Jakarta, Jemarionline.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa pengembangan Family Office di Bali berpotensi mendatangkan dana investasi dalam jumlah besar ke Indonesia.
Menurutnya, potensi dana yang masuk bahkan dapat mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Luhut menyampaikan hal tersebut setelah bertemu dengan Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada 9 Juni 2026.
Dalam pertemuan itu, Presiden memberikan arahan terkait pengembangan Family Office dan Pusat Keuangan Internasional atau International Financial Center (IFC) di Bali.
Pemerintah berharap inisiatif tersebut mampu meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat investasi di kawasan Asia Tenggara.
Family Office merupakan lembaga yang mengelola kekayaan keluarga dengan aset sangat besar. Lembaga ini biasanya menangani investasi, perencanaan keuangan, pengelolaan aset, hingga strategi bisnis lintas negara.
Banyak negara seperti Singapore, Switzerland, dan United Arab Emirates berhasil menarik dana global melalui skema Family Office.
Karena itu, Indonesia ingin ikut memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan arus investasi jangka panjang.
Selain membawa modal besar, Family Office juga dapat membuka peluang investasi baru di berbagai sektor strategis.
Bali Disiapkan Jadi Pusat Keuangan Internasional
Pemerintah terus mengembangkan konsep Pusat Keuangan Internasional di Bali sebagai lokasi utama pengembangan Family Office.
Luhut mengungkapkan bahwa pemerintah akan menggelar pertemuan lanjutan pada Juli 2026 di Bali guna membahas langkah konkret pengembangan program tersebut. Ia optimistis forum tersebut dapat menarik perhatian investor kelas dunia.
Menurut pemerintah, Bali memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan stabilitas, kualitas hidup yang baik, dan lingkungan yang menarik bagi investor global.
Karena itu, pemerintah menilai Bali memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat layanan keuangan internasional.
Luhut menyebut Indonesia berpotensi menerima aliran dana hingga ratusan miliar dolar AS apabila program Family Office berjalan sesuai rencana. Angka tersebut menjadi salah satu potensi investasi terbesar yang sedang dibidik pemerintah saat ini.
Dana tersebut berpotensi mengalir ke berbagai sektor seperti infrastruktur, teknologi, energi, kesehatan, hingga industri hijau.
Selain itu, masuknya dana investasi dalam jumlah besar juga dapat memperkuat pasar keuangan nasional dan memperluas peluang kerja di berbagai sektor ekonomi.
Luhut menegaskan bahwa pemerintah harus menjaga sentimen positif agar investor global tetap tertarik menanamkan modal di Indonesia.
Menurutnya, citra positif Indonesia sangat penting dalam menarik minat investor internasional. Karena itu, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang stabil, kompetitif, dan ramah terhadap pelaku usaha global.
Selain memperbaiki regulasi, pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Masuknya dana dari Family Office berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.
Investasi baru dapat meningkatkan aktivitas bisnis, mempercepat pembangunan proyek strategis, dan memperluas lapangan pekerjaan.
Selain itu, arus modal asing juga dapat membantu memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan investasi global.
Karena itu, banyak pihak menilai keberhasilan program Family Office akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Meski memiliki peluang besar, Indonesia tetap menghadapi persaingan ketat dari negara lain yang lebih dahulu mengembangkan ekosistem Family Office.
Beberapa negara menawarkan insentif pajak, kemudahan regulasi, dan layanan keuangan yang telah matang. Karena itu, Indonesia perlu menghadirkan kebijakan yang kompetitif agar mampu menarik investor global.
Pemerintah optimistis kombinasi potensi ekonomi, pasar yang besar, dan lokasi strategis dapat menjadi keunggulan Indonesia dalam persaingan tersebut. (man)









