Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat, terutama petani, agar bersiap menghadapi potensi cuaca panas ekstrem dan musim kemarau yang lebih kering pada 2026. Fenomena iklim El Nino diperkirakan berpeluang muncul mulai pertengahan tahun ini.
La Nina Berakhir, ENSO Kini Netral
BMKG menjelaskan bahwa La Nina lemah yang berlangsung sejak 2025 telah berakhir pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim global berada pada fase netral dalam sistem El Nino Southern Oscillation (ENSO).
Namun, berdasarkan pemantauan suhu laut di Samudra Pasifik, peluang munculnya El Nino pada pertengahan 2026 mencapai sekitar 50–60 persen dengan kategori lemah hingga moderat.
Kemarau Diprediksi Lebih Cepat dan Lebih Lama
BMKG juga memperkirakan musim kemarau 2026 datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini bisa menyebabkan:
-
Suhu udara lebih panas
-
Curah hujan menurun
-
Risiko kekeringan meningkat
-
Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bertambah
Sebagian wilayah bahkan diprediksi mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026, dengan puncaknya sekitar Agustus.
Dampak Besar bagi Pertanian
El Nino biasanya menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia, karena awan pembawa hujan bergeser ke wilayah lain. Dampaknya bisa berupa:
-
kekeringan lahan pertanian
-
berkurangnya produksi pangan
-
ancaman gagal panen di beberapa daerah
Karena itu, BMKG mengimbau sektor pertanian untuk menyiapkan langkah mitigasi seperti pengaturan pola tanam, pengelolaan air, dan pemantauan cuaca secara berkala.
✅ Kesimpulan:
Indonesia belum memasuki El Nino, tetapi peluangnya cukup besar pada pertengahan 2026. Jika terjadi, kondisi ini dapat memicu cuaca lebih panas, kemarau panjang, dan risiko kekeringan di banyak wilayah.









