WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Jemarionline.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC).

WHO mengambil keputusan ini setelah tim medis mencatat peningkatan kasus yang cepat di wilayah Afrika Tengah, terutama di Provinsi Ituri, Kongo bagian timur.

Tim respons kesehatan global langsung memperkuat koordinasi dengan pemerintah Kongo dan Uganda untuk mempercepat pengendalian penyebaran virus.

Ilmuwan Temukan Ribuan Kasus Suspek di Wilayah Terdampak

Tim epidemiologi di Kongo mengumpulkan data dari berbagai fasilitas kesehatan di wilayah Ituri. Mereka mencatat ratusan kasus suspek dan puluhan kematian yang diduga berkaitan dengan virus Ebola.

Otoritas kesehatan di Uganda juga melaporkan kasus yang berasal dari pelancong yang sebelumnya berada di Kongo. Petugas kesehatan di Kampala langsung melakukan pelacakan kontak untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Africa CDC kemudian memperkirakan jumlah kasus bisa meningkat karena proses pelaporan masih berlangsung di lapangan.

Virus Bundibugyo Jadi Penyebab Utama Wabah

Ilmuwan mengidentifikasi virus yang menyebabkan wabah ini sebagai Ebola strain Bundibugyo. Tim laboratorium di Kongo mengonfirmasi keberadaan virus tersebut melalui uji sampel darah pasien.

Baca Juga :  Dinkes Pantau Kasus Hantavirus di Jakarta, Warga Diminta Waspada Penularan dari Tikus

Peneliti menemukan bahwa strain ini memiliki tingkat kematian tinggi dan belum memiliki vaksin atau obat khusus yang disetujui secara global.

WHO kemudian mengaktifkan sistem tanggap darurat untuk mempercepat penanganan kasus di wilayah terdampak.

Penyebaran Virus Meluas ke Wilayah Perbatasan

Tim kesehatan menemukan bahwa virus tidak hanya menyebar di satu wilayah, tetapi juga sudah menjangkau area lintas negara.

Petugas kesehatan di Uganda melacak dua kasus yang memiliki riwayat perjalanan dari Kongo. Mereka langsung mengisolasi pasien untuk mencegah transmisi lebih lanjut.

Negara tetangga seperti Rwanda dan Sudan Selatan meningkatkan status kewaspadaan dan memperkuat pemeriksaan di perbatasan.

WHO Koordinasikan Respons Global

WHO mengirimkan tim respons cepat ke wilayah terdampak untuk membantu pemerintah lokal mengendalikan wabah.

Tim tersebut mengatur beberapa langkah utama:

  • mempercepat deteksi kasus baru
  • memperkuat sistem pelacakan kontak
  • meningkatkan kapasitas laboratorium
  • mendukung tenaga kesehatan di lapangan

WHO juga bekerja sama dengan lembaga kesehatan internasional untuk mempercepat distribusi alat medis.

Baca Juga :  Dokter AS Positif Ebola saat Operasi Pasien di Kongo, Kini Dievakuasi ke Jerman

Ilmuwan Gunakan Data Wabah untuk Penelitian

Para peneliti menggunakan data dari wabah ini untuk memahami pola penyebaran virus Ebola secara lebih detail.

Tim riset menganalisis kecepatan penyebaran, tingkat penularan, serta kondisi lingkungan yang memicu lonjakan kasus.

Mereka juga mengembangkan model prediksi untuk membantu negara lain mengantisipasi potensi wabah serupa di masa depan.

Petugas Medis Hadapi Tantangan di Lapangan

Tenaga kesehatan di wilayah terdampak menghadapi tantangan besar selama penanganan wabah.

Tim medis bekerja di area dengan akses terbatas, konflik lokal, dan mobilitas penduduk yang tinggi. Kondisi ini mempercepat potensi penyebaran virus jika tidak tertangani dengan cepat.

WHO mendorong peningkatan perlindungan bagi tenaga medis yang bekerja langsung menangani pasien Ebola.

Risiko Global Masih Terkendali

WHO menegaskan bahwa situasi ini belum berkembang menjadi pandemi global.

Namun, organisasi tersebut tetap meminta semua negara meningkatkan kewaspadaan, terutama negara yang memiliki koneksi perjalanan langsung ke Afrika Tengah.

Ilmuwan menilai bahwa deteksi dini menjadi faktor paling penting untuk mencegah penyebaran lintas benua. (man)

Berita Terkait

Bahaya Kekurangan Gizi Mikro pada Anak yang Sering Tak Disadari
Mulai Juni 2026, Pasien BPJS Wajib Kontrol Sesuai Jadwal atau Tak Dilayani
RSUD Soedjono Selong Mulai Vaksinasi MR, Pegawai Jadi Sasaran Awal
70 Juta Warga RI Diperkirakan Idap Penyakit Hati, Banyak yang Tak Menyadarinya
4.300 Warga Jalani Tes HIV di Sukabumi, 54 Orang Positif hingga Juni 2026
Menkes Budi Siapkan Terobosan, Hepatitis B Bisa Ditangani di Puskesmas
Klaim Asuransi Kesehatan Naik 15,3% Tembus Rp6,72 Triliun di Kuartal I-2026, Inflasi Medis Jadi Pendorong
Google Jalankan Proyek Debug AI, Jutaan Nyamuk Akan Dilepas di Florida
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:00 WIB

Bahaya Kekurangan Gizi Mikro pada Anak yang Sering Tak Disadari

Senin, 8 Juni 2026 - 21:00 WIB

Mulai Juni 2026, Pasien BPJS Wajib Kontrol Sesuai Jadwal atau Tak Dilayani

Senin, 8 Juni 2026 - 15:00 WIB

RSUD Soedjono Selong Mulai Vaksinasi MR, Pegawai Jadi Sasaran Awal

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:00 WIB

70 Juta Warga RI Diperkirakan Idap Penyakit Hati, Banyak yang Tak Menyadarinya

Sabtu, 6 Juni 2026 - 11:00 WIB

4.300 Warga Jalani Tes HIV di Sukabumi, 54 Orang Positif hingga Juni 2026

Berita Terbaru

Foto: Reuters.

Teknologi

Siri AI Apple Debut di WWDC 2026, Analis Wall Street Terbelah

Rabu, 10 Jun 2026 - 06:00 WIB