JAKARTA, Jemarionline.com – Para ekonom memperkirakan inflasi April 2026 mulai melandai setelah periode Ramadan dan Idul Fitri berakhir. Mereka melihat normalisasi konsumsi masyarakat sebagai faktor utama yang menahan kenaikan harga pada bulan ini.
Lonjakan permintaan selama Ramadan dan Lebaran sebelumnya mendorong kenaikan harga di berbagai sektor. Namun, kondisi itu kini mulai berubah. Aktivitas belanja masyarakat berangsur stabil, sehingga tekanan inflasi ikut mereda.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menegaskan bahwa pola musiman sangat memengaruhi pergerakan inflasi. “Normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idul Fitri mendorong penurunan tekanan harga,” ujarnya.
Permintaan Turun, Harga Mulai Terkendali
Selama Ramadan hingga Lebaran, masyarakat meningkatkan konsumsi untuk kebutuhan pangan, transportasi, dan sandang. Peningkatan itu langsung mendorong harga naik dalam waktu singkat.
Memasuki April, pola konsumsi kembali normal. Masyarakat mengurangi belanja, sementara pasokan barang mulai stabil. Kombinasi ini menekan harga sejumlah komoditas.
Para ekonom memproyeksikan inflasi bulanan turun cukup signifikan dibandingkan Maret. Sejumlah bahan pangan bahkan mulai menunjukkan tren penurunan harga.
Pasokan yang meningkat dari masa panen membantu menekan harga cabai, telur, dan daging ayam. Di sisi lain, distribusi barang yang lebih lancar ikut menjaga stabilitas harga di pasar.
Proyeksi Inflasi dari Berbagai Lembaga
Sejumlah ekonom menyampaikan proyeksi yang relatif sejalan, meski angka yang mereka gunakan berbeda tipis.
Chief Economist Bank Syariah Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo, memperkirakan inflasi tahunan berada di kisaran 2,8%. Angka ini lebih rendah dibandingkan Maret yang sempat mendekati 3,5%.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, bahkan melihat peluang penurunan lebih dalam. Ia memperkirakan inflasi bisa bergerak di sekitar 2,4% secara tahunan.
Menurut Hosianna, normalisasi konsumsi dan efek basis tinggi tahun lalu berperan besar dalam menahan laju inflasi. “Tekanan musiman sudah mereda, sehingga inflasi ikut turun,” jelasnya.
Namun, tidak semua lembaga sepenuhnya optimistis. Sejumlah analis masih melihat potensi tekanan dari faktor eksternal, terutama energi.
Inflasi Inti Tetap Stabil
Selain inflasi umum, ekonom juga mencermati inflasi inti sebagai indikator daya beli masyarakat. Mereka menilai inflasi inti masih berada dalam kondisi stabil.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memperkirakan inflasi inti bergerak di kisaran 2,6% hingga 3,0%. Ia melihat permintaan domestik tumbuh secara moderat tanpa lonjakan berlebihan.
Stabilitas ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap berbelanja, tetapi tidak dalam jumlah yang agresif. Kondisi tersebut membantu menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Harga Energi Jadi Ancaman Utama
Meski inflasi melandai, para ekonom tetap mengingatkan risiko dari sektor energi. Kenaikan harga BBM non-subsidi dan LPG dapat mendorong inflasi dari sisi biaya produksi.
Harga energi global juga memengaruhi kondisi domestik. Ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia bisa meningkatkan biaya impor energi.
Josua Pardede menilai dampak kenaikan energi tidak langsung muncul dalam satu waktu. “Biaya transportasi dan logistik biasanya naik lebih dulu, lalu produsen menyesuaikan harga,” katanya.
Ketika biaya produksi meningkat, pelaku usaha cenderung meneruskan beban tersebut kepada konsumen. Kondisi ini berpotensi menahan penurunan inflasi.
Harga Pangan Mulai Stabil
Sektor pangan mulai menunjukkan perbaikan setelah mengalami tekanan selama Ramadan. Pasokan yang membaik membantu menurunkan harga beberapa komoditas utama.
Petani memasuki masa panen di sejumlah daerah, sehingga stok di pasar meningkat. Kondisi ini langsung menekan harga cabai, ayam, dan telur.
Namun, ekonom tetap mengingatkan potensi gangguan dari faktor cuaca dan distribusi. Jika rantai pasok terganggu, harga bisa kembali naik dalam waktu singkat.
Selain itu, kenaikan harga bahan baku seperti plastik juga memengaruhi biaya produksi makanan dan minuman kemasan. Dampak ini bisa muncul secara bertahap.
Dampak ke Masyarakat dan Dunia Usaha
Penurunan inflasi memberi ruang bagi masyarakat untuk menjaga daya beli setelah periode pengeluaran tinggi saat Lebaran. Harga yang lebih stabil membantu rumah tangga mengatur kembali keuangan mereka.
Namun, potensi kenaikan harga energi tetap menjadi perhatian. Jika biaya transportasi naik, pengeluaran harian masyarakat bisa ikut meningkat.
Di sisi lain, pelaku usaha menghadapi situasi yang cukup kompleks. Mereka menikmati stabilitas permintaan, tetapi harus mengelola risiko kenaikan biaya produksi.
Perusahaan yang mampu meningkatkan efisiensi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Sementara itu, pelaku usaha yang tidak siap bisa mengalami tekanan pada margin keuntungan.
Peran Pemerintah dan Bank Indonesia
Pemerintah terus menjaga stabilitas harga melalui berbagai kebijakan, terutama di sektor pangan dan energi. Mereka memperkuat distribusi dan memastikan ketersediaan barang di pasar.
Bank Indonesia juga memantau pergerakan inflasi secara ketat. Otoritas moneter ini berupaya menjaga inflasi tetap berada dalam target yang telah ditetapkan.
Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam mengendalikan harga. Dengan langkah yang tepat, tekanan inflasi dapat ditekan tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.









