Kerinci, Jemarionline.com – Kenaikan harga plastik kemasan mulai memberi tekanan besar kepada pelaku usaha kecil di Kabupaten Kerinci, Jambi. Salah satu dampak paling terasa muncul pada usaha kerupuk jangek atau kerupuk kulit yang kini harus menghadapi lonjakan biaya produksi.
Para pengrajin memilih berbagai cara agar usaha mereka tetap bertahan. Namun, sebagian besar pelaku UMKM mengaku tidak berani menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan.
Akibatnya, banyak pengrajin akhirnya memilih mengurangi isi kemasan daripada menaikkan harga produk di pasaran.
Harga Plastik Naik Tajam
Kenaikan harga plastik kemasan menjadi persoalan utama yang saat ini dihadapi para pengrajin kerupuk jangek di Kerinci.
Syafrinil, salah satu pengrajin kerupuk jangek asal Desa Dusun Dalam, Kecamatan Siulak, mengatakan harga plastik pembungkus mengalami kenaikan cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, pengrajin membeli plastik kemasan dengan harga sekitar Rp38 ribu per kilogram. Namun sekarang, harga tersebut melonjak hingga mencapai Rp60 ribu per kilogram.
Lonjakan harga itu membuat biaya produksi ikut meningkat. Selain harus membeli bahan baku kerupuk, pelaku usaha juga perlu menanggung biaya kemasan dan distribusi yang semakin mahal.
Karena itu, pengrajin mulai kesulitan menjaga keuntungan usaha mereka.
Pengrajin Takut Kehilangan Pembeli
Meski biaya produksi naik, banyak pelaku usaha kecil tetap mempertahankan harga jual lama.
Mereka khawatir pelanggan akan beralih ke produk lain apabila harga kerupuk naik. Apalagi, daya beli masyarakat di pasar tradisional belum sepenuhnya stabil.
“Kalau harga jual dinaikkan, takut pembeli berkurang,” ujar Syafrinil saat menjelaskan kondisi usahanya.
Karena alasan tersebut, pengrajin memilih strategi lain agar usaha tetap berjalan.
Sebagian pelaku usaha mulai mengurangi jumlah isi kerupuk dalam setiap kemasan. Langkah itu mereka lakukan untuk menekan biaya produksi tanpa mengubah harga jual di pasaran.
Isi Kemasan Mulai Dikurangi
Sebelumnya, kemasan kerupuk seharga Rp1.000 biasanya berisi enam biji kerupuk jangek. Namun sekarang, pengrajin hanya memasukkan lima biji dalam satu bungkus.
Meski terlihat sederhana, langkah tersebut membantu pengrajin menjaga usaha tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi.
Selain itu, strategi tersebut juga membuat harga produk tetap terlihat stabil di mata pembeli.
Banyak pelaku UMKM menganggap pengurangan isi kemasan lebih aman dibanding menaikkan harga secara langsung.
Fenomena tersebut sebenarnya juga sering muncul pada berbagai produk makanan ringan lain ketika harga bahan baku meningkat.
Ongkos Distribusi Ikut Membebani UMKM
Selain harga plastik, pengrajin kerupuk jangek juga menghadapi kenaikan biaya distribusi.
Biaya pengiriman bahan baku dan distribusi produk ke pasar ikut naik dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi itu semakin menekan keuntungan usaha kecil di daerah.
Akibatnya, pelaku UMKM harus menghitung ulang pengeluaran produksi agar usaha mereka tetap berjalan.
Sebagian pengrajin bahkan mulai mengurangi jumlah produksi harian untuk menekan pengeluaran operasional.
Meski begitu, banyak pelaku usaha tetap berusaha mempertahankan kualitas rasa kerupuk jangek agar pelanggan tidak kecewa.
Harga Plastik Naik Secara Nasional
Kenaikan harga plastik ternyata tidak hanya terjadi di Kerinci. Sejumlah daerah lain di Indonesia juga mengalami kondisi serupa.
Laporan RRI Sungai Penuh menyebut harga plastik secara nasional naik cukup drastis akibat terganggunya pasokan bahan baku seperti nafta dan biji plastik. Konflik di kawasan Timur Tengah juga ikut memengaruhi rantai pasokan industri plastik.
Akibat kondisi tersebut, harga plastik di berbagai daerah naik antara 50 hingga 150 persen.
Kenaikan itu kemudian berdampak langsung pada pedagang pasar, pelaku UMKM, hingga usaha rumahan yang masih bergantung pada kemasan plastik.
Karena itu, banyak pelaku usaha mulai mencari cara alternatif untuk mengurangi biaya produksi.
Kerupuk Jangek Jadi Kuliner Khas Kerinci
Kerupuk jangek merupakan salah satu makanan khas yang cukup populer di Kerinci dan Sungai Penuh.
Masyarakat biasanya membuat kerupuk tersebut dari kulit sapi atau kulit kerbau yang diolah hingga menghasilkan tekstur renyah.
Selain menjadi camilan, masyarakat juga sering menyajikan kerupuk jangek sebagai pelengkap makanan tradisional.
Karena memiliki rasa gurih khas, produk tersebut cukup diminati oleh masyarakat lokal maupun wisatawan.
Banyak usaha rumahan di Kerinci menggantungkan pendapatan mereka dari produksi kerupuk jangek.
Karena itu, kenaikan biaya produksi menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan usaha kecil di daerah tersebut.
Pelaku UMKM Berharap Harga Kembali Stabil
Para pengrajin berharap harga plastik kemasan dan ongkos distribusi dapat kembali stabil dalam waktu dekat.
Mereka ingin menjaga usaha tetap berjalan tanpa harus mengurangi kualitas produk maupun menaikkan harga jual terlalu tinggi.
Selain itu, pelaku UMKM juga berharap pemerintah dapat membantu menjaga kestabilan harga bahan baku agar usaha kecil tidak semakin tertekan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku sangat berpengaruh terhadap usaha kecil di daerah.
Meski menghadapi tekanan biaya produksi, banyak pengrajin kerupuk jangek tetap berusaha mempertahankan usaha mereka agar bisa terus bertahan di tengah kondisi ekonomi yang berubah. (man)









