Jakarta, Jemarionline.com – Kenaikan harga cabai dan bawang kembali menarik perhatian masyarakat di sejumlah daerah Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan harga sejumlah komoditas hortikultura yang turut mendorong inflasi pangan pada Juni 2026.
Harga cabai rawit bahkan mencapai Rp121 ribu per kilogram di salah satu wilayah Indonesia. Angka tersebut menjadi salah satu harga tertinggi yang tercatat dalam beberapa waktu terakhir.
Tingginya permintaan masyarakat dan berkurangnya pasokan dari sentra produksi mendorong harga cabai dan bawang terus naik dalam beberapa pekan terakhir.
Cabai Rawit Tembus Rp121 Ribu per Kilogram
BPS mencatat Kabupaten Halmahera Barat sebagai daerah dengan harga cabai rawit tertinggi di Indonesia.
Di wilayah tersebut, pedagang menjual cabai rawit hingga Rp121 ribu per kilogram. Harga itu melonjak lebih dari 112 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Lonjakan harga cabai rawit menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Selain cabai rawit, sejumlah jenis cabai lainnya juga mencatat kenaikan harga di berbagai daerah.
Kondisi tersebut memaksa masyarakat mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.
Harga Bawang Ikut Merangkak Naik
Tidak hanya cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga menunjukkan tren kenaikan di sejumlah pasar tradisional.
Pedagang menjual bawang merah ukuran sedang dengan harga yang lebih tinggi di berbagai wilayah dibandingkan bulan sebelumnya.
Tingginya permintaan dan distribusi yang belum stabil mendorong kenaikan harga tersebut.
Sementara itu, harga bawang putih juga bergerak naik meski kenaikannya tidak setinggi cabai rawit.
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan.
Cuaca dan Pasokan Jadi Penyebab Utama
Pengamat pangan menilai cuaca menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produksi cabai dan bawang.
Curah hujan yang tinggi di sejumlah daerah menyebabkan hasil panen menurun sehingga pasokan ke pasar berkurang.
Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas cenderung naik.
Selain faktor cuaca, biaya distribusi dan logistik juga ikut memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.
Karena itu, harga komoditas hortikultura sering mengalami fluktuasi ketika produksi terganggu.
Kenaikan Harga Dorong Inflasi Pangan
Masyarakat menaruh perhatian besar pada kenaikan harga cabai dan bawang karena kedua komoditas tersebut termasuk kebutuhan pokok sehari-hari.
Jika harga terus naik dalam waktu yang lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi pangan nasional.
Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan pasokan di berbagai daerah.
Pemerintah juga mengandalkan stabilisasi pasokan dan distribusi untuk menjaga harga tetap terkendali.
Langkah tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan pasokan pangan tetap tersedia.
Masyarakat Diminta Belanja Bijak
Pemerintah mengimbau masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan dan menghindari pembelian berlebihan.
Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan program stabilisasi pangan yang pemerintah selenggarakan apabila tersedia di daerah masing-masing.
Langkah tersebut dapat membantu masyarakat mengurangi dampak kenaikan harga bahan pangan terhadap pengeluaran rumah tangga.
Pemerintah berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian dalam jumlah berlebihan yang dapat memperparah kenaikan harga.
Pemerintah Terus Pantau Perkembangan Harga
Pemerinth bersama instansi terkait terus memantau pergerakan harga pangan di berbagai daerah.
Mereka juga memperkuat koordinasi dengan daerah penghasil untuk menjaga kelancaran distribusi dan memastikan pasokan tetap tersedia.
Selain itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna mengurangi dampak kenaikan harga terhadap masyarakat.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pangan nasional di tengah tantangan cuaca dan distribusi.









