Jakarta, jemarionline.com – Dua lembaga riset ternama mempublikasikan hasil pemetaan politik terbaru yang menunjukkan hasil mengejutkan. Data riset menunjukkan elektabilitas Dedi ungguli Prabowo dalam berbagai simulasi calon presiden periode Juli 2026.
Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia sama-sama menempatkan Gubernur Jawa Barat tersebut di posisi puncak. Meskipun menggunakan pendekatan metrik dan jumlah sampel berbeda, kedua lembaga mencatat pola tren yang seragam.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani memaparkan temuan tersebut secara resmi pada Rabu, 29 Juli 2026. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi Mulyadi berhasil mengantongi dukungan publik mencapai 35 persen.
Angka tersebut melampaui raihan Prabowo Subianto yang berada di posisi kedua dengan 14,5 persen. Sementara itu Anies Baswedan memperoleh 8,2 persen dan Gibran Rakabuming Raka mengamankan 7,7 persen.
Tokoh nasional lainnya seperti Agus Harimurti Yudhoyono mengantongi 4,9 persen suara responden. Ganjar Pranowo meraih 4,2 persen, Mahfud MD 4 persen, sedangkan 12,8 persen responden belum menentukan pilihan.
Deni menegaskan bahwa arah grafik dukungan kedua tokoh bergerak secara berlawanan. Elektabilitas Dedi terus menanjak tajam, sedangkan tingkat keterpilihan Prabowo mengalami penurunan signifikan.
SMRC mencatat penurunan tajam angka keterpilihan Prabowo dari 34,9 persen menjadi 14,5 persen. Sebaliknya, dukungan masyarakat terhadap Dedi melonjak pesat dari 19,7 persen menuju angka 35 persen.
Kesenjangan jarak perolehan angka makin melebar saat lembaga menguji simulasi langsung dua nama. Dedi sukses meraih 59 persen suara, sementara Prabowo hanya mengumpulkan 28,3 persen.
Penurunan suara Prabowo pada simulasi dua nama tergolong sangat drastis dari angka 50,5 persen. Di sisi lain, Dedi mencatatkan lompatan elektabilitas dari 42,6 persen pada periode awal tahun.
SMRC menyimpulkan bahwa Prabowo menghadapi tantangan besar jika kembali bertarung dalam kontestasi mendatang. Peluang petahana untuk memenangkan pemilu menjadi sangat berat jika berhadapan langsung dengan Dedi.
Dedi Mulyadi Melesat Dalam Simulasi Lembaga SMRC
Lembaga Indikator Politik Indonesia juga merekam tren dominasi Dedi pada periode riset 14-24 Juli 2026. Pada simulasi pertanyaan terbuka, nama Dedi memimpin dengan raihan 22,4 persen suara.
Prabowo mengekor tipis di posisi kedua setelah mengumpulkan dukungan sebesar 20,1 persen. Anies Baswedan berada pada posisi ketiga dengan perolehan 9,7 persen dari total jawaban responden.
Indikator memperlebar jarak keunggulan Dedi saat menerapkan simulasi semi-terbuka dengan opsi 32 nama. Dedi memimpin secara meyakinkan dengan 31,4 persen, sedangkan Prabowo mengumpulkan 18,8 persen.
Dalam daftar tersebut, Anies meraih 11,6 persen diikuti Gibran 5,9 persen dan AHY 5,8 persen. Ganjar Pranowo mengantongi 4,5 persen, Sherly Tjoanda 4,1 persen, serta Mahfud MD 2,5 persen.
Tren elektabilitas Dedi versi Indikator terus bergerak naik secara konsisten sejak akhir tahun lalu. Angka dukungannya merangkak dari 16,8 persen pada Desember 2025 hingga menembus 31,4 persen Juli ini.
Perjalanan elektabilitas Prabowo justru menunjukkan arah penurunan berturut-turut pada periode yang sama. Setelah sempat menyentuh 43,7 persen pada Januari, angka tersebut merosot hingga 18,8 persen.
Pola Serupa Juga Terlihat Pada Hasil Survei Indikator
Peneliti Indikator menguji daya tahan elektoral para kandidat saat daftar nama dipersempit. Simulasi lima nama menempatkan Dedi di posisi teratas dengan raihan angka 41,9 persen.
Prabowo memperoleh 21,9 persen suara, diikuti Anies 13,3 persen, Gibran 9,1 persen, dan AHY 7,4 persen. Hasil ini menegaskan bahwa penyempitan kandidat makin menguntungkan posisi Dedi Mulyadi.
Pada simulasi empat nama, Dedi semakin mengukuhkan keunggulan dengan mengumpulkan 45,2 persen dukungan. Prabowo meraih 23,5 persen, Anies mengantongi 15 persen, serta Gibran mencatatkan 9,7 persen.
Skenario tiga nama memperlihatkan dominasi Dedi yang kian tidak terbendung oleh para pesaingnya. Dedi memimpin jauh dengan 46,9 persen, Prabowo meraih 28,8 persen, dan Anies 17 persen.
Dukungan terhadap mantan Bupati Purwakarta tersebut terbukti makin membesar saat pilihan masyarakat makin terbatas. Sebagian besar pemilih mengalihkan dukungan mereka kepada Dedi dalam skenario persaingan ketat.
Tingkat Kesukaan Publik Menjadi Kunci Utama Keunggulan Dedi
Meskipun unggul dari sisi elektabilitas, tingkat pengenalan publik terhadap Dedi masih di bawah Prabowo. Indikator mencatat popularitas Prabowo mencapai 98,8 persen, sedangkan Dedi berada pada angka 88,2 persen.
Dedi unggul sangat telak dalam hal tingkat kesukaan pemilih yang telah mengenalnya. Sebanyak 88,3 persen responden menyukai Dedi, sementara tingkat kesukaan terhadap Prabowo hanya 68,1 persen.
Indikator juga mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Prabowo sebagai kepala negara. Responden yang merasa puas tercatat 49,5 persen, sedangkan kelompok tidak puas mencapai 48,8 persen.
Terkait metodologi, SMRC melibatkan 749 responden melalui wawancara telepon dan tatap muka langsung. Survei tersebut menerapkan tingkat margin of error sekitar 3,7 persen pada skala nasional.
Sementara Indikator menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan total 4.250 responden. Peneliti mewawancarai seluruh sampel secara tatap muka dengan margin of error sekitar 1,6 persen.
Meskipun menggunakan sampel berbeda, kedua lembaga mengonfirmasi dinamika peta politik yang seragam. Dedi Mulyadi sukses menggeser posisi Prabowo Subianto dalam bursa calon presiden terbaru.(ar)









