Media China Soroti Rupiah Merosot, Sebut Faktor Ini Jadi Penyebab Utama

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

(Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, Jemarionlie.com – Media China, Xinhua, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sorotan tersebut muncul setelah rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS dan mencatat salah satu pelemahan terdalam di kawasan Asia pada tahun ini.

Xinhua melaporkan rupiah turun sekitar 0,27 persen ke level Rp18.015 per dolar AS. Secara tahunan, pelemahan mata uang Indonesia telah melampaui 7 persen. Kondisi tersebut memicu perhatian pelaku pasar dan media internasional.

Xinhua Ungkap Penyebab Pelemahan Rupiah

Xinhua menilai beberapa faktor eksternal dan domestik menekan pergerakan rupiah dalam beberapa bulan terakhir.

Media tersebut menyoroti penguatan dolar AS yang terjadi di pasar global. Investor juga cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian ekonomi global meningkat. Kondisi itu membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar.

Baca Juga :  Harga Emas Terancam Zona Bahaya, Tekanan Datang dari Dua Arah

Selain faktor global, pelaku pasar juga mencermati kondisi ekonomi dalam negeri dan perkembangan kebijakan fiskal serta moneter Indonesia.

Dolar AS Semakin Dominan

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang paling banyak dibahas oleh analis.

Ketika dolar menguat, investor global biasanya meningkatkan kepemilikan aset berbasis dolar. Langkah tersebut mendorong arus modal keluar dari sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Selain itu, tingginya permintaan dolar untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri juga ikut memengaruhi nilai tukar rupiah.

Investor Cermati Kondisi Ekonomi Global

Ketidakpastian ekonomi global turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan.

Pelaku pasar masih memperhatikan perkembangan suku bunga AS, kondisi geopolitik dunia, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara. Faktor-faktor tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka.

Karena itu, mata uang negara berkembang menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan mata uang negara maju.

Baca Juga :  Rupiah Melemah, OJK Sebut Perbankan Masih Aman tapi Waspadai Risiko Ini

Dampak Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai barang dan bahan baku.

Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga produk yang bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam dolar AS juga harus mengeluarkan biaya lebih besar ketika melakukan pembayaran.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor yang berorientasi ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Pemerintah dan BI Terus Memantau

Pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah.

Otoritas moneter berupaya menjaga stabilitas pasar keuangan melalui berbagai instrumen kebijakan. Langkah tersebut bertujuan mengurangi gejolak yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi nasional.

Karena itu, pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah. (man)

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Prabowo Dijadwalkan Resmikan Biodiesel B50 pada 9 Juli, Pemerintah Percepat Transisi Energi
Tarif Listrik Juli-September 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Penjelasannya
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:00 WIB

Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan

Berita Terbaru

Sumber : Arianti Widya/Viva.co.id

OTOMOTIF

Jelang GIIAS 2026, Harga Mobil MPV Mulai Rp167 Jutaan

Senin, 27 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teknologi

Apple TV 2026: Jadwal Rilis, Rumor, dan Spesifikasi Terbaru

Senin, 27 Jul 2026 - 07:00 WIB