Jakarta, Jemarionline.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus berada di zona merah dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia justru menunjukkan kinerja yang positif dan tidak mencerminkan tekanan sebesar yang terlihat di pasar saham.
Purbaya menilai sentimen negatif yang berkembang di pasar menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan IHSG. Ia menyebut muncul persepsi bahwa kondisi fiskal pemerintah memburuk setelah APBN mencatat defisit pada awal tahun.
Purbaya Soroti Persepsi Negatif Fiskal
Purbaya menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar mengkhawatirkan defisit APBN yang sempat mencapai sekitar 0,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Maret 2026. Kekhawatiran tersebut memunculkan anggapan bahwa defisit anggaran berpotensi melampaui batas yang ditetapkan pemerintah.
Menurutnya, persepsi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Ia menegaskan pemerintah masih mampu menjaga stabilitas fiskal dan mengendalikan berbagai indikator ekonomi utama.
IHSG Masih Tertekan
Meski pemerintah menilai fundamental ekonomi tetap kuat, IHSG masih mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun ini.
Purbaya sebelumnya menyebut ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang baik dan berpotensi terus membaik. Ia juga menilai kinerja sejumlah perusahaan besar masih menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Karena itu, ia mengaku bingung melihat pasar saham yang belum menunjukkan pemulihan signifikan.
Pemerintah Yakin Ekonomi Tetap Kuat
Purbaya menegaskan pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional.
Menurutnya, berbagai indikator ekonomi masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Aktivitas konsumsi, belanja masyarakat, dan sektor usaha masih bergerak positif sehingga pemerintah tidak melihat adanya tanda perlambatan ekonomi yang serius.
Ia juga menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih mampu menopang pertumbuhan dalam jangka menengah dan panjang.
Investor Masih Waspadai Risiko Global
Di sisi lain, investor masih mencermati berbagai risiko global yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan.
Pelaku pasar terus memantau perkembangan suku bunga global, kondisi geopolitik internasional, dan arus modal asing. Faktor-faktor tersebut turut memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk saham di Indonesia.
Karena itu, meski fundamental ekonomi dinilai kuat, pasar saham belum sepenuhnya pulih dari tekanan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. (man)









