JAKARTA – Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin digunakan di lingkungan pemerintahan dan militer Amerika Serikat. Setelah ChatGPT menuai kontroversi karena kerja sama dengan militer, kini Google Gemini juga mulai dipakai di Pentagon.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat menggunakan sistem AI tersebut melalui portal khusus bernama GenAI.mil. Platform ini membantu pegawai militer menyelesaikan berbagai pekerjaan administratif.
Namun, sistem tersebut tidak digunakan untuk mengolah informasi rahasia militer.
Digunakan Sejak Desember 2025
Laporan menyebutkan bahwa platform GenAI.mil mulai digunakan sejak Desember 2025.
Sejak saat itu, jumlah penggunanya terus meningkat. Hingga kini, lebih dari 1,2 juta pegawai Departemen Pertahanan AS telah menggunakan teknologi AI tersebut.
Para pegawai memanfaatkan Gemini untuk berbagai tugas. Misalnya menyusun dokumen, merangkum laporan, dan membantu analisis data.
Selain itu, sistem AI ini juga mempercepat proses pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual.
Puluhan Juta Perintah AI
Selama digunakan, sistem tersebut telah menerima sekitar 40 juta prompt atau perintah dari pengguna.
Tak hanya itu, lebih dari 4 juta dokumen juga telah diunggah ke dalam platform tersebut.
Dokumen tersebut digunakan untuk membantu proses analisis dan pengolahan informasi.
Dengan teknologi ini, banyak pekerjaan administratif bisa diselesaikan lebih cepat.
Kontroversi AI di Sektor Militer
Penggunaan AI oleh militer Amerika Serikat sebelumnya memicu kritik dari berbagai pihak.
Kontroversi muncul setelah OpenAI menjalin kerja sama dengan Pentagon.
Sebagian kalangan khawatir teknologi AI dapat digunakan untuk kepentingan militer yang sensitif.
Akibatnya, muncul gerakan boikot ChatGPT yang dikenal dengan nama QuitGPT.
Gerakan ini mengajak pengguna meninggalkan layanan ChatGPT sebagai bentuk protes.
Persaingan AI Semakin Ketat
Masuknya Google Gemini ke Pentagon menunjukkan persaingan teknologi AI semakin ketat.
Pemerintah Amerika Serikat kini membuka peluang bagi berbagai perusahaan teknologi untuk menyediakan sistem AI.
Selain Google dan OpenAI, beberapa perusahaan lain juga ikut bersaing dalam pengembangan AI.
Para analis menilai teknologi ini akan menjadi bagian penting dalam strategi keamanan dan pertahanan di masa depan.









