Sulawesi Utara, jemarionline.com – Gempa bumi Filipina Selatan memicu warga di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, bergerak cepat menuju dataran tinggi pada Senin pagi.
Warga pesisir langsung meninggalkan rumah setelah mereka merasakan getaran kuat dan mengantisipasi potensi tsunami.
Warga dari Kelurahan Tidore dan Kelurahan Tapuang keluar rumah secara serentak saat gempa mengguncang wilayah tersebut. Mereka kemudian bergerak menuju Jalan Manganitu yang berada di area lebih tinggi dari pesisir laut.
Seorang warga Sangihe, Jufry Dalita, menjelaskan bahwa kepanikan langsung terjadi di sejumlah titik pesisir. Ia menyebut warga bereaksi cepat begitu gempa terasa kuat di dalam rumah.
“Banyak warga dari Kelurahan Tidore, Kelurahan Tapuang dan di pesisir pantai panik akibat gempa. Sekarang mereka mengungsi ke jalan Manganitu yang tinggi dari pesisir laut untuk menghindari potensi tsunami,” kata Jufry saat dihubungi ANTARA.
Jufry yang juga ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe mengimbau warga untuk tetap tenang. Ia meminta masyarakat mengutamakan keselamatan keluarga selama proses evakuasi berlangsung.
“Gempa itu sangat terasa sekali di wilayah kepulauan kami, membuat warga berhamburan keluar rumah,” ujarnya.
BMKG Catat Gempa M 7,7 di Filipina Selatan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 06.37.42 WIB di wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina.
BMKG menempatkan episenter gempa pada koordinat 5,80° LU dan 125,14° BT. Pusat gempa berada di laut sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa aktivitas subduksi lempeng memicu gempa tersebut. Ia menyebut karakter gempa termasuk dangkal berdasarkan kedalaman hiposenter.
“Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng,” kata Wijayanto.
BMKG Jelaskan Mekanisme Thrust Fault
BMKG juga mengungkap hasil analisis mekanisme sumber yang menunjukkan pergerakan naik atau thrust fault. Pola ini muncul akibat tekanan di zona subduksi yang aktif.
Getaran gempa menyebar ke berbagai wilayah Indonesia timur. Warga di beberapa daerah merasakan guncangan dengan intensitas berbeda sesuai jaraknya dari pusat gempa.
Di Kota Morotai dan Halmahera Utara, warga merasakan gempa dengan intensitas IV MMI. Sementara di Kabupaten Gorontalo Utara, getaran mencapai III hingga IV MMI.
BMKG mencatat getaran juga dirasakan di Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Parigi Moutong, Manado, Minahasa, Palu, Bitung, Bolaang Mongondow Timur, dan Halmahera Tengah.
Di wilayah tersebut, warga merasakan getaran dengan intensitas sekitar III MMI. Banyak warga keluar rumah untuk memastikan kondisi aman setelah merasakan guncangan.
Hingga laporan ini disusun, warga di Kepulauan Sangihe masih bertahan di dataran tinggi. Warga dan aparat setempat terus memantau informasi resmi dari BMKG untuk memastikan kondisi tetap aman.(ar)









