Jakarta, jemarionline.com – Kementerian Pertanian memastikan ketersediaan bawang merah stabil menjelang Idul Adha 1447 H dengan memperketat pengawasan distribusi dan pasokan di berbagai daerah. Langkah ini dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan harga di pasar tidak bergejolak, meski cuaca ekstrem sempat mengganggu produksi di sejumlah sentra.
Pasokan Masih Aman dari Sentra Produksi
Kementan menyebut produksi bawang merah nasional saat ini masih dalam kondisi aman. Sejumlah daerah andalan seperti Brebes, Solok, Enrekang, Nganjuk, Garut, hingga Probolinggo tetap menjadi penopang utama pasokan nasional.
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Muhammad Taufiq Ratule, mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak.
“Kami memperkuat sinergi dengan petani champion, pemerintah daerah, asosiasi, dan lembaga terkait agar distribusi tetap lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan, produksi bawang merah nasional mencapai sekitar 2 juta ton bawang basah per tahun atau setara 1,3 juta ton bawang kering. Sementara kebutuhan dalam negeri berada di kisaran 1,26 juta ton per tahun. Artinya, secara umum pasokan masih mencukupi.
Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Produksi
Meski pasokan relatif aman, cuaca ekstrem masih menjadi tantangan utama di lapangan. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyebut musim tanam Maret–Mei 2026 cukup berat bagi petani.
Perubahan cuaca memicu serangan hama seperti ulat grayak dan penyakit moler yang menurunkan produktivitas di beberapa daerah.
Namun, distribusi dari sentra produksi tetap berjalan normal. Daerah seperti Brebes, Nganjuk, Enrekang, Temanggung, Pati, dan Garut masih aktif mengirim hasil panen ke berbagai wilayah Indonesia.
“Kami terus berkoordinasi dengan dinas pertanian dan petani agar pasokan tetap aman selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional,” kata Agung.
Distribusi Tetap Lancar ke Berbagai Wilayah
Di sisi lapangan, para petani juga memastikan suplai tidak terhambat. Petani champion dari Enrekang, Kasmidi, menyebut panen masih berlangsung hingga mendekati Idul Adha.
Ia mengatakan distribusi rutin ke Kalimantan dilakukan sekitar tiga kali dalam sepekan.
Sementara itu, petani dari Solok, Amri Ismail, menyebut wilayahnya akan memasuki panen raya pada pertengahan Juni. Hasil panen ini diharapkan memperkuat pasokan ke wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Harga Masih Berpotensi Naik Sementara
Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra, mengakui adanya penurunan produksi di beberapa daerah akibat cuaca ekstrem. Penurunan tersebut berkisar 30 hingga 40 persen.
Meski begitu, stok bawang merah masih tersedia hingga akhir Mei. Namun, ia memperkirakan harga masih berada di atas harga acuan karena permintaan meningkat menjelang Idul Adha.
“Secara umum stok masih ada, tapi harga bisa bertahan tinggi sampai panen baru masuk pasar,” jelasnya.
Kementan menegaskan akan terus memantau perkembangan produksi, distribusi, dan harga di seluruh daerah. Langkah ini dilakukan agar tidak terjadi gangguan pasokan selama masa hari besar keagamaan.
Pemerintah juga berharap panen dari berbagai sentra pada Juni 2026 dapat segera menstabilkan kembali harga di pasar.
Penutup
Dengan pengawasan yang diperketat dan koordinasi lintas daerah, pemerintah optimistis pasokan bawang merah tetap aman hingga Idul Adha berakhir. Meski cuaca masih menjadi tantangan, rantai distribusi yang berjalan baik menjadi kunci menjaga stabilitas di pasar.(ar)









