Harga Pertalite Menjauhi Harga Keekonomian, Selisih Tembus Rp5.000 per Liter

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 8 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

(Foto: CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

JAKARTA, Jemarionline.com – Harga Pertalite terus menjauhi harga keekonomian di tengah kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah masih mempertahankan harga Pertalite di angka Rp10.000 per liter demi menjaga daya beli masyarakat.

Sejumlah pelaku industri energi memperkirakan harga keekonomian BBM RON 90 kini sudah berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per liter. Selisih harga itu membuat beban subsidi energi semakin besar.

Laporan dari media ekonomi nasional menyebutkan kenaikan harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang mendorong naiknya harga keekonomian Pertalite. Harga minyak dunia yang bergerak naik ikut meningkatkan biaya pengadaan BBM dalam negeri.

Meski tekanan terus meningkat, pemerintah belum mengambil langkah penyesuaian harga untuk Pertalite. Pemerintah memilih menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi.

Pertamina Ikuti Kebijakan Pemerintah

PT Pertamina Patra Niaga menegaskan penetapan harga Pertalite tetap mengikuti keputusan pemerintah. Perusahaan tidak menentukan harga BBM subsidi secara mandiri.

Pihak Pertamina menyebut kebijakan harga BBM subsidi menjadi bagian dari strategi nasional di sektor energi. Karena itu, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah.

“Harga BBM subsidi masih mengikuti kebijakan pemerintah,” ujar perwakilan Pertamina dalam keterangannya.

Saat ini masyarakat masih membeli Pertalite dengan harga Rp10.000 per liter di seluruh SPBU Pertamina Indonesia. Harga tersebut belum berubah hingga awal Mei 2026.

Beban Subsidi Energi Semakin Berat

Kenaikan harga minyak mentah global membuat beban subsidi energi terus meningkat. Pemerintah harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk menjaga harga BBM subsidi tetap stabil.

Pengamat energi menilai kondisi tersebut bisa menjadi tantangan serius bagi APBN jika berlangsung terlalu lama. Sebab, konsumsi Pertalite di Indonesia masih sangat tinggi.

Baca Juga :  Kenapa Pelemahan Rupiah dan IHSG Sulit Dibendung? Ini Penyebabnya

Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memengaruhi biaya impor minyak dan BBM. Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan energi ikut meningkat.

Data pasar energi menunjukkan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berada di atas asumsi APBN 2026. Kondisi itu memperbesar tekanan terhadap anggaran subsidi energi.

Pemerintah Fokus Jaga Daya Beli

Pemerintah memilih mempertahankan harga Pertalite untuk menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut dinilai penting di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan pemerintah masih berkomitmen menjaga harga BBM subsidi.

“Pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga BBM subsidi,” kata Bahlil dalam keterangannya kepada media.

Banyak masyarakat masih bergantung pada Pertalite untuk aktivitas harian. Karena itu, kenaikan harga BBM berpotensi memicu kenaikan biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok.

Jika pemerintah menaikkan harga Pertalite mendekati harga keekonomian, dampaknya bisa langsung terasa di berbagai sektor. Ongkos distribusi barang kemungkinan ikut naik.

Kondisi tersebut juga berisiko meningkatkan inflasi nasional. Karena itu, pemerintah memilih langkah hati-hati dalam menentukan kebijakan BBM subsidi.

Harga BBM Nonsubsidi Sudah Mengalami Penyesuaian

Berbeda dengan Pertalite, sejumlah BBM nonsubsidi sudah mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir. Produk seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex mengikuti pergerakan harga minyak dunia.

Harga Pertamax sendiri masih berada di kisaran Rp12.300 per liter di beberapa daerah. Selisih harga antara Pertalite dan Pertamax kini semakin tipis.

Baca Juga :  Pemerintah Tunda Pajak Pedagang Online, Fokus Tunggu Ekonomi Menguat

Situasi tersebut memicu perbincangan di media sosial. Banyak warganet membandingkan harga jual Pertalite dengan harga keekonomiannya.

Sempat muncul informasi yang menyebut harga keekonomian Pertalite menembus Rp16.000 per liter. Namun Pertamina menjelaskan angka itu hanya simulasi berdasarkan kondisi pasar global.

Reformasi Subsidi Dinilai Perlu Dilakukan

Sejumlah ekonom menilai pemerintah tetap perlu melakukan reformasi subsidi energi secara bertahap. Langkah itu penting agar anggaran negara lebih sehat dalam jangka panjang.

Menurut pengamat ekonomi, subsidi energi yang terlalu besar dapat mengurangi ruang fiskal pemerintah. Akibatnya, belanja untuk sektor produktif bisa ikut terbatas.

Namun para pengamat juga meminta pemerintah berhati-hati. Mereka menilai kebijakan kenaikan BBM harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.

Pemerintah saat ini terus memperbaiki sistem distribusi BBM subsidi agar lebih tepat sasaran. Salah satu langkah yang dilakukan ialah penggunaan sistem pendataan kendaraan penerima subsidi.

Pemerintah berharap penyaluran Pertalite hanya dinikmati masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Dengan cara itu, beban subsidi dapat ditekan secara bertahap.

Harga Minyak Dunia Masih Jadi Faktor Utama

Pergerakan harga minyak dunia diperkirakan masih menjadi faktor utama penentu harga BBM nasional. Ketegangan geopolitik global membuat harga minyak bergerak fluktuatif.

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus terus menghitung kemampuan fiskal negara. Pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan antara subsidi energi dan stabilitas ekonomi nasional.

Saat ini masyarakat masih menikmati harga Pertalite Rp10.000 per liter. Namun selisih dengan harga keekonomian terus melebar.

Jika harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap subsidi energi diperkirakan semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Prabowo Dijadwalkan Resmikan Biodiesel B50 pada 9 Juli, Pemerintah Percepat Transisi Energi
Tarif Listrik Juli-September 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Penjelasannya
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:00 WIB

Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan

Berita Terbaru

REDMAGIC

Teknologi

RedMagic Astra 2 Resmi Global, Tablet Gaming Layar OLED 185Hz

Sabtu, 18 Jul 2026 - 07:00 WIB