Jemarionline – Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, kerap dikaitkan dengan pendekatan realisme dalam melihat hubungan internasional. Pandangan ini menekankan pentingnya kekuatan negara, kepentingan nasional, dan strategi dalam menghadapi dinamika politik global.
Dalam teori hubungan internasional, realisme memiliki akar pemikiran yang panjang. Salah satu tokoh awalnya adalah Thucydides. Ia menulis tentang perang antara Athena dan Sparta serta menunjukkan bahwa konflik sering terjadi karena perebutan kekuatan dan kepentingan.
Pemikiran serupa juga muncul dari Kautilya. Dalam karya klasik Arthashastra, ia menjelaskan bagaimana negara harus mengutamakan kepentingannya sendiri dalam hubungan antarnegara. Strategi diplomasi, aliansi, dan kekuatan militer menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan.
Pada era modern, teori realisme banyak dikembangkan oleh akademisi seperti John J. Mearsheimer. Ia menilai bahwa negara besar cenderung berupaya memperkuat pengaruhnya untuk menjaga keamanan dan posisi strategis di dunia.
Pendekatan ini sering terlihat dalam cara negara menyusun kebijakan luar negeri. Negara tidak hanya mengandalkan kerja sama internasional, tetapi juga memperhitungkan kekuatan ekonomi, militer, dan geopolitik.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan realistis dapat terlihat dari upaya memperkuat pertahanan, menjaga kemandirian nasional, serta memperluas kerja sama strategis dengan berbagai negara. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan global yang semakin kompleks.









