Krisis 2026 Diprediksi Makin Berat, Banyak Pabrik Terancam Tutup

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 14 April 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Krisis 2026 Diprediksi Makin Berat, Banyak Pabrik Terancam Tutup (dok.CNBC Indonesia/Novina Putri  Bestari)

Krisis 2026 Diprediksi Makin Berat, Banyak Pabrik Terancam Tutup (dok.CNBC Indonesia/Novina Putri Bestari)

Jemarionline.com, Jakarta – Tahun 2026 diperkirakan menjadi periode berat bagi ekonomi global. Sejumlah sektor industri terutama manufaktur, diprediksi akan menghadapi tekanan besar.Penyebab utamanya adalah penurunan permintaan, kenaikan biaya produksi, serta rantai pasok global yang belum sepenuhnya stabil.Kondisi ini membuat risiko penutupan pabrik semakin meningkat untuk berbagai negara.

Industri Manufaktur Paling Tertekan

Sektor manufaktur menjadi yang paling rentan terhadap situasi ini. Beberapa subsektor yang terdampak antara lain:

  • Industri tekstil dan garmen
  • Elektronik dan komponen teknologi
  • Industri berbasis ekspor
  • Produksi yang bergantung pada bahan baku impor
Baca Juga :  Gaji ke-13 ASN 2026 Segera Cair, Ini Jadwal dan Perkiraan Besarannya

Kenaikan harga bahan baku dan komponen membuat biaya produksi terus naik. Sementara itu, permintaan pasar global belum pulih secara optimal.

Biaya Produksi Naik, Permintaan Lemah

Beberapa faktor utama yang memperburuk kondisi industri meliputi:

  • Kenaikan harga energi dan biaya logistik
  • Persaingan global yang semakin ketat
  • Efisiensi besar-besaran di sektor industri
  • Perlambatan konsumsi di berbagai negara
Baca Juga :  Ramalan Harga Emas Sepekan ke Depan, Masih Berpeluang Naik?

Banyak perusahaan kini melakukan efisiensi agar tetap bertahan. Langkah tersebut termasuk pengurangan produksi hingga pengurangan tenaga kerja.

Dampak Meluas ke Sektor Lain

Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan industri manufaktur. Beberapa potensi dampak lainnya adalah:

  • Peningkatan angka PHK
  • Penurunan output industri
  • Perlambatan pertumbuhan ekonomi global
  • Bertambahnya pabrik kecil dan menengah yang tutup

Berita Terkait

Kementerian ESDM Setujui 664 RKAB Tambang Minerba hingga Juni 2026
Asing Kembali Borong Saham RI, Net Buy Rp492 Miliar di 10 Emiten Pilihan
Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar
Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027
Media Asing Soroti Kenaikan Mendadak BI Rate, Investor Asing Langsung Dihubungi Bank Indonesia
Family Office Berpotensi Bawa Ratusan Miliar Dolar AS ke Indonesia
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 09:00 WIB

Kementerian ESDM Setujui 664 RKAB Tambang Minerba hingga Juni 2026

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:00 WIB

Asing Kembali Borong Saham RI, Net Buy Rp492 Miliar di 10 Emiten Pilihan

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:00 WIB

Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:00 WIB

Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027

Berita Terbaru