Jakarta, Jemarionline.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluapkan kekesalannya karena harga bahan bakar minyak (BBM) di negaranya belum turun secara signifikan meski ketegangan geopolitik dan konflik yang memengaruhi pasar minyak dunia mulai mereda. Trump menilai perusahaan minyak tidak menurunkan harga di tingkat konsumen secepat penurunan harga minyak mentah.
Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa harga bensin seharusnya turun lebih cepat. Bahkan, ia meminta Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) untuk menyelidiki dugaan praktik pengambilan keuntungan berlebihan atau price gouging oleh perusahaan energi.
Trump Soroti Lambatnya Penurunan Harga BBM
Trump menyoroti perbedaan antara penurunan harga minyak mentah dan harga BBM di SPBU. Menurutnya, harga minyak mentah telah turun cukup tajam setelah membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran serta kembali beroperasinya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, harga bensin tidak mengikuti penurunan tersebut secara sebanding.
Ia menilai kondisi tersebut merugikan konsumen karena masyarakat tetap harus membayar harga BBM yang relatif tinggi meskipun biaya bahan baku sudah menurun.
DOJ Diminta Selidiki Dugaan Price Gouging
Trump secara langsung meminta DOJ melakukan penyelidikan terhadap perusahaan minyak besar. Ia menduga perusahaan-perusahaan tersebut mempertahankan harga tinggi di tingkat konsumen meski biaya minyak mentah yang mereka beli terus turun.
Langkah tersebut menunjukkan tekanan politik yang semakin besar menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Harga BBM masih menjadi salah satu isu ekonomi yang paling diperhatikan masyarakat.
Harga Minyak Turun, Harga BBM Belum Mengikuti
Data pasar menunjukkan harga minyak mentah Amerika Serikat telah turun sekitar 40 persen dari puncaknya pada Maret 2026. Penurunan itu terjadi setelah membaiknya situasi geopolitik dan pulihnya arus distribusi energi global.
Meski demikian, harga bensin rata-rata nasional hanya turun sekitar 14 persen dari puncaknya pada Mei 2026. Perbedaan tersebut menjadi alasan utama di balik kritik Trump terhadap industri minyak.
Pakar Sebut Penurunan Harga Tidak Bisa Instan
Sejumlah analis energi menjelaskan bahwa harga BBM tidak selalu turun secepat harga minyak mentah. Mereka menyebut perusahaan harus menjual stok bahan bakar yang diproduksi saat harga minyak masih tinggi sebelum menyesuaikan harga baru.
Selain itu, biaya distribusi, kapasitas kilang, permintaan musiman, dan rantai pasok juga memengaruhi harga di tingkat konsumen. Karena itu, penurunan harga BBM biasanya berlangsung lebih lambat dibandingkan penurunan harga minyak mentah.
Harga BBM Masih Jadi Isu Politik
Kenaikan harga energi menjadi salah satu isu ekonomi yang sensitif di Amerika Serikat. Banyak warga masih mengeluhkan tingginya biaya hidup sehingga harga BBM terus menjadi perhatian publik.
Karena itu, Trump terus menekan perusahaan energi agar segera menurunkan harga. Ia berharap masyarakat dapat merasakan dampak positif dari turunnya harga minyak dunia dalam waktu yang lebih cepat.









