UC San Diego dan Google Ubah Smartphone Bekas Jadi Server Hemat Biaya

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi HP Android Google Pixel dan iPhone.( poto : kompas.com )

Ilustrasi HP Android Google Pixel dan iPhone.( poto : kompas.com )

Jakarta, jemarionline.com – Peneliti dari University of California San Diego bekerja sama dengan Google mengubah smartphone bekas menjadi server hemat biaya.

Mereka memanfaatkan perangkat lama yang sudah tidak terpakai untuk membangun sistem komputasi terdistribusi.

Proyek ini fokus pada efisiensi energi dan pemanfaatan ulang perangkat elektronik. Tim riset ingin mengurangi limbah elektronik sekaligus menekan kebutuhan infrastruktur data center konvensional.

Google Research menilai setiap smartphone membawa jejak karbon dari proses produksinya. Tim peneliti kemudian mendorong penggunaan ulang perangkat sebagai strategi untuk memperpanjang umur pakai teknologi.

Pendekatan ini membantu mengurangi kebutuhan produksi perangkat baru yang membutuhkan sumber daya besar. Selain itu, langkah ini juga mendukung konsep komputasi berkelanjutan.

Peneliti menggunakan SPEC benchmark untuk mengukur performa perangkat.

Smartphone berusia sekitar tiga tahun menunjukkan performa single-core yang cukup tinggi. Dalam beberapa pengujian, performa tersebut bahkan melampaui sejumlah prosesor server kelas data center.

Meski begitu, server tetap unggul dalam beban kerja besar dan komputasi kompleks karena memiliki sumber daya jauh lebih besar.

Baca Juga :  HP Penuh Tapi Aplikasi Tak Bisa Dihapus? Ini Cara Atasinya

Perbandingan dengan Server Modern

Tim peneliti membandingkan smartphone dengan server seperti Asus RS720A-E11 yang menggunakan GPU Nvidia H200 atau RTX Pro 6000. Mereka juga memasukkan sistem berbasis AMD EPYC dalam pengujian.

Hasilnya menunjukkan bahwa server tetap mendominasi performa keseluruhan. Namun, smartphone lama masih mampu menangani tugas tertentu dengan cukup efisien ketika tim mengoptimalkan sistemnya.

Tim peneliti membongkar smartphone dan menghapus komponen yang tidak diperlukan. Mereka melepas layar, kamera, speaker, baterai, dan rangka perangkat.

Mereka mempertahankan motherboard yang berisi system-on-chip (SoC) sebagai inti komputasi. Setelah itu, mereka mengganti sistem operasi Android dengan Linux agar perangkat bisa menjalankan fungsi server.

Peneliti menjalankan Kubernetes untuk mengelola klaster smartphone.

Sistem ini membantu perangkat bekerja secara terkoordinasi sebagai satu kesatuan server. Kubernetes juga membagi beban kerja secara otomatis agar setiap perangkat berfungsi optimal.

Baca Juga :  7 Aplikasi Pembaca PDF Android Terbaik 2026, Ringan dan Praktis

Efisiensi Komputasi untuk Pendidikan

Hasil uji menunjukkan 25 hingga 50 smartphone dapat menghasilkan daya komputasi setara satu prosesor server dual-socket. Sementara itu, 20 smartphone mampu menjalankan aplikasi pembelajaran untuk lebih dari 75 mahasiswa.

Pendekatan ini membantu kampus mengurangi ketergantungan pada layanan cloud berbayar. Kampus juga dapat menekan biaya operasional komputasi secara signifikan.

UC San Diego merencanakan sistem yang menggunakan hingga 2.000 smartphone bekas. Sistem ini akan mendukung ratusan kelas dalam satu infrastruktur komputasi terpusat.

Jika berhasil, model ini dapat menjadi alternatif data center murah untuk institusi pendidikan dan laboratorium riset.

Meski menarik, sistem ini belum cocok untuk operator hyperscale seperti Google atau Microsoft. Data center besar membutuhkan keandalan tinggi, efisiensi maksimal, dan manajemen perangkat yang lebih sederhana.

Namun, pendekatan ini tetap relevan untuk kampus, laboratorium, dan organisasi kecil yang membutuhkan komputasi murah dan fleksibel.(ar)

Berita Terkait

Celah Keamanan BootROM Usbliter8 Ancam iPhone XR dan iPhone 11, Tak Bisa Ditambal Pembaruan iOS
Pengguna Android Wajib Hapus Aplikasi Ini, M-Banking Bisa Jadi Sasaran Malware
Samsung Galaxy A57 5G Layak Dibeli? Ini 5 Alasan Utamanya
PS5 vs Nintendo Switch 2, Perang Konsol Makin Memanas pada 2026
Laptop untuk Programmer: Spesifikasi yang Wajib Diperhatikan Sebelum Membeli
Xiaomi Pad 9 Siap Meluncur dengan Baterai Jumbo
POCO X8 Pro Yellow Resmi di Indonesia, Usung Desain Baru dan Performa Gahar
WhatsApp Plus Hadir di Indonesia: Fitur Pin 20 Chat dan Biaya Rp13.900 per Bulan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:20 WIB

Celah Keamanan BootROM Usbliter8 Ancam iPhone XR dan iPhone 11, Tak Bisa Ditambal Pembaruan iOS

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:00 WIB

Pengguna Android Wajib Hapus Aplikasi Ini, M-Banking Bisa Jadi Sasaran Malware

Rabu, 24 Juni 2026 - 06:00 WIB

Samsung Galaxy A57 5G Layak Dibeli? Ini 5 Alasan Utamanya

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:00 WIB

PS5 vs Nintendo Switch 2, Perang Konsol Makin Memanas pada 2026

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:00 WIB

Laptop untuk Programmer: Spesifikasi yang Wajib Diperhatikan Sebelum Membeli

Berita Terbaru