Antrean Haji Mengular, Wacana “War Ticket” Dinilai Berisiko

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 11 April 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Antrean Haji Mengular, Wacana “War Ticket” Dinilai Berisiko ( dok.Wikimedia Commons/KOMPAS.com )

Antrean Haji Mengular, Wacana “War Ticket” Dinilai Berisiko ( dok.Wikimedia Commons/KOMPAS.com )

Jemarionline.com, Panjang antrean ibadah haji di Indonesia kembali menjadi sorotan, sejumlah calon jemaah haji daerah bahkan harus menunggu puluhan hingga ratusan tahun untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.

Situasi ini memunculkan berbagai wacana solusi, salah satunya konsep “war ticket” atau perebutan kursi haji tambahan secara cepat. Namun, skema tersebut dinilai berpotensi menimbulkan masalah baru, terutama terkait aspek keuangan jemaah.

Antrean Panjang Picu Ide “War Ticket”

Pemerintah menghadapi tantangan besar akibat keterbatasan kuota haji yang tidak sebanding dengan jumlah pendaftar. Akibatnya, daftar tunggu terus menumpuk dari tahun ke tahun.

Dalam upaya mengatasi hal ini, muncul gagasan sistem “war ticket”, yakni mekanisme cepat untuk mendapatkan kursi haji tambahan di luar antrean reguler. Skema ini digadang-gadang bisa mempercepat keberangkatan bagi sebagian calon jemaah.

Baca Juga :  DPR Pertanyakan Dasar Hukum “War Ticket Haji”

Namun, wacana tersebut masih dalam tahap kajian dan belum menjadi kebijakan resmi.

Risiko Ketimpangan dan Masalah Finansial

Pengamat menilai konsep “war ticket” berpotensi menciptakan ketidakadilan. Jemaah yang memiliki kemampuan finansial lebih besar bisa lebih mudah mendapatkan kursi, sementara mereka yang sudah lama mengantre justru terpinggirkan.

Selain itu, sistem ini juga berisiko menjadi “jebakan keuangan”. Calon jemaah bisa terdorong mengambil keputusan finansial yang tidak matang demi mendapatkan kesempatan berangkat lebih cepat, misalnya dengan berutang atau menggunakan dana tidak siap.

Baca Juga :  DPR: Biaya Haji 2026 Berpotensi Membengkak hingga Rp1 Triliun

Jika tidak diatur secara ketat, skema ini dikhawatirkan memperburuk tata kelola haji yang selama ini berbasis antrean dan prinsip keadilan.

Perlu Kajian Matang dan Perlindungan Jemaah

Pakar menekankan bahwa solusi atas panjangnya antrean haji tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan instan. Pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan tetap mengedepankan asas keadilan, transparansi, dan perlindungan terhadap jemaah.

Optimalisasi pengelolaan kuota, peningkatan efisiensi, serta edukasi keuangan bagi calon jemaah dinilai lebih penting agar tidak muncul praktik yang merugikan masyarakat.

Berita Terkait

Garuda Indonesia Resmi Jadi Holding Maskapai BUMN
Mahkamah Konstitusi Putuskan Sisa Kuota Internet Tidak Hangus
Komdigi: Pelaku Judol Imingi Petani hingga IRT Rp500 Ribu
Prabowo Tetapkan Harga Khusus BBM Nelayan Rp15.000 per Liter
Prabowo Targetkan Stop Impor Solar, Siapkan Bensin dari Sawit
Harta Kekayaan Febrie Adriansyah, Tersangka Korupsi Capai Rp18,26 Miliar
Prabowo Luncurkan Biosolar B50, DPR Sebut Langkah Monumental Dunia
SKK Migas Buka Lowongan Kerja 2026, Simak Syarat dan Jadwal Pendaftaran
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:00 WIB

Garuda Indonesia Resmi Jadi Holding Maskapai BUMN

Jumat, 24 Juli 2026 - 10:00 WIB

Mahkamah Konstitusi Putuskan Sisa Kuota Internet Tidak Hangus

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:00 WIB

Komdigi: Pelaku Judol Imingi Petani hingga IRT Rp500 Ribu

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:00 WIB

Prabowo Tetapkan Harga Khusus BBM Nelayan Rp15.000 per Liter

Senin, 13 Juli 2026 - 11:00 WIB

Prabowo Targetkan Stop Impor Solar, Siapkan Bensin dari Sawit

Berita Terbaru

Sumber : Arianti Widya/Viva.co.id

OTOMOTIF

Jelang GIIAS 2026, Harga Mobil MPV Mulai Rp167 Jutaan

Senin, 27 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teknologi

Apple TV 2026: Jadwal Rilis, Rumor, dan Spesifikasi Terbaru

Senin, 27 Jul 2026 - 07:00 WIB