USDT vs Dolar AS untuk Lindung Nilai Rupiah: Ini Perbedaan Risiko dan Strateginya

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Poto : chatGPT

Ilustrasi Poto : chatGPT

Jakarta, jemarionline.com – Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendorong investor mencari lindung nilai rupiah investasi melalui berbagai instrumen. Investor kemudian banyak memilih USDT sebagai salah satu opsi. Namun, pakar menilai USDT dan dolar AS memiliki karakteristik serta tingkat risiko yang berbeda meski sama-sama berfungsi menjaga nilai aset.

Pengamat aset kripto Desmond Wira melihat banyak investor menggunakan USDT untuk mempertahankan nilai aset saat rupiah melemah. Ia menekankan investor tidak seharusnya menaruh seluruh dana hanya pada USDT.

“Tidak sepenuhnya bijak menaruh 100 persen hanya di USDT, meski USDT efektif sebagai hedge karena nilainya ikut naik saat kurs dolar AS atau nilai rupiah melemah,” kata Desmond kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

USDT Jadi Pilihan Saat Pasar Kripto Bergerak

USDT atau Tether menjadi stablecoin yang investor kripto gunakan untuk menyimpan nilai dalam bentuk digital. Aset ini mengikuti dolar AS dengan rasio 1:1 sehingga banyak orang menyebutnya sebagai “dolar digital”.

Investor di Indonesia memakai USDT karena mereka bisa mengirim dan menerima aset secara cepat melalui platform kripto. Mereka juga memanfaatkan akses 24 jam tanpa batas waktu perdagangan.

Baca Juga :  PPPK Gugat UU ASN, Soroti Pasal yang Dinilai Diskriminatif

Meski begitu, Desmond menegaskan investor tetap perlu memahami risiko yang melekat pada USDT.

Risiko USDT di Tengah Volatilitas Pasar

USDT bisa mengalami depeg ketika nilainya tidak lagi mengikuti patokan 1 dolar AS. Kondisi ini biasanya muncul saat pasar kripto mengalami tekanan besar.

Investor yang panik sering menjual aset secara bersamaan sehingga tekanan likuiditas meningkat. Situasi ini dapat mengganggu kestabilan harga USDT di pasar.

Selain itu, risiko juga muncul dari penerbit stablecoin, gangguan pada platform perdagangan, serta masalah teknis pada jaringan blockchain. Semua faktor tersebut dapat memicu gangguan sementara pada sistem.

Desmond menilai dolar AS fisik atau saldo rekening valas bank memberikan perlindungan lebih kuat dibanding aset digital. Ia menjelaskan bahwa dolar AS fisik tidak bergantung pada perusahaan kripto atau sistem pihak ketiga.

“Ini tempat berlindung paling aman secara tradisional karena langsung klaim atas dolar AS asli tanpa perantara tambahan,” ujarnya.

Baca Juga :  Harga Emas Masih Tertekan, Pakar Prediksi Bisa Turun ke Level Ini

Namun, investor tetap menghadapi tantangan seperti risiko penyimpanan uang tunai, keterbatasan transaksi besar, dan aturan pembelian valas yang berlaku di Indonesia.

Perbandingan Fungsi USDT dan Dolar AS

USDT menawarkan keunggulan berupa transaksi cepat, biaya rendah, dan akses global selama 24 jam. Investor juga memakai USDT untuk perdagangan aset kripto dan layanan keuangan digital.

Sebaliknya, dolar AS fisik menawarkan stabilitas dan keamanan jangka panjang. Banyak investor memilihnya untuk menyimpan nilai dalam periode panjang meski penggunaannya tidak sefleksibel USDT.

Desmond menyarankan investor membagi dana ke beberapa instrumen untuk mengurangi risiko. Ia mendorong kombinasi antara USDT dan dolar AS fisik atau rekening valas.

Ia juga menekankan penyesuaian berdasarkan jangka waktu penyimpanan. Investor yang menyimpan dana lebih lama sebaiknya meningkatkan porsi dolar AS fisik.

“Semakin panjang mau simpan dolar AS, perbesar instrumen dolar AS tunai, karena jauh lebih aman,” kata Desmond.(ar)

Berita Terkait

Puluhan Siswa dan Guru SDN 2 Kanigoro Madiun Diduga Keracunan MBG
Kerahkan Drone Thermal, Tim Gabungan Atasi Karhutla Banjarbaru
Korban Keracunan MBG di Nganjuk Melonjak Tembus 127 Orang
WMO Peringatkan El Nino Sangat Kuat Ancam Dunia Hingga 2027
MK Batalkan Pasal Penghinaan Pemerintah di KUHP Baru
Tiga Gubernur Tinjau Penanganan Bencana Gempa Magnitudo 7,7 di NTT
Subsidi Energi Rp 233 Triliun, Konsumsi BBM Naik
KPK Tetapkan Staf Admin Tersangka Pemerasan Bupati Pemalang
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 08:32 WIB

Puluhan Siswa dan Guru SDN 2 Kanigoro Madiun Diduga Keracunan MBG

Rabu, 9 September 2026 - 14:03 WIB

Kerahkan Drone Thermal, Tim Gabungan Atasi Karhutla Banjarbaru

Jumat, 4 September 2026 - 08:54 WIB

Korban Keracunan MBG di Nganjuk Melonjak Tembus 127 Orang

Kamis, 3 September 2026 - 16:47 WIB

WMO Peringatkan El Nino Sangat Kuat Ancam Dunia Hingga 2027

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:30 WIB

MK Batalkan Pasal Penghinaan Pemerintah di KUHP Baru

Berita Terbaru

Kepala Dinsos P3A Kabupaten Tebo Arief Haryoko.(poto: jambiprima.com).

Daerah

Jumlah Warga Miskin Desil 1 Kabupaten Tebo Meningkat

Kamis, 10 Sep 2026 - 08:17 WIB