Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: Ari Saputra/detikFoto)

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: Ari Saputra/detikFoto)

Jakarta, Jemarionline.com – Kabar Pertamax naik jadi Rp16.250 per liter menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Banyak pengguna kendaraan pribadi mempertanyakan alasan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tersebut, terutama karena nilainya cukup signifikan dibandingkan harga sebelumnya.

Menanggapi hal itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga Pertamax mengikuti mekanisme pasar. Menurutnya, pemerintah tidak menetapkan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax karena produk tersebut berada dalam skema bisnis yang berbeda dengan BBM subsidi.

Bahlil menjelaskan bahwa Pertamina maupun badan usaha penyedia BBM lainnya menyesuaikan harga sesuai perkembangan pasar energi global. Karena itu, perubahan harga dapat terjadi ketika harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, maupun biaya distribusi mengalami perubahan. Pernyataan tersebut ia sampaikan usai menghadiri agenda di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Bahlil: Harga Pertamax Mengikuti Harga Pasar

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah memberikan ruang kepada badan usaha untuk menyesuaikan harga BBM nonsubsidi berdasarkan kondisi pasar.

Menurutnya, perusahaan harus memperhitungkan berbagai komponen biaya sebelum menentukan harga jual kepada konsumen. Komponen tersebut meliputi harga minyak mentah dunia, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya pengolahan, hingga biaya distribusi ke berbagai daerah.

“Harga BBM nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar,” kata Bahlil.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut tidak hanya berlaku di Indonesia. Banyak negara juga menerapkan sistem serupa untuk produk energi yang tidak memperoleh subsidi pemerintah.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa harga Pertamax dapat berubah mengikuti perkembangan pasar internasional.

Pemerintah Tetap Menjaga Harga BBM Subsidi

Di tengah kenaikan Pertamax, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tetap stabil.

Bahlil mengatakan pemerintah masih mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar. Langkah tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengurangi tekanan ekonomi akibat gejolak harga energi dunia.

Baca Juga :  Harga BBM Jambi 2 Juli 2026 Tetap, Ini Daftar Tarif Terbaru di SPBU

Pemerintah juga tetap mempertahankan harga LPG subsidi agar masyarakat berpenghasilan rendah tidak menghadapi beban tambahan.

Menurut Bahlil, kebijakan itu menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kondisi keuangan negara.

Karena itu, pengguna BBM subsidi tidak perlu khawatir terhadap perubahan harga Pertamax yang terjadi saat ini.

Harga Minyak Dunia Masih Berfluktuasi

Selain faktor domestik, kondisi global juga memengaruhi harga energi.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar energi internasional menghadapi berbagai tantangan. Konflik geopolitik di sejumlah wilayah masih memengaruhi pasokan energi dunia. Di sisi lain, permintaan energi dari berbagai negara terus meningkat.

Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah bergerak naik dan turun dalam waktu singkat.

Ketika harga minyak dunia meningkat, perusahaan energi harus menyesuaikan biaya operasional mereka. Akibatnya, harga BBM nonsubsidi juga ikut berubah.

Karena itu, kenaikan Pertamax tidak terlepas dari kondisi pasar energi global yang masih penuh ketidakpastian.

Pertamina Menghitung Banyak Faktor Sebelum Menetapkan Harga

Bahlil menilai Pertamina telah melakukan perhitungan yang matang sebelum menaikkan harga Pertamax.

Perusahaan tidak hanya melihat harga minyak mentah. Mereka juga memperhitungkan nilai tukar rupiah, biaya logistik, biaya penyimpanan, hingga kondisi distribusi di berbagai wilayah Indonesia.

Selain Pertamina, sejumlah perusahaan swasta yang menjual BBM juga melakukan penyesuaian harga pada periode yang sama.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga tidak terjadi karena keputusan satu perusahaan saja. Sebaliknya, kondisi pasar energi secara keseluruhan mendorong seluruh pelaku usaha melakukan penyesuaian.

Karena itu, masyarakat dapat melihat bahwa kenaikan harga terjadi akibat dinamika pasar yang lebih luas.

Baca Juga :  Ribuan Orang Hadiri Sidang Akbar di China, Investor Global Mulai Waswas

Presiden Prabowo Minta Penguatan Ketahanan Energi

Dalam kesempatan terpisah, Bahlil mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional.

Presiden mendorong kementerian terkait untuk mencari sumber energi alternatif yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Selain itu, pemerintah juga terus mengembangkan berbagai program transisi energi untuk memperkuat pasokan energi nasional dalam jangka panjang.

Langkah tersebut menjadi penting karena ketidakpastian geopolitik global masih berpotensi memengaruhi harga energi dunia.

Dengan memperkuat sumber energi domestik, pemerintah berharap Indonesia dapat mengurangi dampak gejolak pasar internasional terhadap sektor energi nasional.

Dampak Kenaikan Pertamax bagi Konsumen

Kenaikan Pertamax tentu memengaruhi pengeluaran masyarakat yang menggunakan BBM nonsubsidi.

Sebagai contoh, pemilik kendaraan dengan kapasitas tangki 40 liter harus mengeluarkan biaya lebih besar setiap kali mengisi bahan bakar penuh.

Meski demikian, sebagian pengguna masih memilih Pertamax karena nilai oktannya lebih tinggi dibandingkan Pertalite. Banyak pengguna juga menilai Pertamax mampu memberikan performa mesin yang lebih optimal.

Di sisi lain, pemerintah tetap menyediakan pilihan BBM subsidi bagi masyarakat yang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Karena itu, konsumen masih memiliki beberapa alternatif sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Pemerintah Terus Memantau Kondisi Pasar

Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi perubahan harga energi.

Bahlil memastikan pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak dunia, kondisi geopolitik internasional, serta pergerakan nilai tukar rupiah.

Melalui pemantauan tersebut, pemerintah dapat mengambil langkah yang tepat apabila terjadi perubahan signifikan pada sektor energi nasional.

Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga pasokan BBM agar tetap tersedia di seluruh wilayah Indonesia.

Langkah tersebut penting untuk memastikan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan dengan baik.

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Prabowo Dijadwalkan Resmikan Biodiesel B50 pada 9 Juli, Pemerintah Percepat Transisi Energi
Tarif Listrik Juli-September 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Penjelasannya
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:00 WIB

Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan

Berita Terbaru

Sumber : Arianti Widya/Viva.co.id

OTOMOTIF

Jelang GIIAS 2026, Harga Mobil MPV Mulai Rp167 Jutaan

Senin, 27 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teknologi

Apple TV 2026: Jadwal Rilis, Rumor, dan Spesifikasi Terbaru

Senin, 27 Jul 2026 - 07:00 WIB