Jakarta, Jemarionline.com – Bahlil menjelaskan pemerintah akan memulai produksi tabung CNG pada Juli 2026 setelah tim teknis menyelesaikan tahap akhir pengujian. Selanjutnya, pemerintah akan mendistribusikan CNG secara bertahap sesuai kesiapan infrastruktur dan hasil evaluasi lapangan.
Selain itu, pemerintah terus menyempurnakan desain tabung karena CNG memiliki tekanan yang lebih tinggi dibandingkan LPG. Karena itu, tim penguji menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama sebelum masyarakat menggunakan produk tersebut.
Manfaatkan Gas Bumi Dalam Negeri
Bahlil menegaskan Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang melimpah. Bahkan, pemerintah menemukan cadangan gas besar di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik.
Karena itu, pemerintah memilih mengolah gas domestik menjadi CNG daripada terus mengandalkan LPG impor. Melalui langkah tersebut, pemerintah ingin memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi pengeluaran devisa negara.
CNG Diklaim Lebih Murah
Pemerintah memperkirakan harga CNG akan lebih murah dibandingkan LPG karena industri dalam negeri menyediakan seluruh bahan bakunya. Selain itu, pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya impor dalam jumlah besar apabila penggunaan CNG terus meningkat.
Meski demikian, pemerintah masih mengkaji skema subsidi yang paling tepat. Bahlil memastikan pemerintah tetap melindungi masyarakat melalui kebijakan subsidi yang sesuai dengan arahan Presiden.
Uji Keamanan Masih Berlangsung
Kementerian ESDM bersama Lemigas saat ini menguji kekuatan tabung CNG yang setara dengan tabung LPG 3 kilogram. Tim penguji memeriksa tekanan gas, kualitas material, serta kelayakan penggunaan untuk kebutuhan rumah tangga.
Selain melakukan pengujian, pemerintah juga menyiapkan sistem distribusi agar masyarakat dapat memperoleh CNG dengan mudah. Pada tahap awal, pemerintah kemungkinan akan memprioritaskan sejumlah kota besar sebelum memperluas distribusi ke daerah lain.
Kurangi Impor LPG
Indonesia masih mengimpor sekitar 8,6 juta ton LPG setiap tahun. Nilai impor tersebut mencapai sekitar Rp130 triliun hingga Rp140 triliun per tahun. Selain itu, pemerintah mengalokasikan subsidi LPG sekitar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun setiap tahun.
Karena itu, pemerintah mendorong penggunaan CNG untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor sekaligus menekan beban anggaran negara.









