IHSG Ambruk 1,4% di Awal Pekan, Saham Perbankan Jadi Beban Utama Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

(Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

JAKARTA, Jemarionline.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung jatuh pada awal perdagangan Senin pagi. Tekanan besar di saham perbankan membuat indeks utama Bursa Efek Indonesia turun lebih dari 1,4%.

Data perdagangan menunjukkan mayoritas saham bergerak di zona merah sejak pasar dibuka. Investor melepas saham-saham berkapitalisasi jumbo sehingga IHSG kehilangan tenaga dalam waktu singkat.

Nilai transaksi pasar juga meningkat cukup tajam pada sesi pertama. Kondisi itu menunjukkan aktivitas jual beli berlangsung sangat aktif sejak pagi.

Pelaku pasar menilai tekanan kali ini muncul akibat kombinasi sentimen global dan aksi jual investor asing di saham unggulan.

Saham Perbankan Jadi Penyebab Utama

Saham sektor keuangan menjadi penyebab utama pelemahan IHSG. Sejumlah saham bank besar turun signifikan dan menyeret indeks lebih dalam.

BBCA, BBRI, dan BMRI mencatat koreksi cukup besar pada perdagangan pagi. Karena kapitalisasi pasarnya mendominasi IHSG, penurunan saham-saham tersebut langsung memukul pergerakan indeks.

Investor memilih mengambil keuntungan setelah saham perbankan menguat dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, pelaku pasar mulai mengurangi risiko menjelang rilis data ekonomi global.

“Investor terlihat lebih berhati-hati. Mereka memilih mengurangi posisi di saham perbankan sambil menunggu arah pasar global,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.

Tekanan jual di saham bank juga muncul bersamaan dengan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi itu membuat investor asing lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar domestik.

Sentimen Global Picu Tekanan Pasar

Pasar saham Asia bergerak melemah pada awal pekan. Kekhawatiran terhadap arah suku bunga Amerika Serikat kembali memicu tekanan di pasar keuangan global.

Investor global masih menunggu sinyal terbaru dari bank sentral AS atau The Fed terkait kebijakan suku bunga. Banyak pelaku pasar memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Baca Juga :  Kesepakatan Tarif RI–AS Dikritik Rocky Gerung, Pemerintah Diminta Evaluasi Ulang

Kondisi itu membuat investor mengurangi aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Selain faktor suku bunga, pelaku pasar juga mencermati ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global. Sentimen tersebut membuat arus dana asing keluar dari pasar saham Asia.

IHSG sebelumnya juga sempat mengalami tekanan cukup besar pada perdagangan akhir pekan lalu. Saat itu, investor asing melepas saham unggulan dalam jumlah besar sehingga indeks terkoreksi tajam.

Investor Asing Gencar Jual Saham

Aksi jual investor asing menjadi sorotan utama pada perdagangan hari ini. Mereka melepas sejumlah saham big caps sejak awal sesi perdagangan.

Tekanan jual asing paling besar terjadi di sektor perbankan dan saham unggulan lain yang memiliki likuiditas tinggi. Arus keluar dana asing membuat tekanan pasar semakin besar.

Analis menilai investor global mulai mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Penguatan dolar AS ikut mendorong langkah tersebut.

Meski begitu, beberapa pengamat pasar menilai koreksi IHSG masih tergolong normal. Mereka melihat pasar hanya mengalami konsolidasi setelah sempat mencatat penguatan pada awal tahun.

“Fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik. Koreksi ini lebih banyak dipicu sentimen jangka pendek,” kata seorang pengamat pasar modal.

Mayoritas Sektor Bergerak di Zona Merah

Tidak hanya sektor perbankan, hampir seluruh sektor saham ikut bergerak negatif pada perdagangan pagi.

Saham teknologi, properti, infrastruktur, dan transportasi juga mengalami tekanan jual. Investor terlihat memilih menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali melakukan pembelian.

Beberapa saham lapis dua bahkan turun lebih dalam karena minimnya minat beli.

