AS dan Iran Mulai Damai, Mengapa Harga Pertamax Belum Turun? Ini Penjelasan Airlangga

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)

(Foto: KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)

Jakarta, Jemarionline.com  – Meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak dunia mulai turun. Namun, banyak masyarakat mempertanyakan mengapa harga Pertamax belum ikut turun meski harga minyak global sudah melemah. Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan langsung dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah masih memantau perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, pemerintah memilih bersikap hati-hati karena proses perdamaian antara AS dan Iran masih membutuhkan kepastian lebih lanjut.

Pemerintah Masih Memantau Harga Minyak Dunia

Airlangga mengatakan harga minyak dunia memang mulai bergerak turun setelah muncul kesepakatan damai antara Washington dan Teheran. Namun, pemerintah belum ingin terburu-buru mengubah kebijakan energi nasional hanya berdasarkan pergerakan harga dalam jangka pendek.

Menurutnya, pemerintah akan terus memonitor perkembangan pasar energi global untuk memastikan tren penurunan harga benar-benar berlangsung secara stabil. Karena itu, pemerintah masih menggunakan asumsi yang konservatif dalam menyusun kebijakan energi dan fiskal.

Baca Juga :  Harga Minyak Turun di Bawah US$100 per Barel, Iran Tinjau Proposal Damai AS

Harga Minyak Global Mulai Melemah

Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah Brent sempat turun ke kisaran US$83 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di sekitar US$80 per barel setelah pasar merespons positif perkembangan hubungan AS dan Iran.

Penurunan tersebut terjadi setelah kedua negara mencapai kesepakatan yang membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia.

Harga Pertamax Tidak Hanya Bergantung pada Minyak Dunia

Meski harga minyak mentah menjadi faktor penting, penentuan harga Pertamax juga mempertimbangkan berbagai komponen lain.

Selain harga minyak global, Pertamina dan pemerintah turut memperhitungkan nilai tukar rupiah, biaya distribusi, biaya pengolahan, serta tren harga energi internasional dalam periode tertentu. Karena itu, perubahan harga minyak dunia tidak selalu langsung diikuti perubahan harga BBM di SPBU.

Baca Juga :  Selat Hormuz Gonjang-ganjing, Kenapa Harga Plastik Makin Mahal?

Di sisi lain, harga BBM non-subsidi biasanya menggunakan rata-rata harga minyak dalam periode tertentu sehingga tidak langsung berubah setiap kali terjadi fluktuasi harian di pasar global.

Masyarakat Menunggu Penurunan Harga BBM

Sebelumnya, harga Pertamax sempat mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga memicu keluhan dari sejumlah pengguna kendaraan. Bahkan sebagian pengendara memilih beralih ke BBM yang lebih murah untuk menekan pengeluaran harian.

Karena itu, masyarakat kini berharap penurunan harga minyak dunia dapat memberikan dampak terhadap harga BBM non-subsidi dalam negeri dalam waktu dekat.

Pemerintah Pilih Sikap Hati-Hati

Pemerintah menilai kondisi geopolitik global masih dapat berubah sewaktu-waktu. Meski kesepakatan damai telah tercapai, berbagai faktor internasional masih berpotensi memengaruhi harga minyak dunia.

Oleh sebab itu, pemerintah belum mengambil keputusan untuk menurunkan harga Pertamax dan memilih menunggu perkembangan pasar energi global dalam beberapa waktu ke depan.

Berita Terkait

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia
AEI: Ulasan MSCI Jadi Momentum Perkuat Pasar Modal Indonesia di Mata Investor Global
Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Batal Naik, Tetap Rp15.700 per Liter
BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama
Kepemilikan Saham Bali Tembus Rp7,95 Triliun, Tumbuh 48 Persen di Triwulan I 2026
Kredit Perbankan Tumbuh 11,51 Persen, BI Sebut Likuiditas dan Permintaan Kredit Masih Kuat
Rupiah Melemah ke Rp17.738 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global
Obligasi Danantara Diserbu Investor, KADIN Sebut Ekonomi RI Diakui Dunia
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:20 WIB

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:54 WIB

AEI: Ulasan MSCI Jadi Momentum Perkuat Pasar Modal Indonesia di Mata Investor Global

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:00 WIB

Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Batal Naik, Tetap Rp15.700 per Liter

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:00 WIB

BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:00 WIB

AS dan Iran Mulai Damai, Mengapa Harga Pertamax Belum Turun? Ini Penjelasan Airlangga

Berita Terbaru