Jakarta, Jemarionline.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan besar terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah bahkan membuat salah satu bank nasional menjual dolar AS di level Rp18.135 per dolar.
Kondisi tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena kurs dolar semakin mendekati level psikologis Rp18.200. Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga terus memicu kekhawatiran di sektor keuangan dan perdagangan.
Kurs Dolar di Perbankan Terus Naik
Sejumlah bank nasional mulai menaikkan harga jual dolar AS mengikuti pergerakan pasar global.
Salah satu bank tercatat menjual dolar di kisaran Rp18.135 per dolar AS. Sementara itu, kurs beli berada di level yang lebih rendah mengikuti spread perbankan.
Lonjakan kurs tersebut menunjukkan tekanan besar yang saat ini terjadi pada rupiah di pasar valuta asing.
Rupiah Masih Tertekan Sentimen Global
Pelaku pasar menilai penguatan dolar AS global menjadi faktor utama pelemahan rupiah.
Selain itu, tingginya suku bunga AS dan arus modal keluar dari negara berkembang ikut menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global juga membuat investor lebih memilih aset safe haven seperti dolar AS.
Bank Indonesia Terus Pantau Pergerakan Rupiah
Bank Indonesia terus memantau kondisi pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Selain itu, bank sentral juga menjalankan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Pelaku pasar kini menunggu kebijakan lanjutan Bank Indonesia untuk menahan tekanan terhadap mata uang domestik.
Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa
Pelemahan rupiah dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi, terutama yang bergantung pada impor dan pembayaran dolar AS.
Selain itu, kenaikan kurs dolar juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku, harga barang elektronik, hingga tarif perjalanan luar negeri.
Karena itu, banyak masyarakat mulai memantau pergerakan kurs dolar harian.
Pasar Keuangan Masih Fluktuatif
Sepanjang 2026, rupiah mengalami volatilitas cukup tinggi akibat tekanan eksternal dan perubahan sentimen investor global.
Selain itu, pergerakan IHSG dan pasar obligasi juga ikut terpengaruh oleh perubahan kurs dolar AS.
Analis menilai rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif selama tekanan global belum mereda. (man)









