JAKARTA, Jemarionline.com – Harga minyak dunia kembali turun hingga berada di bawah level US$100 per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah Iran mulai meninjau proposal perdamaian dari Amerika Serikat (AS).
Harga minyak Brent pada perdagangan Kamis (7/5/2026) turun ke level US$99,15 per barel. Penurunan itu melanjutkan pelemahan tajam sebesar 7,8% sehari sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak turun ke kisaran US$92 hingga US$95 per barel. Pelaku pasar mulai optimistis ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat mereda dalam waktu dekat.
Kabar mengenai potensi kesepakatan damai AS dan Iran langsung memengaruhi pasar energi global. Investor mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Iran Mulai Tinjau Proposal dari Amerika Serikat
Pemerintah Iran mengonfirmasi sedang mempelajari proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat. Proposal tersebut berisi pembahasan penghentian konflik dan pembukaan kembali jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan negaranya akan memberikan respons resmi setelah mempelajari isi proposal tersebut secara menyeluruh.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Trump menilai kedua negara memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Meski begitu, sejumlah pejabat Iran masih menunjukkan sikap hati-hati. Media pemerintah Iran bahkan menyebut masih terdapat beberapa poin yang dianggap tidak dapat diterima dalam proposal AS.
Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar Energi
Pasar minyak dunia sangat memperhatikan perkembangan situasi di Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global.
Sebelumnya, konflik AS dan Iran membuat distribusi minyak di kawasan itu terganggu. Situasi tersebut sempat mendorong harga minyak melonjak hingga di atas US$118 per barel pada akhir April 2026.
Namun harapan terhadap gencatan senjata membuat pasar mulai tenang. Investor memperkirakan distribusi minyak dari Timur Tengah dapat kembali normal apabila kedua negara mencapai kesepakatan.
Bloomberg melaporkan Iran bahkan sempat membuka kembali Selat Hormuz sementara waktu sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan. Langkah tersebut ikut menekan harga minyak dunia.
Pasar Saham Global Ikut Menguat
Penurunan harga minyak ikut mendorong penguatan pasar saham global. Investor menilai meredanya konflik Timur Tengah dapat mengurangi tekanan inflasi dan biaya energi dunia.
Indeks saham di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat tercatat menguat setelah muncul kabar mengenai peluang perdamaian AS-Iran.
Pasar menilai harga minyak yang lebih rendah bisa membantu menekan biaya logistik dan produksi di berbagai sektor industri. Kondisi tersebut memberi sentimen positif terhadap pasar keuangan global.
Selain itu, penurunan harga minyak juga membuka peluang bank sentral di sejumlah negara untuk lebih fleksibel dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Analis Ingatkan Risiko Masih Tinggi
Meski harga minyak turun tajam, sejumlah analis mengingatkan risiko geopolitik masih cukup besar. Mereka menilai pasar terlalu cepat bereaksi terhadap harapan perdamaian.
Beberapa analis energi menyebut belum ada jaminan Iran dan AS benar-benar mencapai kesepakatan final. Situasi di kawasan Timur Tengah juga masih sangat dinamis.
Selain itu, pemulihan distribusi minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan tidak bisa berlangsung instan. Aktivitas pengiriman minyak membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Barclays bahkan memperingatkan harga minyak masih bisa kembali melonjak apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama. Bank tersebut sebelumnya menaikkan proyeksi harga Brent 2026 menjadi US$100 per barel.
Dampak bagi Indonesia
Penurunan harga minyak dunia dapat menjadi kabar positif bagi Indonesia. Harga minyak yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan terhadap subsidi energi dan impor BBM.
Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga bisa berkurang apabila harga energi global stabil. Selama beberapa pekan terakhir, kenaikan harga minyak ikut meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Meski demikian, pemerintah tetap perlu memantau perkembangan geopolitik global. Sebab, perubahan situasi di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak sewaktu-waktu.
Saat ini pelaku pasar masih menunggu keputusan resmi Iran terkait proposal perdamaian dari AS. Hasil pembahasan tersebut diperkirakan akan sangat memengaruhi arah harga minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang.









