Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Lampaui Rata-rata G20 dan ASEAN

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Lan Fo’an, di Beijing pada Rabu (17/6/2026).( poto : kompas.com )

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Lan Fo’an, di Beijing pada Rabu (17/6/2026).( poto : kompas.com )

Jakarta, jemarionline.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026.

Pemerintah menilai capaian tersebut menempatkan Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara anggota G20 maupun ASEAN sekaligus menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal itu saat memberikan kuliah umum di Nankai University, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Purbaya, pertumbuhan yang tetap terjaga berjalan seiring dengan inflasi yang masih berada dalam kisaran terkendali. Pada Mei 2026, tingkat inflasi tercatat sebesar 3,08 persen.

Purbaya menyebut kombinasi pertumbuhan dan stabilitas harga menjadi indikator penting yang menunjukkan fondasi ekonomi nasional tetap kuat pada awal tahun.

Pemerintah juga melihat kondisi tersebut sebagai modal untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

“Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen yoy, mengungguli banyak negara G20 dan ASEAN.

Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen,” kata Purbaya.

Ketahanan Ekonomi Dinilai Tetap Kuat

Selain pertumbuhan dan inflasi, pemerintah menyoroti ketahanan ekonomi Indonesia terhadap potensi gangguan energi global.

Baca Juga :  Stok BBM Aman 28 Hari, Yuliot Tanjung Pastikan Mudik Lebaran 2026 Lancar

Berdasarkan analisis pemerintah, Indonesia masuk kelompok negara dengan tingkat eksposur risiko yang relatif rendah serta memiliki bantalan ekonomi yang dinilai memadai untuk meredam gejolak eksternal.

Skor ketahanan energi Indonesia tercatat mencapai 77 persen. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan China yang berada di level 76 persen.

Pemerintah menilai disiplin fiskal menjadi salah satu faktor pendukung ketahanan tersebut. Defisit anggaran tetap dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) agar APBN memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan aktivitas domestik masih bergerak positif.

Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada pada level ekspansif 50,0. Pertumbuhan likuiditas perekonomian (M0) tercatat sebesar 14,8 persen secara tahunan, sementara kredit perbankan tumbuh 11,5 persen.

Dari sektor eksternal, Indonesia juga mempertahankan tren surplus perdagangan. Neraca perdagangan tercatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Cadangan devisa Indonesia mencapai 144,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp2.595 triliun. Nilai tersebut setara pembiayaan 5,6 bulan impor dan di nilai cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Baca Juga :  BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama

Dampak Mulai Terlihat pada Lapangan Kerja

Pemerintah menyatakan pertumbuhan ekonomi mulai tercermin pada kondisi pasar tenaga kerja.

Sepanjang 2026, Indonesia menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru. Kondisi itu mendorong penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,68 persen.

Pada saat yang sama, tingkat kemiskinan turun dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025. Pemerintah mengaitkan perbaikan tersebut dengan efektivitas program perlindungan sosial.

Untuk menjaga momentum, pemerintah menjalankan delapan klaster program prioritas nasional yang mencakup penguatan ketahanan pangan, energi, air, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, dan peningkatan ketangguhan menghadapi bencana.

Pemerintah juga mempercepat transformasi struktural melalui hilirisasi dan industrialisasi, penguatan ekonomi kerakyatan, pembangunan desa, serta pengentasan kemiskinan secara terintegrasi.

Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin pada indikator makro, tetapi juga mulai terlihat melalui penciptaan lapangan kerja, penurunan kemiskinan, dan perluasan kesejahteraan masyarakat.(ar)

Berita Terkait

Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel
Daftar Harga BBM Terbaru di Semua SPBU Berlaku Agustus 2026
Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Daftar Harga BBM Terbaru di Semua SPBU Berlaku Agustus 2026

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia

Berita Terbaru