Trump Kesal Harga BBM Tak Turun, Minta DOJ Selidiki Perusahaan Minyak

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan minyak besar setelah harga tak kunjung turun.(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan minyak besar setelah harga tak kunjung turun.(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Jakarta, Jemarionline.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluapkan kekesalannya karena harga bahan bakar minyak (BBM) di negaranya belum turun secara signifikan meski ketegangan geopolitik dan konflik yang memengaruhi pasar minyak dunia mulai mereda. Trump menilai perusahaan minyak tidak menurunkan harga di tingkat konsumen secepat penurunan harga minyak mentah.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa harga bensin seharusnya turun lebih cepat. Bahkan, ia meminta Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) untuk menyelidiki dugaan praktik pengambilan keuntungan berlebihan atau price gouging oleh perusahaan energi.

Trump Soroti Lambatnya Penurunan Harga BBM

Trump menyoroti perbedaan antara penurunan harga minyak mentah dan harga BBM di SPBU. Menurutnya, harga minyak mentah telah turun cukup tajam setelah membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran serta kembali beroperasinya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, harga bensin tidak mengikuti penurunan tersebut secara sebanding.

Ia menilai kondisi tersebut merugikan konsumen karena masyarakat tetap harus membayar harga BBM yang relatif tinggi meskipun biaya bahan baku sudah menurun.

Baca Juga :  Presiden Indonesia Umumkan Kebijakan Fiskal 2026 untuk Memperkuat Ekonomi Nasional

DOJ Diminta Selidiki Dugaan Price Gouging

Trump secara langsung meminta DOJ melakukan penyelidikan terhadap perusahaan minyak besar. Ia menduga perusahaan-perusahaan tersebut mempertahankan harga tinggi di tingkat konsumen meski biaya minyak mentah yang mereka beli terus turun.

Langkah tersebut menunjukkan tekanan politik yang semakin besar menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Harga BBM masih menjadi salah satu isu ekonomi yang paling diperhatikan masyarakat.

Harga Minyak Turun, Harga BBM Belum Mengikuti

Data pasar menunjukkan harga minyak mentah Amerika Serikat telah turun sekitar 40 persen dari puncaknya pada Maret 2026. Penurunan itu terjadi setelah membaiknya situasi geopolitik dan pulihnya arus distribusi energi global.

Meski demikian, harga bensin rata-rata nasional hanya turun sekitar 14 persen dari puncaknya pada Mei 2026. Perbedaan tersebut menjadi alasan utama di balik kritik Trump terhadap industri minyak.

Baca Juga :  Trump Ancam Netanyahu Lewat Istrinya untuk Cegah Serangan Israel ke Beirut

Pakar Sebut Penurunan Harga Tidak Bisa Instan

Sejumlah analis energi menjelaskan bahwa harga BBM tidak selalu turun secepat harga minyak mentah. Mereka menyebut perusahaan harus menjual stok bahan bakar yang diproduksi saat harga minyak masih tinggi sebelum menyesuaikan harga baru.

Selain itu, biaya distribusi, kapasitas kilang, permintaan musiman, dan rantai pasok juga memengaruhi harga di tingkat konsumen. Karena itu, penurunan harga BBM biasanya berlangsung lebih lambat dibandingkan penurunan harga minyak mentah.

Harga BBM Masih Jadi Isu Politik

Kenaikan harga energi menjadi salah satu isu ekonomi yang sensitif di Amerika Serikat. Banyak warga masih mengeluhkan tingginya biaya hidup sehingga harga BBM terus menjadi perhatian publik.

Karena itu, Trump terus menekan perusahaan energi agar segera menurunkan harga. Ia berharap masyarakat dapat merasakan dampak positif dari turunnya harga minyak dunia dalam waktu yang lebih cepat.

Berita Terkait

Paket Stimulus Ekonomi Rp 26,34 Triliun Resmi Diluncurkan, Ini Rincian Lengkapnya
Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Pindah ke Vietnam, Ribuan Buruh RI Terancam PHK
Lonjakan BI Rate 100 Basis Poin Ancam Kredit Macet, Kelas Menengah Paling Rentan
Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Lampaui Rata-rata G20 dan ASEAN
Diskon Tarif 30 Persen Liburan Sekolah Resmi Dimulai, Cek Daftar Lengkapnya
Rupiah Melemah ke Rp17.804 per Dolar AS Usai Kenaikan BI-Rate, Ini Penyebabnya
Ekspor Kopi Indonesia Tembus Rp66 Miliar di World of Coffee Bangkok 2026
Harga Emas Antam Turun Rp30.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru Logam Mulia
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:00 WIB

Trump Kesal Harga BBM Tak Turun, Minta DOJ Selidiki Perusahaan Minyak

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:00 WIB

Paket Stimulus Ekonomi Rp 26,34 Triliun Resmi Diluncurkan, Ini Rincian Lengkapnya

Senin, 22 Juni 2026 - 14:00 WIB

Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Pindah ke Vietnam, Ribuan Buruh RI Terancam PHK

Senin, 22 Juni 2026 - 13:00 WIB

Lonjakan BI Rate 100 Basis Poin Ancam Kredit Macet, Kelas Menengah Paling Rentan

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:59 WIB

Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Lampaui Rata-rata G20 dan ASEAN

Berita Terbaru

New Vario Evo 160(Foto: kompas.com/adityo)

OTOMOTIF

Honda Vario 160 Evo Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp28,5 Juta

Kamis, 25 Jun 2026 - 12:00 WIB