Jakarta, jemarionline.com – Bank Indonesia (BI) mengerahkan cadangan devisa sekitar 10 miliar dollar AS sejak awal 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
BI mengambil langkah ini karena tekanan global meningkat dan arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Gubernur Perry Warjiyo menjelaskan bahwa BI masuk langsung ke pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah.
BI melakukan transaksi jual beli valuta asing di pasar spot, baik di dalam negeri maupun luar negeri, untuk meredam pelemahan mata uang.
Strategi Intervensi di Pasar Valuta Asing
Bank Indonesia mengarahkan intervensi melalui pasar spot ketika tekanan rupiah meningkat.
BI membeli dan menjual valuta asing untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar.
BI juga mengelola tekanan cadangan devisa dengan menggunakan instrumen swap, forward, dan hedging.
Melalui instrumen ini, BI mengalihkan sebagian intervensi agar tidak terlalu banyak menguras cadangan devisa secara langsung.
Selain itu, BI menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik investor asing.
Kebijakan ini mendorong masuknya modal asing sehingga memperkuat suplai valuta asing di pasar domestik.
Perubahan Cadangan Devisa Indonesia
BI mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai 146,2 miliar dollar AS pada akhir April 2026.
Angka ini turun dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di level 156,5 miliar dollar AS.
Penurunan tersebut terjadi karena BI aktif melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah.
Meski demikian, BI tetap menjaga cadangan devisa pada level yang dianggap aman untuk mendukung stabilitas ekonomi nasional.
Pergerakan Rupiah di Pasar
Rupiah mengalami tekanan sepanjang Mei 2026. Nilai tukar bergerak dari Rp 17.400, lalu melemah ke Rp 17.500, dan terus turun hingga Rp 17.600 dalam beberapa tahap perdagangan.
Pada 19 Mei 2026, rupiah diperdagangkan di sekitar Rp 17.729 per dollar AS berdasarkan data pasar.
Pergerakan ini menunjukkan tingginya tekanan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan Indonesia.
Dampak Terhadap Ekonomi Nasional
BI menilai pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor dan mendorong inflasi jika tidak terkendali.
Karena itu, BI terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan.
BI juga terus mengarahkan kebijakan agar cadangan devisa tetap terkelola dengan hati-hati.
Melalui strategi ini, BI berupaya menjaga stabilitas rupiah cadangan devisa, memperkuat kepercayaan investor, dan menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.(ar)









