Jakarta, Jemarionline.com– Pelemahan nilai tukar rupiah dan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memicu perhatian publik. Kondisi tersebut mendorong sejumlah anggota DPR RI meminta pemerintah dan Bank Indonesia bergerak cepat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), IHSG mengalami tekanan berat hingga turun mendekati 5 persen pada sesi perdagangan. Pada saat yang sama, rupiah juga terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan mendekati level terlemah sepanjang sejarah.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai sentimen investor dan stabilitas pasar keuangan dalam jangka pendek. Karena itu, DPR meminta Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar.
DPR Minta Pemerintah Bergerak Cepat
Sejumlah anggota DPR menilai pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG memerlukan respons cepat dari otoritas ekonomi.
Mereka meminta Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar. Selain itu, DPR juga meminta Kementerian Keuangan menjaga kepercayaan investor melalui kebijakan yang mampu meredam gejolak pasar.
DPR menilai koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan pelaku pasar menjadi faktor penting untuk mengurangi tekanan yang saat ini terjadi.
Karena itu, parlemen berencana meminta penjelasan langsung dari otoritas terkait mengenai kondisi pasar dan langkah yang telah mereka siapkan.
Rupiah Terus Mengalami Tekanan
Nilai tukar rupiah menjadi salah satu sorotan utama dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah analis menilai kombinasi sentimen global, penguatan dolar AS, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik memberikan tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan Timur Tengah ikut memperkuat posisi dolar AS di pasar global. Kondisi tersebut membuat rupiah semakin sulit memperoleh momentum penguatan.
Karena itu, pelaku pasar terus memantau langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
IHSG Tertekan oleh Aksi Jual Investor
Tekanan pada pasar saham juga semakin besar ketika investor melakukan aksi jual di berbagai sektor.
Data perdagangan menunjukkan IHSG sempat turun hingga mendekati level 5.889 pada sesi perdagangan Rabu. Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi terdalam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Analis pasar menilai pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan saham. Selain itu, sentimen dari MSCI dan FTSE Russell juga memengaruhi keputusan investor untuk mengurangi eksposur pada pasar Indonesia.
Karena itu, banyak pelaku pasar memilih bersikap lebih hati-hati sambil menunggu perkembangan terbaru.
Menkeu Minta Pasar Tetap Tenang
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya meminta pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap gejolak yang terjadi.
Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. Ia juga menilai tekanan yang muncul lebih banyak berasal dari sentimen jangka pendek.
“Fondasi ekonominya bagus,” ujar Purbaya.
Selain itu, pemerintah terus memantau perkembangan pasar dan menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Bank Indonesia Jadi Sorotan
Di tengah pelemahan rupiah, banyak pihak menyoroti peran Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
DPR meminta BI mengambil langkah yang lebih agresif apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Selain itu, sejumlah anggota parlemen juga mendorong koordinasi yang lebih intensif antara BI dan pemerintah.
Bank Indonesia selama ini mengandalkan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valas dan pengelolaan likuiditas. Namun pelaku pasar tetap menunggu langkah lanjutan yang lebih kuat apabila tekanan global terus meningkat.
Investor Menunggu Kepastian
Pelaku pasar saat ini lebih fokus pada arah kebijakan ekonomi pemerintah dan bank sentral.
Mereka menunggu langkah konkret yang mampu mengembalikan kepercayaan pasar. Selain itu, investor juga memperhatikan perkembangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Banyak analis menilai kejelasan kebijakan dan komunikasi yang kuat dari pemerintah dapat membantu meredakan tekanan di pasar keuangan. Karena itu, respons cepat dari otoritas ekonomi menjadi faktor yang sangat penting dalam beberapa hari ke depan. (man)









