Selat Hormuz Gonjang-ganjing, Kenapa Harga Plastik Makin Mahal?

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 11 April 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perusahaan yang memproduksi bahan baku plastik dan biji plastik, mengungkapkan nafta merupakan cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah. (FOTO:CNN Indonesia/Farid).

Perusahaan yang memproduksi bahan baku plastik dan biji plastik, mengungkapkan nafta merupakan cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah. (FOTO:CNN Indonesia/Farid).

Jemarionline – Gejolak di kawasan Selat Hormuz berdampak luas ke berbagai sektor, termasuk harga plastik yang kini terus mengalami kenaikan. Kondisi ini dipicu oleh gangguan distribusi bahan baku utama plastik yang berasal dari industri minyak dan petrokimia.

Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi dunia. Ketika kawasan ini terganggu akibat konflik geopolitik, distribusi minyak mentah dan turunannya ikut terhambat. Dampaknya langsung terasa pada pasokan nafta, bahan baku utama pembuatan plastik.

Nafta sendiri merupakan hasil olahan minyak bumi yang menjadi bahan dasar produksi berbagai jenis plastik, seperti polietilen dan polipropilen. Ketika pasokan nafta terganggu, harga bahan baku naik dan mendorong kenaikan biaya produksi plastik secara global.

Baca Juga :  Iran Wajibkan Kapal Minta Izin Militer untuk Melintasi Selat Hormuz

Selain pasokan yang terganggu, konflik di Timur Tengah juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Karena plastik sangat bergantung pada minyak bumi, kenaikan harga energi otomatis ikut mendorong harga plastik menjadi lebih mahal.

Dampak dari kondisi ini mulai dirasakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Harga plastik dilaporkan mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai puluhan persen. Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik.

Kenaikan harga plastik juga memicu efek berantai. Biaya produksi barang meningkat, terutama pada sektor makanan, minuman, dan produk kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, harga jual ke konsumen ikut terdorong naik.

Baca Juga :  Israel Serang Iran Lagi, Dua Anggota Militer Iran Tewas

Selain faktor bahan baku, gangguan logistik juga menjadi penyebab. Rute distribusi yang terganggu membuat pengiriman bahan baku menjadi lebih lama dan mahal. Kondisi ini semakin menekan rantai pasok global.

Selama ketegangan di kawasan Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap harga plastik diperkirakan masih akan berlangsung. Banyak pelaku industri kini mulai mencari alternatif bahan atau sumber pasokan baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap wilayah tersebut.

Berita Terkait

Kementerian ESDM Setujui 664 RKAB Tambang Minerba hingga Juni 2026
Asing Kembali Borong Saham RI, Net Buy Rp492 Miliar di 10 Emiten Pilihan
Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar
Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027
Media Asing Soroti Kenaikan Mendadak BI Rate, Investor Asing Langsung Dihubungi Bank Indonesia
Family Office Berpotensi Bawa Ratusan Miliar Dolar AS ke Indonesia
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 09:00 WIB

Kementerian ESDM Setujui 664 RKAB Tambang Minerba hingga Juni 2026

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:00 WIB

Asing Kembali Borong Saham RI, Net Buy Rp492 Miliar di 10 Emiten Pilihan

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Ambruk 4%, Nyaris Jebol Level US$ 4.000 di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:00 WIB

Bahlil Buka Suara soal Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sebut Ikuti Harga Pasar

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:00 WIB

Rupiah Menguat Mulai Juli, Purbaya Targetkan Stabil Rp16.800 per Dolar AS pada 2027

Berita Terbaru