Dolar AS Tembus Rp 18.000, Pemerintah Yakin Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Anggi M/detikcom)

(Foto: Anggi M/detikcom)

Jakarta, Jemarionline.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) sempat menembus level Rp 18.000 pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Meski demikian, pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional dan menilai Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang masih terkendali menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global. Menurutnya, pemerintah terus memantau perkembangan pasar keuangan dan menyiapkan langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Selain itu, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk merespons dinamika nilai tukar rupiah.

Pemerintah Optimistis Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi yang solid. Ia menilai pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga dan inflasi yang terkendali menjadi indikator penting yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap pergerakan nilai tukar yang saat ini dipengaruhi berbagai faktor eksternal.

Karena itu, pemerintah terus mengutamakan langkah koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.

Dolar Menguat karena Faktor Global

Bank Indonesia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah mata uang negara berkembang juga mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global.

Baca Juga :  IHSG Dibuka Turun ke Level 6.968 Pagi Ini, Sentimen Global Tekan Pasar

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS. Kondisi tersebut ikut memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi global.

Selain itu, investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.

Kebutuhan Dolar di Dalam Negeri Masih Tinggi

Selain tekanan eksternal, permintaan dolar di dalam negeri juga ikut memengaruhi nilai tukar rupiah.

BI mencatat kebutuhan dolar masih cukup besar untuk keperluan repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan valuta asing di pasar domestik.

Karena itu, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari luar negeri tetapi juga dari kebutuhan transaksi ekonomi di dalam negeri.

Rupiah Melemah Sejalan dengan Mata Uang Regional

Bank Indonesia menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih bergerak sejalan dengan mata uang negara lain di kawasan.

Secara year to date (YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen. Namun, BI menilai kondisi tersebut masih berada dalam pola yang relatif sejalan dengan tren regional.

Baca Juga :  IHSG Terkoreksi 1,27%, Saham BREN dan DSSA Jadi Pemberat Usai Tekanan MSCI

Selain itu, Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang cukup kuat. Hingga akhir April 2026, cadangan devisa Indonesia berada di level sekitar US$146,2 miliar.

Pemerintah dan Otoritas Keuangan Terus Berkoordinasi

Pemerintah memastikan seluruh otoritas ekonomi terus melakukan koordinasi intensif untuk memantau perkembangan pasar.

Kemenkeu, BI, dan OJK aktif mengevaluasi kondisi ekonomi serta menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sektor keuangan nasional.

Selain itu, pemerintah juga terus mengawasi dampak pergerakan kurs terhadap sektor riil dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, pemerintah berharap pelaku usaha dan masyarakat tetap tenang menghadapi dinamika pasar yang terjadi saat ini.

Pasar Keuangan Masih Menghadapi Tekanan

Selain rupiah, tekanan juga terlihat pada pasar saham domestik.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan adanya tekanan yang berasal dari sentimen global dan meningkatnya kehati-hatian investor. Namun pemerintah menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang tepat.

Karena itu, pemerintah tetap percaya bahwa ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang cukup baik untuk menghadapi tantangan global saat ini. (man)

Berita Terkait

Kementerian ESDM Setujui 664 RKAB Tambang Minerba hingga Juni 2026
Asing Kembali Borong Saham RI, Net Buy Rp492 Miliar di 10 Emiten Pilihan
Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar
Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027
Media Asing Soroti Kenaikan Mendadak BI Rate, Investor Asing Langsung Dihubungi Bank Indonesia
Family Office Berpotensi Bawa Ratusan Miliar Dolar AS ke Indonesia
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 09:00 WIB

Kementerian ESDM Setujui 664 RKAB Tambang Minerba hingga Juni 2026

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:00 WIB

Asing Kembali Borong Saham RI, Net Buy Rp492 Miliar di 10 Emiten Pilihan

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:00 WIB

Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:00 WIB

Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027

Berita Terbaru