JAKARTA, Jemarionline.com — Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat seiring terhentinya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Analis menilai kegagalan pembicaraan damai mendorong sentimen negatif di pasar global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar beralih ke aset aman, termasuk dolar AS.
Negosiasi AS–Iran Picu Tekanan Rupiah
Analis mata uang Lukman Leong menyebut kegagalan negosiasi memperkuat dolar AS.
Ia menjelaskan kondisi itu juga mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan harga energi memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik membuat pasar masuk fase risk off.
Dalam kondisi ini, investor cenderung menghindari aset berisiko dan memilih dolar.
Harga Minyak dan Dolar Jadi Faktor Utama
Konflik di Timur Tengah ikut memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Ketegangan antara AS dan Iran mendorong harga minyak naik.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat di tengah meningkatnya permintaan.
Kondisi tersebut memberi tekanan tambahan terhadap rupiah di pasar valuta asing.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama energi dunia.
Gangguan di wilayah itu dapat memicu lonjakan harga energi secara global.
Rupiah Bergerak di Kisaran Rp17.100–Rp17.300
Analis memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.100 hingga Rp17.300 per dolar AS.
Pergerakan ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan faktor domestik.
Dari dalam negeri, pasar menyoroti kondisi defisit anggaran.
Selain itu, Bank Indonesia belum memberi sinyal kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Meski begitu, Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar.
Bank sentral meningkatkan intervensi di pasar untuk menahan pelemahan rupiah.
Ketidakpastian Global Masih Jadi Risiko
Pasar global masih mencermati perkembangan konflik AS–Iran.
Upaya diplomasi yang belum menemukan titik temu memperbesar ketidakpastian.
Kondisi ini membuat volatilitas pasar tetap tinggi.
Karena itu, pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Selanjutnya, arah rupiah akan bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
Jika tekanan global berlanjut, rupiah berpotensi tetap bergerak fluktuatif.









