Jakarta, Jemarionline.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan. Pergerakan tersebut membuat rupiah menutup perdagangan di posisi terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Data perdagangan menunjukkan rupiah ditutup melemah 0,19% ke level Rp17.743 per dolar AS pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Angka tersebut menjadi rekor penutupan terlemah yang tercatat sejauh ini.
Meski beberapa mata uang Asia bergerak lebih stabil, tekanan terhadap rupiah masih bertahan dan membuat pasar terus memantau langkah lanjutan otoritas ekonomi.
Apa yang Menekan Rupiah?
Sejumlah faktor eksternal masih menjadi perhatian pasar.
Salah satu faktor utama datang dari penguatan dolar AS. Ketika dolar menguat, investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan.
Selain itu, kenaikan harga energi global juga ikut mempersempit ruang gerak mata uang di kawasan Asia. Harga minyak yang tetap tinggi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan tekanan ekonomi global.
Di sisi lain, pasar juga menyoroti persepsi risiko terhadap aset domestik yang dinilai ikut memengaruhi tekanan pada rupiah.
Pelemahan Tidak Terjadi Sekali
Pergerakan rupiah sebenarnya sudah menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa pekan terakhir.
Pada awal Mei, rupiah sempat menyentuh Rp17.420 per dolar AS dan saat itu sudah mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah. Setelah itu, tekanan terus berlanjut hingga menembus level baru.
Beberapa hari sebelumnya, rupiah juga sempat ditutup di Rp17.656 per dolar AS sebelum akhirnya bergerak lebih rendah lagi.
Data pasar menunjukkan pelemahan rupiah sepanjang tahun berjalan terus menjadi perhatian pelaku pasar dan pelaku usaha.
Apa Dampaknya ke Masyarakat?
Pergerakan kurs tidak selalu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Namun jika pelemahan berlangsung lama, beberapa sektor dapat ikut merasakan dampaknya.
Barang impor berpotensi menjadi lebih mahal. Selain itu, biaya produksi industri yang memakai bahan baku luar negeri juga dapat meningkat.
Sektor yang memiliki ketergantungan terhadap dolar AS biasanya ikut memantau kondisi ini secara lebih ketat.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan keputusan investasi.
Pasar Menunggu Respons Berikutnya
Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari otoritas ekonomi.
Sejumlah analis menilai pasar akan terus memperhatikan arah kebijakan moneter, stabilitas likuiditas, serta upaya menjaga arus modal agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin besar.
Sementara itu, Bank Indonesia tetap memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. (man)









