Jakarta, jemarionline.com – Fenomena El Nino lebih kering mulai mengancam Indonesia pada Juni 2026 hingga sekitar Mei 2027. BMKG memperkirakan El Nino tahun ini memicu musim kemarau yang lebih panjang dengan curah hujan jauh berkurang.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, hingga gangguan kesehatan di sejumlah wilayah Indonesia.
El Nino Diperkirakan Menguat Saat Puncak Kemarau
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, mengatakan El Nino tahun ini muncul dengan intensitas moderate hingga kuat.
Menurut Faisal, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena fenomena itu hadir bersamaan dengan puncak musim kemarau.
“Untuk tahun ini, El Nino akan mulai aktif diperkirakan di bulan Juni, nanti dia dengan intensitas kira-kira moderate sampai kuat,” ujar Faisal di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, El Nino berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih lama dibanding rata-rata kondisi dalam 30 tahun terakhir.
El Nino dan Kemarau Ternyata Berbeda
Masih banyak masyarakat yang menganggap El Nino sama dengan musim kemarau. Padahal, kedua fenomena tersebut memiliki penyebab berbeda.
Musim kemarau muncul setiap tahun akibat pengaruh angin monsun Australia yang membawa udara kering ke Indonesia. Sementara El Nino terjadi karena suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami pemanasan.
Perubahan suhu laut itu kemudian memengaruhi pola cuaca di berbagai negara, termasuk Indonesia.
BMKG mencatat El Nino biasanya muncul setiap tiga hingga tujuh tahun sekali.
Dampaknya Bisa Lebih Ekstrem
Saat El Nino muncul bersamaan dengan musim kemarau, cuaca panas biasanya terasa lebih ekstrem. Curah hujan turun drastis dan suhu udara meningkat lebih tinggi.
Kondisi itu juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekeringan di sejumlah daerah.
Faisal menyebut wilayah di bawah garis khatulistiwa memiliki risiko paling besar mengalami dampak El Nino. Daerah tersebut meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Sementara Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami dampak terlalu besar.
Pemerintah Mulai Siapkan Cadangan Air
Pemerintah bersama BMKG mulai menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk menambah cadangan air di bendungan.
Langkah itu bertujuan menjaga pasokan air untuk pertanian selama musim kemarau berlangsung.
“Kita melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi tampungan-tampungan air kita ini agar swasembada pangan dapat kita jamin di tahun ini,” kata Faisal.
Kemarau panjang dapat menurunkan debit air irigasi dan mengganggu hasil panen di sejumlah daerah pertanian.
Cuaca Panas Bisa Ganggu Kesehatan
Cuaca panas ekstrem juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, meminta warga mengurangi aktivitas luar ruangan saat siang hari.
Menurut Ani, suhu panas berlebih dapat memicu dehidrasi, heatstroke, dan memperparah penyakit jantung maupun gangguan paru-paru.
Kemarau panjang juga sering menurunkan kualitas udara. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA, terutama pada anak-anak dan lansia.
Warga Perlu Mulai Bersiap
Masyarakat perlu mulai bersiap menghadapi cuaca panas dalam beberapa bulan ke depan.
Warga dapat memperbanyak minum air putih, memakai pelindung seperti topi atau payung, serta mengurangi aktivitas luar ruangan saat siang hari.
Selain itu, masyarakat juga perlu rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG agar bisa menyesuaikan aktivitas harian.
Penutup
Prediksi El Nino 2026 menjadi peringatan penting bagi masyarakat untuk lebih siap menghadapi kemarau panjang. Dengan langkah antisipasi sejak awal, warga dapat mengurangi risiko kekeringan, gangguan kesehatan, hingga dampak terhadap sektor pangan.(ar)









