Harga Cabai dan Bawang Makin Pedas, Tertinggi Tembus Rp121 Ribu per Kg

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).

(FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).

Jakarta, Jemarionline.com – Kenaikan harga cabai dan bawang kembali menarik perhatian masyarakat di sejumlah daerah Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan harga sejumlah komoditas hortikultura yang turut mendorong inflasi pangan pada Juni 2026.

Harga cabai rawit bahkan mencapai Rp121 ribu per kilogram di salah satu wilayah Indonesia. Angka tersebut menjadi salah satu harga tertinggi yang tercatat dalam beberapa waktu terakhir.

Tingginya permintaan masyarakat dan berkurangnya pasokan dari sentra produksi mendorong harga cabai dan bawang terus naik dalam beberapa pekan terakhir.

Cabai Rawit Tembus Rp121 Ribu per Kilogram

BPS mencatat Kabupaten Halmahera Barat sebagai daerah dengan harga cabai rawit tertinggi di Indonesia.

Di wilayah tersebut, pedagang menjual cabai rawit hingga Rp121 ribu per kilogram. Harga itu melonjak lebih dari 112 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Lonjakan harga cabai rawit menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Selain cabai rawit, sejumlah jenis cabai lainnya juga mencatat kenaikan harga di berbagai daerah.

Kondisi tersebut memaksa masyarakat mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

Harga Bawang Ikut Merangkak Naik

Tidak hanya cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga menunjukkan tren kenaikan di sejumlah pasar tradisional.

Baca Juga :  MBG dan Kopdes Dinilai Membebani APBN, Purbaya: Program Fleksibel Bisa Disesuaikan Kondisi Fiskal

Pedagang menjual bawang merah ukuran sedang dengan harga yang lebih tinggi di berbagai wilayah dibandingkan bulan sebelumnya.

Tingginya permintaan dan distribusi yang belum stabil mendorong kenaikan harga tersebut.

Sementara itu, harga bawang putih juga bergerak naik meski kenaikannya tidak setinggi cabai rawit.

Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan.

Cuaca dan Pasokan Jadi Penyebab Utama

Pengamat pangan menilai cuaca menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produksi cabai dan bawang.

Curah hujan yang tinggi di sejumlah daerah menyebabkan hasil panen menurun sehingga pasokan ke pasar berkurang.

Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas cenderung naik.

Selain faktor cuaca, biaya distribusi dan logistik juga ikut memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.

Karena itu, harga komoditas hortikultura sering mengalami fluktuasi ketika produksi terganggu.

Kenaikan Harga Dorong Inflasi Pangan

Masyarakat menaruh perhatian besar pada kenaikan harga cabai dan bawang karena kedua komoditas tersebut termasuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Jika harga terus naik dalam waktu yang lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi pangan nasional.

Baca Juga :  Inflasi April 2026 Diprediksi Melandai Usai Lebaran, Namun Risiko Harga Energi Masih Mengintai

Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan pasokan di berbagai daerah.

Pemerintah juga mengandalkan stabilisasi pasokan dan distribusi untuk menjaga harga tetap terkendali.

Langkah tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan pasokan pangan tetap tersedia.

Masyarakat Diminta Belanja Bijak

Pemerintah mengimbau masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan dan menghindari pembelian berlebihan.

Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan program stabilisasi pangan yang pemerintah selenggarakan apabila tersedia di daerah masing-masing.

Langkah tersebut dapat membantu masyarakat mengurangi dampak kenaikan harga bahan pangan terhadap pengeluaran rumah tangga.

Pemerintah berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian dalam jumlah berlebihan yang dapat memperparah kenaikan harga.

Pemerintah Terus Pantau Perkembangan Harga

Pemerinth bersama instansi terkait terus memantau pergerakan harga pangan di berbagai daerah.

Mereka juga memperkuat koordinasi dengan daerah penghasil untuk menjaga kelancaran distribusi dan memastikan pasokan tetap tersedia.

Selain itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna mengurangi dampak kenaikan harga terhadap masyarakat.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pangan nasional di tengah tantangan cuaca dan distribusi.

Berita Terkait

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia
AEI: Ulasan MSCI Jadi Momentum Perkuat Pasar Modal Indonesia di Mata Investor Global
Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Batal Naik, Tetap Rp15.700 per Liter
BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama
AS dan Iran Mulai Damai, Mengapa Harga Pertamax Belum Turun? Ini Penjelasan Airlangga
Kepemilikan Saham Bali Tembus Rp7,95 Triliun, Tumbuh 48 Persen di Triwulan I 2026
Kredit Perbankan Tumbuh 11,51 Persen, BI Sebut Likuiditas dan Permintaan Kredit Masih Kuat
Rupiah Melemah ke Rp17.738 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:20 WIB

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:54 WIB

AEI: Ulasan MSCI Jadi Momentum Perkuat Pasar Modal Indonesia di Mata Investor Global

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:00 WIB

BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:00 WIB

AS dan Iran Mulai Damai, Mengapa Harga Pertamax Belum Turun? Ini Penjelasan Airlangga

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:00 WIB

Kepemilikan Saham Bali Tembus Rp7,95 Triliun, Tumbuh 48 Persen di Triwulan I 2026

Berita Terbaru