Jemarionline.com, Jakarta – Tahun 2026 diperkirakan menjadi periode berat bagi ekonomi global. Sejumlah sektor industri terutama manufaktur, diprediksi akan menghadapi tekanan besar.Penyebab utamanya adalah penurunan permintaan, kenaikan biaya produksi, serta rantai pasok global yang belum sepenuhnya stabil.Kondisi ini membuat risiko penutupan pabrik semakin meningkat untuk berbagai negara.
Industri Manufaktur Paling Tertekan
Sektor manufaktur menjadi yang paling rentan terhadap situasi ini. Beberapa subsektor yang terdampak antara lain:
- Industri tekstil dan garmen
- Elektronik dan komponen teknologi
- Industri berbasis ekspor
- Produksi yang bergantung pada bahan baku impor
Kenaikan harga bahan baku dan komponen membuat biaya produksi terus naik. Sementara itu, permintaan pasar global belum pulih secara optimal.
Biaya Produksi Naik, Permintaan Lemah
Beberapa faktor utama yang memperburuk kondisi industri meliputi:
- Kenaikan harga energi dan biaya logistik
- Persaingan global yang semakin ketat
- Efisiensi besar-besaran di sektor industri
- Perlambatan konsumsi di berbagai negara
Banyak perusahaan kini melakukan efisiensi agar tetap bertahan. Langkah tersebut termasuk pengurangan produksi hingga pengurangan tenaga kerja.
Dampak Meluas ke Sektor Lain
Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan industri manufaktur. Beberapa potensi dampak lainnya adalah:
- Peningkatan angka PHK
- Penurunan output industri
- Perlambatan pertumbuhan ekonomi global
- Bertambahnya pabrik kecil dan menengah yang tutup









