkan kinerja baik.

Baca Juga :  Cadangan Minyak Rusia Bertahan 60 Tahun, Stok BBM Indonesia Hanya 26 Hari

Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan infrastruktur pasar Indonesia tetap menarik bagi investor global. Indonesia masih masuk radar utama sebagai pasar berkembang di kawasan Asia Pasifik.

Meski banyak aspek dinilai positif, AEI mencatat adanya pekerjaan rumah pada information flow. David menilai isu ini perlu segera mendapat perhatian lebih serius.

Ia menegaskan bahwa masalah tersebut tidak menunjukkan kelemahan struktural yang sulit diperbaiki. Sebaliknya, ia melihat hal ini sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas transparansi pasar.

David mendorong regulator, bursa, emiten, analis, dan pelaku pasar untuk memperbaiki keterbukaan informasi. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi komunikasi dan pemerataan akses data bagi semua investor.

“Ini menjadi masukan penting bagi seluruh pelaku pasar untuk meningkatkan keterbukaan informasi dan akses data yang lebih setara,” kata David.

David menilai kualitas informasi menjadi faktor kunci dalam menarik investor global. Ia menegaskan investor tidak hanya melihat ukuran pasar atau likuiditas, tetapi juga kecepatan dan kredibilitas informasi.

Ia mendorong pembenahan sistem informasi sebagai bagian dari strategi meningkatkan kelas pasar modal Indonesia. Dengan langkah itu, ia yakin kepercayaan investor dapat meningkat secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Bahlil Buka Peluang Harga BBM RON 92 Naik, Stok Energi Dipastikan Aman

Upaya tersebut juga akan memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan dengan negara pasar berkembang lain di kawasan.

Samuel Sekuritas: Status Emerging Market Tetap Aman

Samuel Sekuritas Indonesia menilai penurunan peringkat pada aspek information flow belum cukup kuat untuk mengubah status Indonesia sebagai pasar berkembang.

Dalam risetnya, Samuel Sekuritas menyoroti sejumlah faktor pendukung yang masih menjaga posisi Indonesia. Faktor tersebut mencakup kewajiban pengungkapan pemegang saham minimal 1 persen, kerangka High Shareholder Concentration (HSC), serta rencana peningkatan free float hingga 15 persen.

“Faktor-faktor itu cukup untuk mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market,” tulis Samuel Sekuritas.

MSCI merilis laporan pada Jumat (19/6) pagi dengan cakupan lima segmen market accessibility dan 18 indikator penilaian. Hasilnya menunjukkan 10 indikator mendapat nilai “++” yang berarti sesuai praktik terbaik global.

Enam indikator lain mendapat nilai “+” yang masih membutuhkan peningkatan. Sementara itu, dua indikator, yaitu information flow dan liberalisasi pasar valuta asing, mendapat nilai “-” karena membutuhkan perbaikan.(ar)

Berita Terkait

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia
Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Batal Naik, Tetap Rp15.700 per Liter
BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama
AS dan Iran Mulai Damai, Mengapa Harga Pertamax Belum Turun? Ini Penjelasan Airlangga
Kepemilikan Saham Bali Tembus Rp7,95 Triliun, Tumbuh 48 Persen di Triwulan I 2026
Kredit Perbankan Tumbuh 11,51 Persen, BI Sebut Likuiditas dan Permintaan Kredit Masih Kuat
Rupiah Melemah ke Rp17.738 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global
Obligasi Danantara Diserbu Investor, KADIN Sebut Ekonomi RI Diakui Dunia
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:20 WIB

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:54 WIB

AEI: Ulasan MSCI Jadi Momentum Perkuat Pasar Modal Indonesia di Mata Investor Global

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:00 WIB

Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Batal Naik, Tetap Rp15.700 per Liter

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:00 WIB

BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:00 WIB

AS dan Iran Mulai Damai, Mengapa Harga Pertamax Belum Turun? Ini Penjelasan Airlangga

Berita Terbaru