Jakarta, Jemarionline.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan terhadap rupiah pada perdagangan terbaru. Dalam pergerakan intraday, dolar AS sempat menyentuh level Rp17.949 sebelum kembali bergerak di kisaran lebih rendah.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah sentimen pasar global yang belum stabil. Selain itu, volatilitas pasar valuta asing juga membuat nilai tukar bergerak cepat dalam rentang yang cukup lebar.
Dolar AS Sempat Menyentuh Level Psikologis Baru
Dalam perdagangan hari ini, dolar AS bergerak dalam rentang sekitar Rp17.772 hingga Rp17.995.
Dengan rentang tersebut, pasar melihat adanya tekanan signifikan pada rupiah yang beberapa kali mendekati area psikologis baru.
Sementara itu, data pergerakan juga menunjukkan bahwa level Rp17.900 bukan lagi batas yang jauh dari jangkauan pasar. Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa volatilitas rupiah masih cukup tinggi.
Tekanan Rupiah Masih Dipengaruhi Sentimen Global
Selain faktor domestik, tekanan pada rupiah juga muncul dari kondisi global yang belum sepenuhnya stabil. Investor cenderung mencari aset aman (safe haven), sehingga permintaan terhadap dolar AS meningkat.
Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat turut menjaga daya tarik dolar tetap kuat. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Pergerakan Harian Masih Sangat Fluktuatif
Meski sempat menembus level tinggi, rupiah tetap mengalami fluktuasi dalam satu hari perdagangan. Dalam beberapa momen, nilai tukar sempat menguat kembali sebelum kembali tertekan.
Dengan demikian, pasar menunjukkan bahwa arah pergerakan belum stabil. Investor pun terus mencermati perkembangan data ekonomi global dan kebijakan bank sentral utama dunia.
Pergerakan dolar AS yang menguat biasanya berdampak pada berbagai sektor di dalam negeri. Misalnya, biaya impor dapat meningkat karena harga barang luar negeri menjadi lebih mahal.
Selain itu, pelaku usaha yang memiliki utang dalam dolar juga menghadapi tekanan biaya yang lebih besar. Namun demikian, dampaknya tidak selalu langsung terasa karena tergantung pada sektor masing-masing. (man)









