Harga BBM Non Subsidi Pertamina Naik Mulai 4 Mei 2026, Ini Rincian Lengkapnya

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 09:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

(Foto: CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Jakarta, Jemarionline.com – PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai Senin, 4 Mei 2026. Kenaikan ini langsung memengaruhi beberapa produk unggulan, terutama di segmen bensin beroktan tinggi dan diesel.

Pertamina menyesuaikan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex secara serentak di berbagai wilayah. Perusahaan tetap mempertahankan harga BBM subsidi dan beberapa produk lain agar daya beli masyarakat tidak tertekan.

Rincian Harga BBM Terbaru

Untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, berikut daftar harga terbaru:

  • Pertalite: Rp 10.000 per liter
  • Pertamax: Rp 12.300 per liter
  • Pertamax Turbo: Rp 19.900 per liter
  • Pertamax Green: Rp 12.900 per liter
  • Dexlite: Rp 26.000 per liter
  • Pertamina Dex: Rp 27.900 per liter
  • Bio Solar: Rp 6.800 per liter

Kenaikan paling terasa terjadi pada BBM diesel. Pertamina menaikkan Dexlite sebesar Rp 2.400 per liter. Harga Pertamina Dex bahkan melonjak Rp 4.000 per liter.

Untuk bensin, Pertamina hanya menyesuaikan Pertamax Turbo dengan kenaikan Rp 500 per liter.

Pertamina Tahan Harga BBM Subsidi

Di tengah kenaikan ini, Pertamina tetap menjaga harga Pertalite dan solar subsidi. Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  China Minta Kesepakatan Dagang Indonesia–AS Tidak Rugikan Negara Lain

Pertamina juga tidak mengubah harga Pertamax dan Pertamax Green. Keputusan ini memberi alternatif bagi masyarakat yang ingin tetap menggunakan BBM berkualitas tanpa harus beralih ke harga yang lebih tinggi.

Faktor Utama Kenaikan Harga

Pertamina mengambil keputusan ini dengan mempertimbangkan kondisi global. Harga minyak mentah dunia yang terus bergerak naik mendorong biaya produksi ikut meningkat.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ikut menambah tekanan. Kedua faktor ini membuat Pertamina perlu menyesuaikan harga agar tetap menjaga keseimbangan bisnis.

Perbandingan dengan SPBU Swasta

Kenaikan harga tidak hanya terjadi di Pertamina. Sejumlah SPBU swasta juga lebih dulu menaikkan harga BBM mereka.

Beberapa operator bahkan menjual BBM diesel dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi global memang sedang mengalami tekanan.

Dampak ke Masyarakat dan Sektor Usaha

Kenaikan harga BBM non subsidi berpotensi mendorong kenaikan biaya transportasi dan logistik. Pelaku usaha kemungkinan akan menyesuaikan harga barang untuk menutup biaya operasional.

Namun, keputusan mempertahankan BBM subsidi membantu menahan dampak langsung ke masyarakat luas.

Baca Juga :  Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar

Seorang pengamat energi menilai langkah ini cukup seimbang.

“Pertamina tetap menjaga stabilitas dengan menahan BBM subsidi, meskipun tekanan global meningkat,” ujarnya.

Perbedaan Harga Antar Wilayah

Harga BBM tidak selalu sama di seluruh Indonesia. Setiap daerah memiliki kebijakan pajak dan biaya distribusi yang berbeda.

Wilayah di luar Pulau Jawa biasanya mencatat harga yang sedikit lebih tinggi. Meski begitu, selisih harga masih berada dalam batas yang wajar.

Respons Pengguna BBM

Sebagian masyarakat mulai menyesuaikan pola konsumsi setelah kenaikan ini. Banyak pengguna kendaraan pribadi mempertimbangkan BBM dengan harga lebih terjangkau.

“Kalau selisihnya makin jauh, saya mungkin kembali ke Pertamax biasa,” kata seorang pengendara.

Sementara itu, pengguna kendaraan diesel mengaku lebih terbebani karena kenaikan yang cukup besar.

Kesimpulan

Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi sebagai respons terhadap tekanan global. Perusahaan tetap menjaga keseimbangan dengan menahan harga BBM subsidi.

Ke depan, pergerakan harga BBM akan sangat bergantung pada kondisi pasar minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Masyarakat perlu menyesuaikan strategi konsumsi energi agar tetap efisien.

Berita Terkait

Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Lampaui Rata-rata G20 dan ASEAN
Diskon Tarif 30 Persen Liburan Sekolah Resmi Dimulai, Cek Daftar Lengkapnya
Rupiah Melemah ke Rp17.804 per Dolar AS Usai Kenaikan BI-Rate, Ini Penyebabnya
Ekspor Kopi Indonesia Tembus Rp66 Miliar di World of Coffee Bangkok 2026
Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia
AEI: Ulasan MSCI Jadi Momentum Perkuat Pasar Modal Indonesia di Mata Investor Global
Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Batal Naik, Tetap Rp15.700 per Liter
BI Rate Naik Dua Kali pada Juni 2026, Rupiah Jadi Prioritas Utama
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:59 WIB

Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Lampaui Rata-rata G20 dan ASEAN

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:00 WIB

Diskon Tarif 30 Persen Liburan Sekolah Resmi Dimulai, Cek Daftar Lengkapnya

Jumat, 19 Juni 2026 - 23:59 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.804 per Dolar AS Usai Kenaikan BI-Rate, Ini Penyebabnya

Jumat, 19 Juni 2026 - 18:00 WIB

Ekspor Kopi Indonesia Tembus Rp66 Miliar di World of Coffee Bangkok 2026

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:20 WIB

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia

Berita Terbaru