DPR Minta BI Perkuat Instrumen Swap Line demi Jaga Stabilitas Rupiah

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: REUTERS / Fatima El-Kareem

Foto: REUTERS / Fatima El-Kareem

Jakarta, Jemarionline.com – Komisi XI DPR RI meminta Bank Indonesia (BI) memperkuat instrumen swap line untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus mendapat tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan gejolak ekonomi global.

Permintaan tersebut muncul setelah nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap dampak lanjutan pada inflasi, impor, dan stabilitas pasar keuangan nasional.

Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan menilai BI perlu memperluas kerja sama bilateral dengan sejumlah bank sentral negara lain melalui skema swap line guna memperkuat cadangan devisa dan menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.

DPR Dorong Penguatan Kerja Sama Swap Line

Eric mengatakan instrumen swap line dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga kestabilan rupiah di tengah tekanan global yang semakin besar.

Menurutnya, kerja sama swap line memungkinkan BI memperoleh akses likuiditas valuta asing dari negara mitra ketika pasar mengalami tekanan tinggi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia.

“Penguatan swap line penting agar stabilitas rupiah tetap terjaga dan pasar memiliki keyakinan terhadap kemampuan Indonesia menghadapi tekanan global,” ujarnya.

Ia juga meminta BI terus memperluas kerja sama dengan negara-negara mitra strategis seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga negara anggota ASEAN.

Rupiah Terus Tertekan Akibat Sentimen Global

Tekanan terhadap rupiah meningkat dalam beberapa pekan terakhir akibat kombinasi sentimen global dan konflik geopolitik internasional. Penguatan dolar AS membuat investor global mengurangi kepemilikan aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga :  DJP Bakal Audit Ulang Peserta Tax Amnesty Jilid II untuk Amankan Penerimaan Pajak

Selain itu, konflik Timur Tengah ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global. Kondisi tersebut membuat investor lebih memilih aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Pelemahan rupiah juga memberi tekanan tambahan terhadap sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya impor berpotensi memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.

DPR Khawatir Dampak Pelemahan Rupiah ke Inflasi

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun sebelumnya meminta BI menjaga stabilitas rupiah agar tidak memberi tekanan lebih besar terhadap ekonomi domestik.

Menurutnya, pelemahan rupiah bisa meningkatkan biaya impor pemerintah maupun sektor swasta. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

“Kami meminta Bank Indonesia melakukan langkah-langkah yang sungguh-sungguh untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai asumsi makro APBN,” kata Misbakhun.

DPR menargetkan nilai tukar rupiah dapat kembali bergerak mendekati asumsi makro APBN 2026 di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

BI Terus Lakukan Intervensi Pasar

Di tengah tekanan global, BI terus memperkuat langkah stabilisasi di pasar keuangan. Bank sentral meningkatkan intervensi melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pasar obligasi.

Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen moneter guna menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas eksternal nasional.

Bank Indonesia menegaskan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan geopolitik internasional.

Baca Juga :  Rupiah Melemah Tembus Rp17.600 per Dolar AS pada Jumat Pagi, Tekanan Global Meningkat

Deputi Kepala Perwakilan BI Kalimantan Selatan Aloysius Donanto HW mengatakan stabilitas nilai tukar tidak cukup dijaga hanya melalui kebijakan moneter. Menurutnya, komunikasi publik dan literasi ekonomi juga memegang peran penting agar masyarakat tidak bereaksi berlebihan terhadap dinamika pasar.

Swap Line Dinilai Penting untuk Jaga Kepercayaan Pasar

Pengamat ekonomi menilai penguatan instrumen swap line dapat membantu meningkatkan kepercayaan investor terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.

Kerja sama swap line memungkinkan BI memperoleh akses likuiditas dolar AS atau mata uang asing lain ketika pasar mengalami tekanan besar. Dengan cadangan devisa yang kuat, pasar akan lebih yakin terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas sistem keuangan.

Selain memperkuat swap line, analis juga meminta pemerintah dan BI menjaga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin besar.

Investor Masih Menunggu Kepastian Global

Pelaku pasar memperkirakan volatilitas nilai tukar rupiah masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Investor global masih menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan perkembangan konflik geopolitik dunia.

Jika tekanan eksternal terus meningkat, rupiah berpotensi tetap bergerak fluktuatif. Namun, penguatan instrumen stabilisasi dan masuknya kembali aliran modal asing dapat membantu memperbaiki sentimen pasar domestik.

Meski menghadapi tekanan besar, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding sejumlah negara berkembang lain. Stabilitas sektor perbankan, inflasi yang terjaga, dan konsumsi domestik yang tetap tumbuh dinilai menjadi modal penting menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global. (man)

Berita Terkait

Rupiah Menguat 0,54% Usai BI Rate Naik, Dolar AS Turun ke Rp17.600
Prabowo Perketat Ekspor Sawit dan Batu Bara, Dunia Internasional Mulai Soroti Arah Baru Ekonomi RI
Rupiah Lesu, Purbaya Ungkap Perbedaan Kekuatan Ekonomi RI 2026 dan Krisis 1998
BI Menggunakan Cadangan Devisa untuk Menahan Tekanan Rupiah
Pemerintah Siapkan Rp 420 Triliun untuk Menopang Stabilitas Rupiah
Pemicu Saham BBRI, BBCA Cs Turun Tajam di Awal Perdagangan: Rupiah Melemah hingga Sentimen Global Tekan Pasar
Rapat DPR dan Gubernur BI Dihujani Kritik: Rupiah, Kelas Menengah, hingga Arah Kebijakan Ekonomi Jadi Sorotan
OJK Tanggapi Arahan Kredit Rakyat Bunga 5 Persen dari Prabowo
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Menguat 0,54% Usai BI Rate Naik, Dolar AS Turun ke Rp17.600

Rabu, 20 Mei 2026 - 22:00 WIB

Prabowo Perketat Ekspor Sawit dan Batu Bara, Dunia Internasional Mulai Soroti Arah Baru Ekonomi RI

Rabu, 20 Mei 2026 - 15:00 WIB

Rupiah Lesu, Purbaya Ungkap Perbedaan Kekuatan Ekonomi RI 2026 dan Krisis 1998

Rabu, 20 Mei 2026 - 07:00 WIB

BI Menggunakan Cadangan Devisa untuk Menahan Tekanan Rupiah

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:59 WIB

Pemerintah Siapkan Rp 420 Triliun untuk Menopang Stabilitas Rupiah

Berita Terbaru

“Kalau terbukti, ya kami tindak,” kata Purbaya di Jakarta Pusat, Kamis (21/5).( Poto : istimewa )

Pemerintahan

Purbaya Siap Copot Dirjen Bea Cukai Jika Terbukti Terima Suap

Kamis, 21 Mei 2026 - 22:00 WIB

Perumda Air Minum Tirta Mayang Kota Jambi dan Institut Agama Islam Muhammad Azim (IAIMA) Jambi melalui penandatanganan MoU di Aula Griya Mayang, Kamis (21/05/2026).( Poto : JAMBIlink).

Daerah

Tirta Mayang dan IAIMA Jambi Teken MoU Kolaborasi Baru

Kamis, 21 Mei 2026 - 21:00 WIB

UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional ( Poto : JambiPrima.com ).

Daerah

UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:00 WIB

Ratusan warga Suku Anak Dalam (SAD) menggelar aksi di Kantor Bupati Merangin, Kamis (21/05/2026).( Poto : JambiPrima.com).

Daerah

Warga SAD Demo di Merangin, Protes Bantuan Tak Merata

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:00 WIB