WASHINGTON – Utang pemerintah Amerika Serikat kembali melonjak dan kini menembus lebih dari USD 38 triliun. Jika dikonversi dengan kurs Rp16.700 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp635.572 triliun.
Kenaikan ini terjadi dalam waktu relatif singkat. Dalam satu tahun terakhir, utang AS bertambah lebih dari USD 2 triliun. Angka tersebut menunjukkan tekanan fiskal yang masih tinggi di tengah perlambatan ekonomi global.
Defisit anggaran federal juga membesar. Dari sekitar USD 1,4 triliun pada 2022, defisit meningkat menjadi sekitar USD 1,8 triliun pada tahun berikutnya. Kondisi ini membuat kebutuhan pembiayaan pemerintah terus meningkat.
IMF Soroti Rasio Utang terhadap PDB
Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan peringatan serius atas perkembangan tersebut. Lembaga itu memperkirakan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) AS bisa mencapai 140 persen pada 2031 jika tidak ada perubahan kebijakan.
Menurut IMF, rasio utang yang terlalu tinggi dapat mempersempit ruang gerak fiskal pemerintah. Artinya, pemerintah akan memiliki fleksibilitas yang lebih kecil saat menghadapi krisis ekonomi di masa depan.
IMF juga menekankan pentingnya langkah konsolidasi fiskal secara bertahap. Upaya itu bisa dilakukan melalui pengendalian belanja dan peningkatan penerimaan negara.
Beban Bunga Kian Berat
Selain nilai pokok utang yang besar, biaya bunga juga terus meningkat. Kenaikan suku bunga dalam beberapa tahun terakhir membuat beban pembayaran utang semakin tinggi.
Jika tren ini berlanjut, sebagian besar anggaran negara akan terserap untuk membayar bunga. Dampaknya, alokasi untuk program pembangunan dan perlindungan sosial bisa tertekan.
Dampak ke Ekonomi Global
Sebagai ekonomi terbesar di dunia, kondisi fiskal Amerika Serikat memiliki dampak luas. Gejolak di AS dapat memengaruhi pasar keuangan global, nilai tukar, hingga arus investasi internasional.
IMF menilai stabilitas fiskal AS sangat penting bagi perekonomian dunia. Karena itu, koordinasi kebijakan ekonomi antarnegara dinilai semakin mendesak.
Lonjakan utang AS bukan hanya persoalan domestik. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, dampaknya bisa menjalar ke berbagai negara, terutama yang rentan terhadap tekanan pasar keuangan global.









