Jakarta, jemarionline.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah pada penutupan perdagangan Jumat sore. Rupiah melemah ke level Rp17.804 per dolar AS, turun 10 poin atau 0,06 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.794 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan pasar merespons kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Bank sentral juga menargetkan inflasi tetap berada dalam kisaran yang telah ditetapkan.
Amru menilai kebijakan ini memberikan sentimen positif bagi rupiah. Kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil aset keuangan domestik sehingga menarik minat investor asing untuk masuk ke pasar Indonesia.
Sejak Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate secara bertahap dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin. Kebijakan tersebut membawa suku bunga kembali ke level 5,75 persen, posisi yang terakhir terjadi pada April 2025.
Pelaku pasar juga terus menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter domestik. Faktor suku bunga tetap menjadi salah satu penentu utama pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Pasar global menunjukkan perbaikan sentimen setelah muncul perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran menyepakati pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Kesepakatan itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Harga minyak dunia ikut turun setelah sentimen risiko mereda.
Kondisi tersebut membantu mengurangi tekanan terhadap Indonesia yang masih mengimpor minyak. Penurunan harga energi berpotensi menurunkan kebutuhan devisa dan mendukung neraca perdagangan.
Dolar AS Masih Kuat Tekan Mata Uang Negara Berkembang
Dolar Amerika Serikat tetap mempertahankan penguatan karena pasar melihat kebijakan Federal Reserve. The Fed masih memberi sinyal suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Kondisi itu membuat investor global tetap memilih aset berbasis dolar. Tekanan ini membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Amru juga menyoroti risiko geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut. Setiap eskalasi baru dapat memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan permintaan aset safe haven seperti dolar AS.
Amru menilai prospek rupiah setelah kenaikan BI-Rate masih relatif stabil dibanding beberapa pekan sebelumnya. Namun, pasar tetap bergantung pada perkembangan eksternal.
Faktor utama yang memengaruhi rupiah ke depan mencakup kebijakan suku bunga Amerika Serikat, dinamika geopolitik Timur Tengah, serta arus modal asing ke Indonesia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dari Bank Indonesia juga bergerak datar di level Rp17.826 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.(ar)









