Kalimantan Barat, jemarionline.com – Di kawasan perbatasan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, digitalisasi keuangan perbatasan mulai mengubah pola hidup masyarakat. Perubahan ini terasa kuat di wilayah Jagoi Babang yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia.
Warga kini tidak hanya bergantung pada transaksi tunai, tetapi mulai memanfaatkan layanan digital seperti QRIS dan agen perbankan.
Meski begitu, aktivitas ekonomi lintas negara tetap berlangsung aktif, terutama di sektor perdagangan dan pasar perbatasan.
Hidup di Antara Dua Sistem Ekonomi
Masyarakat Jagoi Babang sejak lama hidup dalam ruang ekonomi yang unik. Mereka berinteraksi langsung dengan Sarawak melalui aktivitas jual beli di Pasar Serikin yang ramai setiap akhir pekan.
Hasil bumi, sayuran, buah, hingga kerajinan tangan dari Indonesia dipasarkan ke pembeli Malaysia dan wisatawan internasional. Dalam praktiknya, rupiah dan ringgit sama-sama digunakan dalam transaksi sehari-hari.
Guru SD, Carsan atau Asep Dea, yang lama bertugas di wilayah tersebut, menyebut kondisi ini sebagai realitas ekonomi yang terus berjalan tanpa sekat administratif yang tegas.
Perubahan mulai terasa ketika layanan perbankan digital masuk lebih luas ke wilayah perbatasan. Kehadiran agen bank dan layanan digital membuat warga tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke kota untuk sekadar melakukan transaksi.
Masyarakat kini bisa memanfaatkan layanan dari Bank Rakyat Indonesia melalui agen di desa maupun aplikasi digital. Salah satu layanan yang banyak digunakan adalah BRImo, yang memudahkan transaksi keuangan langsung dari ponsel.
Selain itu, sistem pembayaran QRIS juga semakin banyak digunakan oleh warung, UMKM, hingga pelaku usaha kecil di perbatasan.
Agen BRILink Jadi Penghubung Ekonomi Desa
Peran agen layanan keuangan seperti Agen BRILink juga semakin penting. Warga dapat melakukan tarik tunai, setor uang, hingga transfer tanpa harus ke kantor bank di kota.
Asep Dea menggambarkan layanan ini sebagai penggerak utama inklusi keuangan di desa-desa perbatasan. Ia menyebut masyarakat kini lebih mudah mengelola uang hasil panen maupun kiriman keluarga.
Meski begitu, pola transaksi di lapangan masih terbagi dua. Sektor pertanian dan perkebunan masih didominasi uang tunai, sementara sektor ritel dan generasi muda mulai beralih ke transaksi digital.
Di balik perkembangan tersebut, tantangan masih cukup besar. Jaringan telekomunikasi di beberapa titik perbatasan belum stabil. Bahkan, ponsel warga sering menangkap sinyal dari Malaysia di bandingkan jaringan lokal.
Kondisi ini membuat transaksi digital kadang terganggu, terutama saat koneksi internet melemah. Selain itu, literasi keuangan digital juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Sebagian warga, terutama kelompok usia lanjut, masih mengandalkan transaksi tunai karena belum sepenuhnya percaya pada sistem digital.
Ringgit Masih Beredar di Perbatasan
Selain tantangan teknologi, penggunaan ringgit Malaysia masih cukup kuat dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Kedekatan geografis dengan Sarawak membuat perputaran mata uang asing dan rupiah terjadi bersamaan.
Situasi ini menjadi perhatian dalam upaya memperkuat posisi rupiah di wilayah perbatasan. Penguatan layanan keuangan di nilai tidak hanya soal akses, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan nasional.
Perbankan Dorong Inklusi Keuangan Berkelanjutan
Sektor perbankan terus memperluas layanan untuk menjangkau wilayah perdesaan dan perbatasan. Selain memperluas jaringan agen, bank juga aktif memberikan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat.
Langkah ini mencakup pelatihan penggunaan aplikasi digital, keamanan transaksi, hingga pemanfaatan layanan kredit usaha seperti KUR untuk UMKM.
Wakil Ketua DPRD Bengkayang, Esidorus, menilai layanan digital ini membantu masyarakat dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Ia menekankan pentingnya inovasi untuk mempercepat akses keuangan di wilayah perbatasan.
Transformasi digital di Jagoi Babang menunjukkan bahwa perbatasan tidak lagi hanya soal batas geografis, tetapi juga ruang ekonomi yang terus berkembang.
Meski tantangan infrastruktur dan literasi masih ada, arah perubahan menunjukkan penguatan inklusi keuangan yang lebih luas.
Dengan semakin banyaknya warga yang menggunakan layanan digital, ekonomi perbatasan mulai bergerak ke arah yang lebih terhubung, cepat, dan efisien.(ar)