Meski mayoritas sektor melemah, sejumlah saham berbasis energi masih mampu bertahan di zona hijau. Kenaikan harga komoditas tertentu membantu menahan tekanan di sektor tersebut.

Baca Juga :  Biang Kerok Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Faktor Global hingga Fiskal Jadi Sorotan

Namun penguatan itu belum cukup kuat untuk mengangkat IHSG kembali ke zona positif.

Rupiah Jadi Perhatian Pelaku Pasar

Pelaku pasar juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda masih bergerak fluktuatif di tengah penguatan dolar AS.

Kondisi tersebut memengaruhi psikologis investor, terutama investor asing yang aktif di pasar saham domestik.

Selain rupiah, investor menunggu sejumlah data ekonomi penting dalam waktu dekat. Mereka mencermati data inflasi, pertumbuhan kredit, dan perkembangan suku bunga global.

Jika data ekonomi menunjukkan hasil positif, pasar berpeluang pulih dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.

Peluang Rebound Masih Terbuka

Walau IHSG turun cukup dalam, sejumlah analis masih melihat peluang pemulihan pasar dalam jangka menengah.

Mereka menilai kondisi ekonomi domestik tetap stabil dan mampu menopang pergerakan pasar saham. Konsumsi masyarakat yang terjaga dan pertumbuhan ekonomi nasional masih menjadi faktor positif.

Selain itu, koreksi harga saham mulai membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.

Beberapa saham unggulan kini bergerak di level valuasi yang lebih menarik setelah mengalami penurunan dalam beberapa sesi terakhir.

Namun analis tetap meminta investor berhati-hati karena volatilitas pasar masih tinggi.

Pasar Tunggu Arah Baru

Pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan masih bergantung pada sentimen global dan arus dana asing.

Jika tekanan eksternal mulai mereda, investor berpotensi kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Sebaliknya, aksi jual asing yang terus berlanjut bisa menahan penguatan indeks.

Pada perdagangan Senin pagi, tekanan di saham perbankan menjadi faktor utama yang menyeret IHSG ke zona merah. Kondisi tersebut menunjukkan investor masih memilih sikap hati-hati di tengah ketidakpastian pasar global.

Meski pasar bergerak melemah, sebagian pelaku pasar percaya IHSG masih memiliki peluang bangkit apabila sentimen global kembali stabil.

Berita Terkait

Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.395 per Dolar AS, Konflik Global Tekan Pasar
Pemutihan PBB Depok, Denda Dihapus 100 Persen
Prabowo Dorong Ekonomi Biru untuk Perkuat Sektor Kelautan Nasional
Rupiah Tertekan, Dinar Kuwait Tetap Menguat di Puncak Dunia
Transparansi Biaya Aplikasi Ojol Masih Jadi Sorotan Meski Ada Perpres
Gaji ke-13 Pensiunan PNS 2026: Jadwal Cair, Besaran, dan Ketentuan Lengkap
Pj Sekdaprov Sumut Tekankan Kualitas Data Sensus Ekonomi 2026 Tentukan Arah Pembangunan Daerah
IHSG Tiba-Tiba Ambruk 2,5 Persen di Sesi II, Ini Penyebabnya
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 15:00 WIB

Pemutihan PBB Depok, Denda Dihapus 100 Persen

Senin, 11 Mei 2026 - 14:00 WIB

IHSG Ambruk 1,4% di Awal Pekan, Saham Perbankan Jadi Beban Utama Pasar

Senin, 11 Mei 2026 - 08:00 WIB

Prabowo Dorong Ekonomi Biru untuk Perkuat Sektor Kelautan Nasional

Senin, 11 Mei 2026 - 07:00 WIB

Rupiah Tertekan, Dinar Kuwait Tetap Menguat di Puncak Dunia

Minggu, 10 Mei 2026 - 22:00 WIB

Transparansi Biaya Aplikasi Ojol Masih Jadi Sorotan Meski Ada Perpres

Berita Terbaru