Nusa Tenggara Timur, jemarionline.com – Petugas Pos Pengamat Gunung Api mencatat aktivitas erupsi Gunung Ile Lewotolok meningkat signifikan dalam kurun waktu 24 jam. Gunung api yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur ini memuntahkan letusan sebanyak 177 kali.
Petugas pengamat mendeteksi ratusan kali letusan tersebut sepanjang hari Minggu. Rentetan erupsi melontarkan kolom abu tebal bertekanan sedang hingga kuat ke udara.
Syawaludin selaku petugas pos pengamatan mengonfirmasi kemunculan suara gemuruh dan dentuman lemah selama proses letusan berlangsung. Kemunculan suara tersebut menyertai letusan yang terus terjadi secara berulang.
Kolom abu vulkanik membumbung tinggi antara 200 hingga 600 meter di atas puncak kawah. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal.
Data seismogram mencatat amplitudo letusan berkisar antara 19,5 hingga 40 milimeter. Durasi setiap letusan berlangsung relatif singkat yakni sekitar 30 hingga 84 detik.
Material pijar terlihat terlontar jelas di sekitar area kawah utama gunung api tersebut. Pemandangan material membara ini mempertegas tingginya tekanan magma di dalam perut gunung.
Selain lontaran material membara, lelehan lava panas juga mulai bergerak ke area luar kawah. Aliran lava di sektor tenggara bergerak meluncur sejauh 500 meter dari bibir kawah.
Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang terus membubung dari puncak gunung. Pengamat mengamati warna asap putih tebal membumbung hingga ketinggian 100 meter di atas kawah.
Peralatan seismik merekam berbagai variasi gempa di dalam tubuh gunung sepanjang periode pengamatan. Petugas mencatat dua kali gempa guguran serta 165 kali hembusan angin vulkanik.
Instrumen pengamat juga merekam gelombang tremor harmonik dan non-harmonis secara berulang. Aktivitas tektonik lokal maupun jauh turut mewarnai catatan seismik gunung tersebut.
Syawaludin menegaskan status tingkat aktivitas Gunung Ile Lewotolok saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. Status tersebut mewajibkan seluruh masyarakat sekitar untuk tetap meningkatkan kewaspadaan harian.
Pihak otoritas melarang keras warga maupun wisatawan mendekati pusat erupsi. Petugas menetapkan batas aman dan melarang aktivitas dalam radius dua hingga tiga kilometer dari kawah.
Imbauan ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi bahaya lontaran batu pijar dan gas beracun. Warga sekitar lereng gunung diminta selalu mematuhi panduan keselamatan dari petugas.
Pemerintah daerah bersama tim SAR terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik secara intensif. Langkah ini penting guna menyiapkan respons cepat jika status gunung sewaktu-waktu meningkat.
Masyarakat mengimbau para penduduk untuk tidak panik namun tetap waspada terhadap potensi lahar hujan. Hujan deras di puncak gunung berpotensi membawa material vulkanik menuju pemukiman warga.(ar)









